Tragedi Analogi

Perdebatan Ray Rangkuti dan Abraham Samad melawan Nasir Jamil dan Masinton Pasaribu di Mata Najwa mempertunjukkan permainan analogi. Kedua pihak memainkan perandaian untuk menyampaikan sebuah pesan yang abstrak agar lebih konkret. Proses itu lazimnya ditempuh agar konsep yang rumit lebih mudah dipahami audience.

Namun, sial, analogi ternyata memerlukan kedisiplinan berpikir. Ya, analogi memerlukan akal sehat. Analogi yang dirangkai dengan mengabaikan akal sehat, justru membuat pesan tampak bias. Lebih buruk lagi, tidak nyambung!

Lihat, bagaimana Nasir Jamil menggunakan analogi “kapal” untuk mengajak penonton berpikir tentang KPK. “Sebagaimana kapal,” katanya, “orang yang di dalam tidak akan tahu seberapa cepat kapal itu melaju. Lanjutnya, justru orang-orang yang di luarlah yang tahu.”

Dengan analogi itu ia ingin meyakinkan lawan debat dan penonton bahwa dirinya lebih tahu kinerja KPK dibandingkan Abraham Samad, yang pernah di dalam menjadi ketua.

Ray Rangkuti yang malam itu tampil agresif langsung menyambar: di dalam kapal itu speedometer, Bung. Nahkoda tahu berapa cepat kapal yang dikendalikannya melaju.

Nasir Jamil diam. Ia berusaha berusaha membuat penjelasan lain, namun ia tak cukup punya iamjinasi. Ia nyengir.

Masinton Pasaribu juga membuat analogi, malam itu. Ia menolak untuk menjelaskan apakah revisi Undang-Undang KPK melemahkan atau menguatkan KPK.

“Saya tidak mau menjawab itu. Itu seperti mendebatkan, duluan mana telur atau ayam,” katanya.

Melalui analogi itu, ia hendak mengatakan bahwa perdebatan tentang menguatkan atau melemahkan tidak akan berujung. Namun, perandaian ini sebenarnya meleset. Bisa dibilang, ini analaogi yang jaka sembung naik ojek alias gak nyambung Jek.

Dari situasi tutur saat itu, Masinton tampaknya tidak ingin menggunakan analogi itu untuk mengaja penonton berpikir. Itu cuma strategi berkilah.

Ray yang menguasai panggung membuat analogi untuk menghatam dua anggota parlemen di hadapannya. Kurang lebih: kalau mau buat rumah baru, rumah baru dibangun dulu, baru runtuhkan rumah lama. Anda ini meruntuhkan rumah lama, tapi rumah baru belum dibangun.

Dibandingkan analogi lain, analogi Ray jauh lebih mudah terima akal sehat. Sebagai penonton, saya mendapat pesan yang sehat dan lempeng (strigth).

Sama Namun Beda

Analaogi diproduksi untuk menjelaskan sesuatu dengan menggunakan objek lain. Analaogi lazim diperlukan agar penjelasan yang abstrak menjadi relatif lebih mudah dipahami.

Analago hanya mungkin diproduksi jika sesuatu yang konkret dengan yang abtsrak memiliki kesebangunan. Pada sisi lain, hal yang konrket dan abstrak tersebut haruslah sesuatu yang berbeda. Kesebangunan diambil untuk untuk mewakili konsep yang abstrak. Adapun perbedaan tetap dijaga sebagai perbedaan.

Dalam retorika, analagi memiliki kesamaan dengan metafora dan similime. Metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora yang berati ‘memindahkan’ yaitu dari meta ‘di atas’ dan pherein ‘membawa’ Metafora merujuk kepada proses linguistik yang mana aspek tertentu sesuatu objek dibawa atau dipindahkan kepada objek lain, dengan demikian objek kedua diujarkan seolah-olah ia seperti objek yang pertama.

Simile memiliki kecenderungan fungsi yang sama dengan metafora. Hanya saja, simile Simile hanya dapat berfungsi jika ada kata penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung yang digunakan contohnya seperti, bagaikan, bak, layaknya, dan laksana.

Fiske (dalam Wardoyo, 2005) menjelaskan bahwa metafora merupakan suatu dimensi paradigmatik yang bersifat vertikal, aosiatif, dan selektif. Dengan anggapan itu Fiske melihat bahwa metafora merupakan sebuah pilihan atas berbagai kemungkinan bentuk. Ia menyebut, makna yang dikehendaki sebagai tenor dan kemungkinan pilihan paradigmatiknya sebagai vehicle.

Sebuah tenor dapat dinyatakan dengan berbagai kemungkina vehicle. Dalam metafora terdapat similirity dan difference antara tenor dan vehicle. Kesamaan dan perbedaan tersebut menghasilkan makna konotatif dengan melibatkan tanggapan emosional, intepretasi subjektif, norma sosiokultural, dan asumsi-asumsi ideologis.

Kerumitan inilah yang membuat metafora dan analogi memerlukan ketertiban berpikir. Untuk memproduksi keduanya, seseroang harus tahu letak perbedaan dan kesamaan dua objek yang berlainan itu. Jenis keterampilan seperti inilah, yang agaknya, bukan jenis keterampila yang dimiliki Nasir Jamil dan Masinton.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

2 Comments

  1. Tandiyo Rahayu

    December 24, 2015 at 4:48 am

    Bapak Surahmat.. isi artikel Anda sungguh menggoda saya untuk mencoba beranalogi.
    Artikel Anda ini bagaikan bakso mercon… di awal lezat dan renyah.. setelah terkunyah bikin mulut menganga..h…

    • Fuad Akbar Adi

      December 24, 2015 at 3:15 pm

      Kemarin saya juga nonton debatnya, Pak Rahmat. Pingin buat ulasannya tapi bingun mau ngambil yang bagian mananya. Artikel Bapak bagus sekali, sama sekali tak terpikirkan oleh saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.