Ujian Efektivitas Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia dalam Situasi Darurat.

Ilustrasi Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh : Ilham Yusuf Fanani

Indonesia sedang dilanda wabah virus corona atau covid-19, yang menyebabkan pemerintah harus me-lockdown berbagai kegiatan maupun aktivitas yang membuat keramaian atau orang berkumpul. Dunia pendidikan terkena imbasnya, sehingga banyak sekolah dan kampus melakukan pembelajaran daring ataupun pembelajaran jarak jauh, sebagai pengganti pembelajaran konvensional. Namun apakah sampai sekarang, pembelajaran seperti itu efektif digunakan? atau malah membuat siswa semakin tertekan?

Dilansir dari merdeka.com (2/3/2020), Wabah virus corona atau covid-19 melanda Indonesia, sejak adanya kasus pertama yang diumumkan pada Senin (2/3/2020), sampai hari ini kasusnya terus bertambah, bahkan menembus 1331 kasus pada 18 Juni. Dan Kementrian Kesehatan juga mengeluarkan surat edaran tentang protokol isolasi diri sendiri dalam penanganan virus corona pada Senin (16/3/2020). Hal ini juga berimbas pada dunia Pendidikan di Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim dalam kemdikbud.go.id Selasa (24/3/2020) mengeluarkan beberapa keputusan, salah satunya terkait belajar dari rumah. Mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring)/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Sebenarnya, apa itu pembelajaran jarak jauh?

Pembelajaran jarak jauh dimaknai sebagai Suatu metode pembelajaran di mana proses pengajaran terjadi secara terpisah dari proses belajar sehingga komunikasi antara tenaga pengajar dan siswa harus difasilitasi dengan bahan cetak, media elektronik, dan media-media yang lain (Moore, 1973). Banyak media yang digunakan, mulai dari video conference, learning management system, media televisi, hingga sosial media. Media tersebut digunakan untuk mengganti proses tatap muka, terutama untuk berkomunikasi, pemberian materi dan juga tugas bagi siswa.

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran akan membuat kegiatan belajar dapat dilakukan dimana saja, dan kapan saja. Namun hal ini belum di ikuti dengan peningkatan kualitas infastruktur komunikasi di seluruh daerah Indonesia, imbasnya pembelajaran berbasis teknologi komunikasi ini belum efektif secara sarana dan prasarana dalam bidang jaringan bagi semua siswa di Indonesia. Dalam artian pembelajaran jarak jauh ini akan sulit dilaksanakan di daerah yang tidak memiliki akses jaringan telekomunikasi seperti di daerah terpencil.

Sebenarnya tidak dapat di pungkiri bahwa dalam era digital seperti ini, fasilitas jaringan memang menjadi hal yang vital untuk menunjang aktivitas maupun produktivitas dalam kehidupan, apalagi dalam situasi pandemi seperti ini yang mengharuskan banyak hal dilakukan serba daring.

Listrik dan jaringan memang menjadi hal yang paling banyak dikeluhkan masyarakat, dalam telekonferensi yang dilakukan mendikbud di Youtube Kemendibud RI, pada Sabtu (2/5/2020). Selain itu, banyak permasalahan pada infrastruktur pendukung, kegiatan pembelajaran jarak jauh sejauh ini juga dinilai banyak siswa terlalu berat, dalam survey yang dilakukan KPAI, terhadap 1.700 siswa berbagai jenjang pendidikan pada 13-20 April 2020, dilansir dari kompas.com (27/04/2020) sekitar 76,7 persen di antaranya mengaku tidak senang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hanya 23,3 persen responden yang menganggap PJJ mengesankan.

Lalu apakah pembelajaran selama pandemi ini sudah efektif dilaksanakan? Pembelajaran yang efektif mencakup dua hal pokok, yaitu waktu aktif belajar dan kualitas pembelajaran (Kyriacou, 2009). Dari segi waktu aktif belajar, selama ini banyak guru yang hanya memberikan tugas dan tugas disetiap minggunya, sehingga esensi belajar akan berkurang, karena kebanyakan tugas tersebut juga harus diselesaikan dengan waktu yang relatif singkat. Namun ada juga guru yang sama sekali tidak memberikan pembelajaran di masa pandemi ini, alhasil sama sekali tidak ada ilmu baru yang didapatkan oleh siswa.

Lalu jika ditinjau dari segi kualitas pembelajaran, maka pembelajaran yang efektif akan berkaitan dengan guru yang efektif dalam melakukan proses pembelajaran. Pembelajaran jarak jauh yang hanya berisi pemberian tugas secara terus menerus tidak akan membangun aspek kognitif dari anak, karena siswa hanya akan fokus untuk mengerjakan dan mengumpulkan tugas, tanpa melakukan pemahaman terhadap materi yang dipelajarinya sehingga pembelajaran juga tidak menjadi efektif bagi siswa.

Sebenarnya, di sini guru bisa menyesuaikan jadwal pembelajarannya dengan memberikan materi dan penugasan secara berkala, dengan variasi media pembelajaran yang ada. Misalnya pada minggu ke-sekian menggunakan modul untuk materinya, dan minggu lainnya menggunakan video pembelajaran, dengan catatan materi yang diberikan adalah materi yang mudah dipahami, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi siswa. Pemberian materi dengan variasi media ini akan membuat siswa tidak merasa bosan ketika belajar, pada media video pembelajaran akan membuat pemahaman siswa terhadap materi akan lebih baik, dan akan mengarah pada efektivitas pembelajaran. Pembelajaran seperti ini akan lebih efektif, dan juga santai bagi siswa.

Selain itu dalam pembelajaran, tugas tidak perlu diberikan setiap minggunya, namun diberikan sesuai dengan kompetensi yang telah dipelajari, dan sifatnya adalah untuk bahan evaluasi pembelajaran, dan tidak untuk penilaian. Sehingga, siswa akan lebih santai dalam mengerjakan, dan akan lebih bisa memahami materi tanpa tergesa-gesa dan juga guru dapat mengevaluasi pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk penilaian siswa, dapat mengambil nilai dari beberapa penilaian, misalnya dari ulangan harian, ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Dengan ini maka proses evaluasi pembelajaran juga dapat lebih efektif bagi siswa dan juga guru.

Akibat pandemi ini, secara tidak langsung akan membuat pemerintah berupaya meningkatkan infrastruktur secara menyeluruh kedepannya, terutama jaringan dan listrik, selain itu juga sistem pendidikannya, mulai dari kurikulum, dan kegiatan pembelajarannya dengan mengutamakan fleksibilitas dengan berbagai keadaan, terutama keadaan darutat, baik itu bencana, ataupun pandemi, agar anak-anak dapat terus belajar sesuai dengan jenjang mereka.

[Ilham Yusuf Fanani]

Opini ini merupakan hasil belajar peserta mata kuliah jurnalistik Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.