Unnes Vespa Owner (UVO) di Patemon

Kebiasaan UVO (Unnes Vespa Owner) Comunity terbilang unik. Atas nama solidaritas, mereka rajin mengantar teman yang menikah. Biasanya, mereka datang ramai-ramai mengendarai vespa kesayangan. Bahkan sekalipun pernikahan dilangsungkan di  kota yang berjarak ratusan kilometer dari markas mereka.

Setidaknya, sudah empat kali komunitas pemilik vespa ini melakukan hal itu. Selain di Rembang, Kudus, dan Kota Semarang, mereka pernah mengantar teman yang nikah di Mandiraja, Banjarnegara. “Banjarnegaranya sudah dekat Kebumen, sebelum Klampok,” kata Angga Agusta, salah satu tetua komunitas itu.

Tidak hanya pada acara pernikahan, mereka juga tidak segan mengarak teman yang bari diwisuda. Pada tahun 2006 lalu contohnya, secara berombongan mereka mengantar rekan yang wisuda hingga auditorium tempat wisuda dilangsungkan.

Menurut Angga, bergabung di klub Vespa memang mampu membangkitkan solidaritas sendiri. Bahkan, meski sebelumnya belum kenal satu sama lain. Ia mencontohkan, jika melihat ada vespa yang mogok, pengendara vespa lain pasti berhenti untuk membantu. “Biasanya sesama pemilik vespa saling bantu,” lanjutnya.

UVO termasuk klub vespa yang tertib. Klub mereka ditata lazimnya organisasi resmi. Selain ada ketua, wakil ketua, ada juga senior yang dijadikan semacam penasihat. Kegiatan mereka pun dijadwalkan. “Biasanya kami kumpul malam Jumat, jam delapan malam sampai selesai,” kata Angga di markasnya Jalan Legoksari, Patemon, Gunungpati. Di luar itu, mereka juga rajin mengikuti temu penggemar vespa di tanah air. “Pernah sampai Lombok dan Serang,” lanjut A. Rianto, ketua harian UVO.

Saat menerima anggota baru, UVO juga tidak asa terima anggota. Calon anggota setidaknya harus melewati tiga tahapan, yakni pengenalan anggota, pengenalan motor, dan pengenalan jalan. “Kalau mereka lolos, baru dilantik menjadi anggota,” lanjut Angga.

Saat seleksi itulah, para senior biasanya sengaja mreteli spare part motor untuk mengetes calon anggota. “Kami tunjukkan, biar mereka tahu namanya apa, terus fungsinya apa,” kata Angga lagi. Pengetahuan itu, menurutnya sangat penting karena vespa kerap mogok di jalan. Saat mereka mengikuti Java Scooter Rendesvous IV di Malang contohnya, salah satu vespa mogok sehingga harus dibongkar di tengah jalan.

“Hampir setiap touring pasti ada yang mogok. Ya, kami perbaiki sendiri,” kata pria yang memiliki perlengkapan bengkel standar lengkap ini. Untuk mengantisipasi itu, anggota UVO biasanya rajin berkumpul di markas untuk berbagi pengalaman. Di sana pula mereka biasanya ngutak-atik vespa bersama-sama. “Ini bukan bengkel, tapi alat-alatnya lengkap, pungkasnya.

 

Facebook Comments

1 Comment

  1. joko martono

    July 5, 2011 at 1:35 am

    bener-bener kreatif dan perlu dilestarikan mas…

    dan tentunya mematuhi tertib berlalu-lintas, he-he-he…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *