Wisuda Daring di Tengah Pandemi Covid-19

Semarang – Kasus pandemi Covid-19 di Indonesia masih mengalami peningkatan, untuk itu berbagai kegiatan yang menghimpun banyak orang masih belum bisa dilakukan. Begitu pula kegiatan wisuda, wisuda menjadi momen istimewa bagi setiap mahasiswa. Perayaan wisuda sangat ditunggu oleh mahasiswa yang telah lulus, akan tetapi dengan adanya pandemi Covid-19 Mahasiswa lulusan 2020 harus rela melaksanakan wisuda secara daring.

Universitas Negeri Semarang (UNNES) merupakan salah satu universitas yang menyelenggarakan wisuda secara daring. Upacara wisuda daring UNNES ke-102 dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 16 Juni 2020. Seluruh wisudawan UNNES melaksanakan upacara wisuda dari rumah mereka masing-masing.

Pragas mahasiswa Psikologi angkatan 2014 yang menjadi salah satu wisudawan UNNES ke-102 mengungkapkan rasa kecewa karena harus melaksanakan wisuda secara daring. Menurutnya, wisuda daring mudah terlupakan karena dianggap mengurangi euforia dan kesakralan upacara wisuda.

“Rasanya ya aneh aja. Euforia dan rasa sakral upacara wisudanya seperti tidak terasa. Mudah terlupakan begitu saja,” ungkap Pragas salah satu wisudawan UNNES ke-102, Kamis (18/6/2020).

Wisuda daring UNNES dilaksanakan menggunakan aplikasi zoom. Sebelum pelaksanaan wisuda calon wisudawan diwajibkan untuk mengunduh aplikasi zoom di laptop atau di ponsel. Peserta wisuda daring tetap diwajibkan memakai toga beserta kelengkapannya. Panitia wisuda daring akan mengirimkan toga beserta kelengkapannya ke rumah masing-masing calon wisudawan. Gladi bersih wisuda daring UNNES dilaksanakan pada hari Senin, 15 Juni 2020 pukul 13.00 WIB. Gladi bersih dilaksanakan supaya pelaksanaan wisuda daring dapat berjalan lancar.

Pelaksanaan wisuda daring UNNES diperkirakan berdurasi 1 jam 20 menit, oleh karena itu calon wisudawan dianjurkan menyiapkan paket data yang cukup dan baterai laptop atau ponsel penuh serta menyiapkan charger. Upacara wisuda UNNES ke-102 diikuti Pragas dari rumahnya di Tegal dengan didampingi oleh kedua orang tuanya.

“Alhamdulillah kedua orang tua saya,” jelas Pragas ketika ditanya soal pendamping wisuda, Kamis (18/6/2020).

Wisuda daring dapat diikuti Pragas tanpa hambatan meskipun begitu Pragas menyatakan bahwa orang tuanya menyesalkan karena ia harus wisuda secara daring.

“Alhamdulillah lancar-lancar saja. Pendapat orang tua juga menyayangkan karena seperti pendapat saya tadi,” jelas Pragas, Kamis (18/6/2020).

Pragas menceritakan suka duka wisuda daring. Menurutnya, wisuda daring sebenarnya menghemat biaya dan ia tidak perlu repot pergi ke Semarang untuk merayakan wisuda karena telah menjadi seorang pengajar dengan dilaksanakan wisuda secara daring, ia tidak perlu khawatir dengan jadwal mengajar. Akan tetapi ia menyayangkan tidak bisa menikmati momen foto bersama dengan teman-temannya.

“Sukanya sih kita bisa menghemat biaya dan nda usah repot-repot ke Semarang lagi. Alhamdulillah saya kan sudah mengajar jadi tidak perlu takut jadwalnya tabrakan. Tidak muncul rasa was-was. Kalau dukanya yaitu tadi. Selain mudah hilang momennya, juga tidak bisa foto bareng sama temen yang lain,” kata Pragas, Kamis (18/6/2020).

[Siti Saroh]
Berita ini merupakan hasil belajar peserta mata kuliah jurnalistik Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.