Yang Kompleks dan Sederhana dalam Bahasa Agama

Ada tiga hal yang membuat bahasa agama kompleks. Pertama, bahasa agama adalah bahasa kitab suci, yang oleh pemeluk agama itu dipercaya bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu, dalam bahasa agama terdapat aneka simbol-simbol keilahian yang tidak selalu bisa diuraikan dengan sistem bahasa manusia.

Kedua, bahasa agama sangat mungkin memuat simbol-simbol kultural yang bersumber pada tradisi dan nilai masyarakat tempat agama itu diturunkan. Untuk memahami bahasa agama, teks agama tidak dapat diisolasi dengan simbol-simbol kulturalnya.

Ketiga, kitab suci diturunkan dalam bahasa tertentu. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa lain, ada kemungkinkan reduksi, simplifikasi, bahkan distorsi. Pasalnya, ungkapan dalam satu bahasa tidak selalu dapat diemukan dalam bahasa lain dengan sama persis nilai maknanya.

Apakah dengan demikian bahasa agama hanya bisa dijangkau oleh cendekiawan bahasa dan para ahli hermeneutika?

Untuk menemukan pesan terdalam ayat dalam kitab suci, mufassir harus memiliki semua itu: ada nahwu, syaraf, mantiq, balaghah, bayan, maani, dan kaidah-kaidah tafsir lain. Tetapi yang tak kalah penting, mufassir harus memiliki niat yang suci.

Tanpa niat suci, makna bahasa agama konon rawan ditunggangi kepentingan. Akibatnya, agama tidak dijadikan sebagai sumber kebenaran dan kebaikan. Bisa jadi, tafsir dipolitiasi untuk kepentingan sendiri.

Demikian pembacaaan saya terhadap buku bagu berjudul Memahami Bahasa Agama karya Prof Komarudin Hidayat.

Buku ini penting dipelajari, agar setidak-tidaknya, kita bisa memahami mengapa ada orang yang merasa benar merazia warung yang buka pada bulan Ramadan atau tindakan lain yang menunjukkan arogansi tafsiran.

Rahmat Petuguran

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.