Tjetjep Rohendi, Perintis Program Doktoral Pendidikan Seni UPSI Malaysia

HAMPIR satu windu melancong ke Malaysia membuat Prof. Tjetjep Rohendi justru semakin mencintai Indonesia. Bahkan di sana, guru besar Pendidikan Seni Unnes ini merasa mendapat perspektif baru. Ia bisa melihat tanah airnya dari perspektif orang lain. Ia juga bangga karena berkesempatan menampilkan wajah lain Indonesia kepada bangsa lain.

Juli 2003 silam, keberangkatannya ke Malaysia sebanrnya di luar rencana. Saat itu ia sedang membimbing mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Kebetulan, ada delegasi dari Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia yang sedang mencari pengajar. Ia, tanpa target muluk-muluk, ikut mendaftar.

“Setelah wawancara, teken kontrak, seminggu saya siap-siap langsung berangkat ke sana,” katanya, Minggu pagi kemarin di rumahnya, jalan Stonen 40 Semarang. “Mereka cari dosen yang tidak hanya bisa ngajar, tapi bisa melakukan penelitian dan pembimbingan,” lanjutnya. Ia memutuskan memanfaatkan kesempatan itu meski pada saat yang sama ia juga ditawari mengajar di Jepang dan China.

“Malaysia kan kulturnya tidak terlalu berbeda dengan kita. Jaraknya juga tidak terlalu jauh ya, sehingga saya masih bisa sering-sering pulang. Itu alasan saya memilih Malaysia,” ucapnya dengan aksen Sunda.

Saat itu status Tjetjep sebenarnya masih dosen Unnes. Namun, karena sebuah alasan, ia juga membimbing mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Selain ITB, ia juga membimbing mahasiswa di Unpad, Unair dan UI. “Walaupun mereka tidak punya jurusan pendidikan seni, saya diminta mengajar di sana, untuk kajian seni dan antropologi,” katanya.

Sampai di Malaysia, Tjetjep punya beban berat. Tidak hanya mengajar, ia juga diminta merintis program doktor pendidikan seni. Ia bekerja keras merancang kurikulum, metedologi, dan kelengkapan lain supaya jurusan itu bisa dibuka. Dua minggu kemudian Program Doktor Pendidikan Seni UPSI pun ecara resmi berdiri. Saat itu masih satu-satunya di Malaysia. “Tahun pertama ada 5 orang, tahun ke dua ada 2 orang,” katanya.

Tjetep memang tidak lantas menjadi ketua program. Sebab, struktur organisasi di UPSI berbeda. Secara strukutural, program baru itu tetap tanggungjawab Pembantu rektor bidang inovasi dan pascasiswayah (pascasarajana). Tapi Tjetjep lah yang mendapat mandat menjadi penanggungjawab. “Waktu itu memang sedikit yang medaftar. Sebab, warga Malaysia kalau menempuh studi doktor lebih banyak yang memilih ke leuar negeri. Ke Amerika, inggris, atau Singapura,” kenangnya.

Hidup di Malaysia membuat ia punya perspektif baru memandang tanah airnya, Indonesia. “Saya justru merasa sangat mencintai tanah air saya,” katanya. “Saya sadar kita memiliki potensi yang besar. Rasa kebangsaan kita sudah terbentuk sejak lama. Ini berbeda dengan Malaysia. Mereka belum memiliki konsep kebangsaan yang matang,” lanjutnya.

Meski demikian, pendidikan di negeri Jiran itu jauh lebih tertata. Kehidupan warga di sana relatif lebih baik. Ini berakibat pada bentuk struktur sosial di sana. “Warga Malaysia saya kira menumpuk di kelas menengah. Warga miskin sih tetap ada, tapi jumlahnya kecil,” katanya. karena itulah, Tjetjep melihat ada kekosongan kelas sosial di sana. “Mau cari tukang bangunan, pelayanan rumah makan, atau pembantu rumah tangga mereka tidak mau.”

Kemajuan yang Malaysia capai, Tjetjep menilai, karena dikelola oleh orang-orang yang paham di bidang itu. Ia mencontohkan, perdana menteri di sana umumnya adalah mantan meneteri pendidikan. Di Indonesia kondisinya berbeda.  “Pendidikan diatur oleh orang-orang yang tidak berorientasi pada bidang pendidikan,” katanya. lebih-lebih, pendidikan juga kerap dicampuri urusan politik.

Akibatnya, pendidikan dikelola dengan orientasi proyek. Ujian nasional, sertifikasi, dan kerapnya berganti kurikulum mengindikasikan hal itu. “Pendidikan seakan-akan baik. Seakan-akan.”

Pengelolaan yang keliru berakibat fatal. Tjetjep menyebut, bangsa Indonesia menjadi gagap.

“Gagap mengeja masa lalu, gagap mengeja masa kini, juga gagap mengeja masa depan,” katanya.  di Indonesia, hampir tidak ada orang yang bisa memastikan masa depannya. Pendidikan tidak bisa menjamin seseorang punya masa depan baik. “Apa kalau yang kuliah di IKIP nanti pasti menjadi guru? Tidak ada yang menjamin.” katanya.

Meski demikian, Tjetjep menilai warga Indonesia tetap memiliki keunggulan. Dalam diksuisi Forum Bukit Stonen Kamis malam lalu misalnya, Tjetjep menyebut warga Indonesia lebih kreatif. Karena itu, ia tidak khawatir kalau ada produk kebudayaan yang diklaim Malayisa.

“Tenang saja. Di sana tidak akan berkembang,” katanya, sambil tertawa.

2 Comments

  1. nining

    April 20, 2011 at 1:32 pm

    apa pak tjetjep skrg udah balik ke indo?wah, keren nih klo bs didatengin di forum.

  2. rahmat

    April 20, 2011 at 4:10 pm

    Betul Mba Nining. Kalau tidak keliru per April kemarin. Kalau ingin bertukar gagasan, beliau sering diskusi di Forum Bukit Stonen. Hampir setiap bulan Forum diskusi betagline Lintas Disiplin, Lintas Kerja, Lintas Usia itu menggelar diskusi…

Leave a Reply

Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.