Wahai Mahasiswa, Merosoklah!

Merosok adalah kegiatan mengumpulkan barang-barang yang sudah kehilangan fungsi primernya, teronggok tak berguna di tempat-tempat yang sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai tempat nyaman layaknya para jomblo yg termenung dipojokan meratapi kertas undangan nikahan sang mantan yang baru satu bulan putus, “asemik, berarti diam-diam dia jalan sama calonnya disaat masih pacaran dulu.. ASUdahlah…”.

Barang-barang tersebut biasanya berupa kardus sampai tembaga lalu dikelompokkan sesuai klasifikasi harga. Jadi, meskipun kesannya tak berguna namun masih mempunyai nilai jual dan bagi yang lain bisa berarti sesuatu yg sangat berharga.

Ini pelajaran bagi para fakir cinta yg merasa dirinya sudah tamat setelah status jomblo tersemat, lihatlah makna filosofis yang terkandung dalam sebuah barang rongsokan, disaat dia sudah merasa tidak membutuhkanmu, di luaran sana pasti ada yang masih menghargaimu.

Tentang merosok atau kegiatan mencari barang bekas lalu kemudian dijual, jenis pekerjaan ini ternyata tidak selalu didominasi oleh mereka-mereka yang hidup terpinggirkan, kalah pada kesempatan pekerjaan kantoran, hidup di kolong jembatan dengan rumah yang sekaligus jadi kantor beserta gudang untuk menyimpan barang bekas sebelum dijual, namun kerja tanpa modal ini juga menjadi salah satu alternatif yang cukup menjanjikan oleh para mahasiswa-mahasiswa akhir bulan.

Merosok bahkan berdesak-desakan dengan jenis pekerjaan sampingan lain dalam rangka menapaki tingkatan “beberapa usaha yang dapat menambah uang saku mahasiswa” pada sebuah grafik.

Ngamen, nyket, olshop, pegawai kafe, MLM, ikutan ISIS yang katanya disediakan rumah dan gaji bulanan belasan juta rupiah merupakan kerjaan part time yg dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk tambah-tambah uang rokok atau koleksi merchendise idola.

Namun merosok ini beda, pekerjaan satu ini mampu mengaburkan motif. Apa yang terlintas oleh mahasiswa ketika melihat kawannya merosok, memungut sampah dipinggir jalan, menenteng karung yang berisi botol bekas air minum? Jika ada mahasiswa ngamen, kebanyakan anggapannya untuk beli rokok atau tambah-tambahan nyongyang dan itu belum berganti karena ekspektasinya belum terpatahkan, tapi kalau merosok, “masa iya sih dia bener-bener nggak mampu” atau “ah, paling ini tes mental anak-anak seni dan sastra” atau anggapan yang beda dari keduanya itu yang masih abu-abu. Sejauh ini bellum ada penelitian khusus tentang motif dari mahasiswa merosok. Maka dari itu merosoklah kawan. Hehe.

Ada mahasiswa yang mempunyai modal bagus jikalau dia terjun dalam dunia perosokan yaitu mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam organisasi. PKM atau pusat kegiatan mahasiswa adalah surganya tukang rosok. Bagaimana tidak, setelah kegiatan organisasi biasanya banyak sekali barang-barang bekas pakai yang jika kita membuka mata batin akan menampakkan wujud aslinya, “ lihatlah bung karno dan pak hatta sedang tersenyum menyapa”.

Background dari kertas semen, kertas nasi kotak, gelas plastik bekas minum, kertas HVS putih yang ternyata lebih mahal di dunia perosokan dari pada kertas buram merupakan barang-barang yang insya alloh memberikan barokah buat kita sebab selain keuntungan dari penjualan barang bekas tersebut, secara tidak langsung kita juga sudah mengamalkan apa yang ada di kitab-kitab kuning bahwa kebersihan sebagian daripada iman.

Lalu, kapan kau akan memulai merosok?

Ashdaq Fillah

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *