Variabel Ikhtiar

Dalam beberapa kesempatan beberapa bulan terakhir ini, saya gemar memaparkan tentang persamaan dasar dalam logika matematika. X+Y=Z, menurut saya memiliki sebuah arti yang sangat fenomenal. Ia bukan lah sekedar penambahan satu variabel (Z) dengan variabel yang lain (Y) untuk menuju titik tujuan (Z). Dengan kata lain, X, dan Y adalah sebuah keadaan dalam rangka mencapai visi(tujuan) yakni sebuah Z.

Persamaan sederhana ini bisa kita lihat tidak hanya pada operasi penjumlahan namun juga pada operas pengurangan, perkalian, pembagian dll, seperti contoh,1+5 = 6. 1 adalah sebuah keadaan awal, dimana membutuhkan sebuah proses (yakni angka 5) untuk menjadi angka 6.

Namun di sini untuk menghasilkan sebuah proses, tidak musti dengan angka 5. Saya beri soal, 1 + Y = 6, kira-kira menurut anda angka berapa yang musti diisikan untuk men-substitusi Y? Ada berapa kemungkinan untuk menggali Y? Yah, secara sederhana kita bisa menjawab dengan mudah bahwa Y adalah 5. Yah, jawaban ini tepat.

Namun, ternyata 5 bukanlah satu-satunya jawaban yang dapat men-substitusi Y. saya jelaskan,1 + Y = 6, X dapat diganti dengan 5 menjadi 1+5=6. Namun 5 bukanlah satu2nya penyelesaian, ia bisa juga diganti dengan,1+ (10/2) = 6, atau1+ (2,5X2) = 6, atau1+ ((2×2)+1) = 6, atau1+ (0,5 x 10) = 6, atau1+ (1/100 x 500) = 6, dan lain sebagainya.

Permasalahan yang terjadi adalah, guru2 matematika kita tidak mengajarkan bahwa matematika adalah sebuah proses logika. Namun lebih pada proses hitung-menghitung. Ini yang sempat dikeluhkan oleh Om Sujiwo Tedjo.

Pada Operasi Bilangan yang saya paparkan diatas, tidak ada sebuah kesalahan jika kita memilih salah satu opsi untuk mengganti Y dalam memenuhi tujuan menggapai 6.  Kita pasti pernah membaca dan mengkaji Ayat Allah, [Ar Ra’du:11] yang berbunyi. “baginya (setiap manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.

sesungguhnyaAllah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia.”

Persamaan ini membuktikan semua janji-janji Allah tersebut,Pada persamaan pertama yakni 1+5=6, 1 adalah keadaan awal kita sedangkan 5 adalah usaha, dan 6 adalah sebuah tujuan atau keadaan ideal. Dalam seluruh proses kehidupan semua individu tidak memiliki kapasitas yang sama. Maka dalam persamaan 1+Y=6, masing2 individu memiliki proses individuasi yang tidak sama.

Misal, kita ambil satu penyelesaia, bahwa 1+Y=6, Y diganti dengan (0,5×10), maka persamaannya menjadi 1+(0,5×10)=6, ini menadakan bagi mereka orang2 yang hanya memiliki kemampuan sebesar 0,5, mereka dapat mencapat tujuan dengan usaha yang diulang2 selama 10 kali.

Mereka berbeda dengan orang2 yang memiliki kemampuan sebanyak 5. Begitu pula dengan persamaan yang lain. Disini menandakan, bahwa Allah tidak mengkhususkan suatu jalan, tujuan, profesi, cita-cita, harapan, hanya kepada sekelompok orang yang memilki kemampuan saja.

Sebagai contoh, seorang sarjana bisa jadi dianggap lebih mudah mencari pekerjaan daripada seorang lulusan SD. Dissatu sisi, hal ini adalah benar, namun bukan barang mustahil untuk seorang lulusan SD untuk menyamai prestasi seorang lulusan Sarjana. Bahkan, mereka dapat melebihi capaian dari seorang Sarjana. Karena, dalam memenuhi persamaan kehidupan diatas mereka terbiasa dengan usaha yang maksimal.

Satu lagi contoh kasus, ada seorang anak-anak dan dewasa sama2 mengusung air dengan volume 20 Liter dari satu titik ke titik yang lain. Orang dewasa mungkin hanya membutuhkan sekali atau dua kali bolak-balikmengusung 20 liter air dengan menggilir 10 liter. Sedang anak2 mungkin butuh 10 hingga 5 kali bolak balik dari satu titik ke titik yang lain dalam memindahkan 20 liter air tesebut. Usaha yang dilakukan mereka sangat berbeda karena si orang dewasa memiliki kemampuan yang lebih daripada anak-anak tersebut. Usaha inilah yang kita sebut variabel X. Usaha yang menentukan kita dapat mencapai tujuan atau tidak.

Meskipun kita memiliki kemampuan yang mungkin secara kasat mata mustahil untuk mewujudkan sebuah visi atau tujuan, namun jika dilengkapi dengan usaha yang sangat serius dan massif maka tidak mustahil untuk mencapai sebuah tujuan.

Persamaan dasar ini adalah sebuah kerangka (ontologi), yang bisa kita rancang dan susun variabel-variabelnya. Kesalahan kita adalah membuat jarak dari satu disiplin ilmu dengan disiplin yanga lain (sekularisasi). Propaganda asing tentang fakultas-fakultas keilmuan sudah mesti tafsirkan kembali. Ada sebuah integrasi antar ilmu. X+Y=Z, adalah dasar logika.

– Al Birru Manittaqo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.