Woteve, Kelompok Grafiti SMA 7 Semarang

Sekali Order Rp  2 Juta, Kritik Pemerintah Abai Lingkungan

Banyak cerita miris tentang dunia remaja. Tawur, kebut-kebutan, hingga narkoba bahkan mulai identik dengan mereka. Tapi bagi Fatoni Kurniawan, Satrio Sudibyo, dan Tomy Ari Wibowo, yang terhimpun dalam kelompok Woteve, cara itu sudah basi untuk mengekspresikan diri. Mereka lebih suka mencurahkan hobinya membuat grafiti. Selain senang, keuntungan pun bisa diraup. Hmm, seperti apa?

Mereka memang telah merasakan hobi membuat grafiti membawa manfaat ganda. Pertama, hobi corat-coret bisa tersalurkan. Mereka tidak perlu lagi curi-curi tembok di sekolah atau fasilitas umum. Kedua, dari hobi itu mereka bisa memperoleh tambahan uang saku. Sekali order nilainya bisa sampai Rp 2 juta.

Woteve pertama kali terbentuk ketika mengerjakan mading 3 dimensi untuk lomba Pesta pelajar. Persis malam satu suro saat warga berharap keberuntungan dengan menggelar upacara kungkum. Kebetulan rumah Fatoni di Talangbarat 1 Sampangan memang tidak jauh dari Tugu Suharto.

“Waktu itu belum ada namanya. Si Tomy bilang, Whatever aja lah. Nah, akhirnya kami sepakat menemakan diri dengan Whatever,” lanjut Toni. Namun, nama itu agak sulit diucapkan sehingga dimodifikasi menjadi Woteve.

Sejak saat itu Woteve mulai dikenal. Order dari beberapa kenalan pun mulai masuk. Sebulan terakhir setidaknya sudah ada 5 karya yang mereka buat. Memang, tidak semua karya itu dikomersilkan. Beberapa di antaranya sengaja dibuat karena tangan mereka “gatel” melihat tembok nganggur.

“Kita tidak murni bisnis kok. Sambilan saja,” kata Tomy. Bulan ini pun mereka sudah menerima 6 permintaan membuat grafiti. Namun karena ketiga siswa SMA Negeri 7 Semarang ini sedang sibuk try out ujian nasional belum bisa dilayani.

Order yang mereka biasnya berkisar antara Rp 1,5 sampai Rp 2 juta. Harga disesuaikan dengan luas tembok yang dilukis dan warna yang digunakan. Semakin banyak warna, tentu saja semakin mahal. Meski begitu mereka mengaku tidak terlalu pelit memperhitungkan harga. “Kami tidak murni bisnis,” katanya sekali lagi. Kalau ada teman-teman yang minta bantuanpun kami tidak masalah. Asal pilok dan catnya siap,” kata Toni.

Woteve mengatur tugas sesuai keterampilan. Satrio didapuk sebagai konseptor. Ia bertugas membuat sket dengan kapur sebelum pekerjaan mengecat dimulai. Fatoni dapat tugas pada pewarnaan. Sket-sket yang telah dibuat ia warnai sesuai konsep yang telah disepakati. Sedangkan Tomy diminta untuk finishing. “Kalau ada yang kurang rapi atau tidak sesuai konsep saya yang rapikan,” katanya.

Toni, Tomy, dan Satrio mengaku sering harus lembur saat mengerjakan grafiti. Beberapa kali mereka melek sampai pagi. “Jam enam saya pulang, ganti baju, langsung berangkat sekolah,” kata Tomy. Meski begitu, mereka tetap merasa enjoy. “Kami senang. Bangga,” lanjutnya. Karena itu, mereka selalu mengabdikan karya-karya mereka denga foto.

Tomy mengaku keterampilannya diperoleh secara otodidak. Saat itu ia melihat rekannya Satrio sedang asyik menggambar efek tiga dimensi pada selembar kertas. Ia tertarik karena gambar itu khas. Sejak saat itu ia mulai mencoba membuat sendiri. “Saya paling senang melukis tokoh. Karikatur saya juga suka,” kata Tomy sambil menunjukkan sket wajah gadis berambut pendek yang diakui sebagai mantan pacarnya.

Menurut Tomy, meski secara teknis grafiti dan mural hampir sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Mural, tuturnya, lebih menonjolkan pesan, sementara grafiti lebih menekankan keindahan. Meski demikian, kedua media itu sama-sama bisa digunakan untuk menyampaikan pesan.

Woteve punya perhatian besar persoalan lingkungan. Karena itu, mural mereka sering bernada kritik lingkungan.  Mereka mengkritik pemerintah yang acuh, juga masyarakat yang tidak disiplin. “Kami sering lihat sungai kotor, sampah berserakan. Pemerintah seperti tidak peduli, sedangkan masyarakatnya juga jorok,” kata Fatoni lagi.

Kepedulian itu pula yang membuat mereka rela naik sepeda setiap kali nge-bom. “Saya dan Satrio naik sepeda. Tapi karena Tomy bawa alat, berat, jadi naik motor,” katanya. Tomy sebenarnya punya sepeda seharga Rp 450 ribu yang dibeli dari Cepiring, Kendal. Ketika beli sepeda itu beberapa bulan lalu ia bahkan mengontelnya dari Cepring hingga rumahnya di Saptamarga. “Sekitar satu setengah sampai dua jam,” katanya.

Waka kesiswaan SMA 7 Semarang Neti Tri Lestari mengaku bangga dengan anak-anak didiknya itu. Karena itu, pihaknya akan berusaha mengarahkan supaya karir mereka bisa berkembang. “Kalau ada event seni rupa mereka saya kirimkan. Sekolah juga menyediakan dinding di dekat kantin supaya dilukis membentuk cerita,” katanya.

“Anak-anak kan punya bakat masing-masing. Kami berusaha membaca itu sejak masa orientasi siswa supaya bisa diarahkan. Jangan memaksakan bidang yang tidak digemari pada anak, akan sulit,” tambahnya.

 

2 Comments

  1. pras

    August 16, 2016 at 3:08 am

    basecamp dimana msbro

  2. gunawan halim

    November 10, 2016 at 6:34 am

    PIC grafiti yg bisa saya hubungi siapa ya ? Nomor HP ? Thanks

Leave a Reply

Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.