Tips Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor

Selamat pagi. Saya Rahmat Petuguran dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang. Semoga teman-teman sekalian tetap sehat selama karantina diri di rumah masing-masing ya.

————–

Versi video artikel ini, silakan tonton di Chanel Youtube saya: Rahmat Petuguran

————–

Kemarin editor saya dari Penerbit Bumi Aksara, Mba Zahra, memberi kabar kalua buku yang saya tulis Bersama Prof Fathur Rokhman sudah terbit.

Judul bukunya, Linguistik Disruptif: Pendekatan Kekinian Memahami Perkembangan Bahasa.

Ini buku akademik yang kami tulis untuk mengulas hubungan bahasa, masyarakat, dan teknologi-teknologi baru yang lahir pada era disrupsi sekarang ini.

Di buku ini kami menganalisis perubahan-perubahan ekspresi berbahasa masyarakat yang dipengaruhi oleh kehadiran teknologi baru seperti internet, kecerdasan buatan, big data, dan teknologi nano.

Kami mengajukan berbagai bukti dan argumentasi yang menunjukkan bahwa kehadiran teknologi baru itu telah mengubah secara radikal bahasa masyarakat. Teknologi bukan hanya melahirkan struktur baru bahasa tapi juga mengubah keteraturan bahasa itu sendiri. Perubahan itu membuat sebagian teori linguistik modern yang lahir pada akhir abad 19 dan abad 20 menjadi tidak relevan.

Nah, lewat buku ini kami merekomendasikan berbagai pendekatan baru agar linguistik tetap relevan untuk mengkaji persoalan kebahasaan kekinian.

Sebagai perayaan atas terbitnya buku terbaru kami, hari ini saya ingin berbagi tips menerbitkan buku di penerbit mayor. Saya berharap tips ini bermanfaat buat teman-teman dosen, guru, atau siapa pun yang ingin menerbitkan buku di penerbit mayor.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, penerbitan mayor memang menyediakan sejumlah kemudahan bagi penulis.

Pertama, seluruh biaya penerbitan  sepenuhnya ditanggung penerbit. Mulai dari editing, desain sampul, tata letak, cetak, sampai promosi dan distribusi semua dilakukan penerbit.

Kedua, jumlah buku yang dicetak relative banyak. Di kontrak yang kami tanda tangani, cetak pertama buku ini adalah 2 ribu eksemplar.

Ketiga, penyuntingan dilakukan oleh editor profesional. Jadi, kualitas naskah betul-betul dikawal. Dalam proses editing buku Linguistik Disruptif ini misalnya saya menerima lebih dari 150 masukkan dari editor. Karena editor yang menangani naskah kami memang orang linguistic, jadi bukan hanya mengedit aspek bahasannya tapi juga substansinya.

Hal yang sama juga kami rasakan saat buku terdahulu kamu, yaitu Politik Bahasa Penguasa, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Mereka bekerja dengan sangat professional, sangat teliti, untuk memastikan kualitas buku.

Nah, lalu bagaimana supaya naskah buku kita bisa diterbitkan oleh penerbit mayor?

Menurut pengalaman kami, ada empat langkah yang harus dilakukan.

Pertama, meriset penerbit mana yang ingin kita tuju dan tipe buku seperti apa yang mereka butuhkan. Atau, kalua kita sudah punya naskah, ya kita riset penerbit mana yang kira-kira membutuhkan naskah seperti yang kita miliki.

Ini langkah penting karena setiap penerbit sudah punya segmentasi pasarnya sendiri-sendiri. Jadi, jenis buku yang mereka terbitkan juga sangat khas, berbeda antara penerbit satu dengan lainnya.

Langkah kedua, setelah melakukan riset, tulis atau sesuaikanlah topik buku dengan kebutuhan penerbit.

Topik buku yang bagus biasanya adalah paduan antara “dibutuhkan banyak orang” namun “belum banyak kompetitor yang menulisnya”.

Kalau keahlian kita pada bidang yang sangat spesifik, sebaiknya kita perlebar cakupannya supaya bisa menjangkau lebih banyak segmen pembaca. Atau, kalau topik buku kita sudah ditulis oleh banyak orang, carilah sudut pandang atau gaya baru yang membuat buku kita memiliki keunikan.

Langkah ketiga, kita kirimkan naskah lengkap beserta ringkasan dan argumentasi yang mendukung keunggulan naskah kita. Keunggulan itu bisa berkaitan dengan kebutuhan pasar yang luas, topik yang jarang, atau keunikan gaya penulisan kita.

Argumentasi ini harus disusun secara realistis. Kalau perlu disertai data, supaya tim editor terkayinkan.

Jangan lupa naskah yang kita kirim harus memenuhi standar jumlah halaman yang penerbit inginkan. Ada penerbit membatasi jumlah minimal dan maksimal halaman. Jadi, naskah yang kita kirim harus disesuaikan dulu ya.

Keempat, kirimkan naskah ke penerbit melalui email atau pos. Kalau zaman sekarang sih enaknya pakai email saja.

Penerbit-penerbit besar biasanya sudah punya SOP yang jelas, naskah yang diterima akan diproses berapa lama sebelum diputuskan ditolak atau diterima.

Ada yang hanya perlu satu bulan. Ada yang membutuhkan 3 bulan. Bahkan ada yang 6 bulan atau lebih. Kebijakan ini biasanya sudah disebutkan di prosedur penerimaan naskah yang disebutkan di website mereka.

Nah, kalau naskah kita diterima, kita tinggal komunikasi dengan pihak legal penerbit untuk membahas kontrak penerbitan. Lalu komunikasi dengan editor untuk melakukan kontrol kualitas.

Saat semua proses itu sudah dilalui, buku akan selesai cetak. Kita sebagai penulis biasanya mendapat 5 sampai 10 eksmplar buku gratis sebagai bukti terbit.

Bagi saya, buku adalah mahkota intelektual. Penting banget bagi dosen dan para peneliti. Meskipun secara ekonomi belum tentu memberi timbal balik yang sepadan, tapi buku yang terbit memberi keuntungan sosial dan intelektual yang sangat besar.

Demikian, semoga bermanfaat. Selamat mencoba.

Rahmat Petuguran
Penulis, dosen Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar: bali.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.