Unnes Gandeng Gusdurian dan Polda Jateng Tangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi

Universitas Negeri Semarang bekerja sama dengan Jaringan Gusdurian dan Polda Jawa Tengah untuk mendeteksi dan menangkal radikalisme di perguruan tinggi.

Untuk mengawali kerja sama tersebut, pihak-pihak tersebut membangun apersepsi melali seminar daring bertajuk “Pencegahan Radikalisme di Perguruan Tinggi”, Selasa (4/8).

Sebagaimana diketahui, Jaringan Gusdurian memiliki pengalaman panjang dalam mempromosikan moderasi beragama.

Menurut Alissa Wahid ada tiga persoalan utama yang dihadapi masyarakat Indonesia yaitu mayoratorianisme, sentimen primordial, dan ekslusivisme beragama.

Ia memandang tiga masalah tersebut memiliki kaitan erat dengan perguruan tinggi sehingga perlu tindakan konkret untuk menyikapinya.

Pihaknya memetakan pola radikalisasi di perguruan tinggi terjadi dalam sejumlah tahap. Pertama,  melalui pendekatan personal. Kedua, penanaman ideologi ekslusivisme beragama. Ketiga, membangun kebanggaan sebagai diri atau umat terpilih.

Setelah itu, biasanya dilakukan penanaman visi “perjuangan”. Kelima, penugasan sebagai kader perjuangan. Keenam, menggerakkan masyarakat.

Untuk menyikapi itu, Jaringan Gusdurian selama ini giat mempromosikan moderasi beragama di masyarakat.

Sementara itu, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol A. Luthfi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan dua pendekatan yaitu pendekatan lembut (soft approach) dan pendekatan keras (hard approach).

Menurutnya, dalam mengoptimalkan Gerakan soft tersebut kampus harus memberikan pendampingan yang intensif kepada organisasi mahasiswa dari dosen yang kompeten. Hal itu diperlukan agar potensi sekecil apa pun radikalisme di perguruan tinggi dapat segera diketahui.

Bagi Unnes, potensi radikalisme telah menjadi bahan perhatian sejak lama. Untuk mempromsoikan kehidupan beragama yang moderat Unnes membangin kemitraan dengan sejumlah pesantren, kepolisian, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Selain bekerja sama dengan berbagai pihak Unnes juga mendirikan Pusat Studi Radikalisme dan Teorisme (Pusara).

Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman menyampaikan bahwa fokus kegiatan kemahasiswaan di Unnes adalah karakter dan prestasi. Dalam hal ini, salah satu karakter utama yang ditanamkan adalah nasionalisme.

Sumber foto: ngopibareng.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.