Yang Perlu Dilakukan Mahasiswa Agar Bisa Presentasi dengan Terhormat

Bagi mahasiswa, kemampuan menyampaikan gagasan (baik lisan maupun tulisan) mutlak diperlukan. Sebab, mahasiswa adalah mayarakat akademik. Sebagai masyarakat akademik mahasiswa harus terbiasa menjadi penyaji dan penikmat gagasan di berbagai forum akademik.

Untuk melatih itu, banyak dosen meminta mahasiswa berlatih presentasi di kelas. Kesempatan ini mestinya dimanfaatkan mahasiswa supaya semakin cakap berbicara. Keterampilan berbicara di depan publik sangat diperlukan. Syukur bisa menjadi raja panggung seperti pembicara dalam panggung TEDx itu.

Tetapi, pengalaman pribadi selama mengajar di sejumlah kelas, performa mahasiswa belum cukup baik. Memang ada beberapa mahasiswa yang jos gandos sehingga “memaksa” saya memberikan standing applous . Tetapi tidak sedikit juga mahasiswa yang melakukan kesalahan mendasar sehingga performanya tidak meyakinkan.

Lalu, bagaimana mestinya, supaya mahasiswa bisa meningkatkan kecakapan presentasi di depan kelas?

Persiapan

Berkeringat di medan latihan lebih baik daripada mati di medan perang.  Di forum kecil seperti kelas sekalipun, seorang pembicara perlu mempersiapkan diri. Minimal ada tiga hal yang harus dipersiapkan:  menguasai materi, memahami karakter dan perilaku calon audience, dan menggunakan media yang memadai.

Persiapan materi jelas diperlukan supaya Anda – mahasiswa- memiliki sesuatu yang disampaikan. Pemahaman terhadap karakter pendengar Anda perlukan supaya Anda bisa membawakan materi dengan relevan. Adapun media diperlukan sebagai alat bantu agar isi gagasan terhantarkan dengan baik.

Mengakrabi Pendengar

Salah satu bentuk kegagalan mahasiswa yang presentasi adalah asyik dengan dirinya sendiri. Bukannya mengomunikasikan gagasan kepada pendengar, mereka kadang asyik dengan laptop, power point, atau catatannya. Padahal, presentasi mutlak memerlukan keterhubungan.

Maka, cobalah mengakrabi pendengar Anda. Gunakan waktu beberapa detik untuk memastikan bahwa Anda terhubung dengan mereka.

Strategi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya: menyapa pendengar. Pastikan bahwa jawaban atas sapaan itu menunjukkan antusiasime. Jika belum, siapkan jurus khusus agar pendengar fokus kepada Anda.

Konteks!

Sebelum bicara lebih lanjut, cobalah dudukkan konteks presentasi Anda. Konteks bisa dibangun dengan membuat penjelasan awal kenapa Anda bicara topik itu, apa pentingnya bagi pendengar, dan manfaat apa yang bisa diraih bersama.

Konteks diperlukan supaya sebuah topik (yang mikro), jelas keududukannya dalam tema (yang makro). Membangun konteks ibarat membangun pondasi yang membuat “bangunan argumentasi” pada tahap berikutnya berdiri kokoh.

Analisis

Salah satu “kesalahan” mahasiswa saat presentasi adalah sekadar mengungkapkan kembali gagasan-gagasan orang lain atau data-data yang ditemukan di lapangan. Padahal, dalam banyak hal, yang jauh diperlukan adalah daya analisis.

Dengan analisis, Anda menunjukan hubungan dan relevansi satu hal dengan hal lain.   Di situ terdapat sentuhan personal sesuai dengan sikap intelektual (intelectual standing) Anda.

Anda adalah Bintangnya

Anda boleh menggunakan power point. Tetapi media itu sebaiknya hanya jadi alat bantu. Jagalah agar perhatian pendengar tetap terfokus pada Anda.

Power Point sebaiknya dugunakan sebagai penunjang penjelasan-penjelasan Anda. Power Point (visual) melengkapipenjelasan Anda yang auditoris.

Kejutan

Drama yang baik memiliki irama. Kadang naik kadang turun. Kadang konflik memanas, kadang hangat, kadang mendingin.

Untuk membuat presentasi menarik, sebaiknya juga diatur demikian. Pastikan ada kejutan-kejutan pada tiap gagasan. Lebih bagus lagi kalau ada kejutan final di akhir.

Humor

Jika memungkinkan, gunakan humor yang relevan. Ini akan membuat pendengar lebih rileks. Dan Anda sebegai pembicara memperoleh perhatian yang layak.

Sebut Nama

Jangan gunakan “Masnya” atau “Mbaknya” saat menyapa pendengar. Sebisa mungkin, sebutlah nama. Ini akan membuat Anda semakin akrab dan intim dengan pendengar.

Bandingkan: “Pertanyaan dari Mbaknya bagaimana tadi?” dengan “Terima kasih atas pertanyaan  Anda, Mba Alifia.”

Jawaban

Jika ada pendengar yang bertanya, tolong jangan minta izin untuk browsing dulu. Please deh! Berikan jawaban sesuai perspektif Anda. Ungkapkan kembali hal-hal penting yang harus ditekankan untuk menjawab pertanyaan ini, tambahkan dengan persepektif pribadi.

Bahwa jawaban Anda mungkin tidak seratus persen tepat, itu bisa dimaklumi. Itu jauh lebih terhormat daripada “Maaf, minta waktunya untuk diskusi sebentar”.

Rendah Hati

Jagalah hubungan dengan pendengar sebagai mitra diskusi, bukan jamaah yang perlu diceramahi. Kalau ada argumentasi pihak lain yang lebih maksud akal, akui saja. Berikan apresiasi kepada orang yang memberikan argumentasi itu.

Jangan lupa: sampaikan terima kasih dengan pelan dan tenang.

Sumber gambar: pedidikanindonesia.com

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.