The Everything Store, Jejak Kegilaan Jeff Bezos Saat Membangun Amazon

Dalam buku The Everything Store, penulis Brad Stone menunjukkan akibat yang ditimbulkan jika kecerdasan, ambisi, dan keberanian terkumpul dalam satu orang bernama Jeff Bezos. Lahirlah sebuah kerajaan bisnis yang mengantarkan pemiliknya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

***

Hari ini kita mengenal Amazon.com sebagai salah satu perusahaan ritel online terbesar di dunia. Dengan visi jangka panjangnya, pendiri perusahaan itu melebarkan sayap ke mana-mana. Cita-citanya menjadi the everything store kian dekat.

Jeff adalah ribadi yang cerdas. Keunggulan itu sudah tampa sejak ia masih belia. Di sekolah, kecerdasan semakin jelas terlihat. Ketika ia melanjutkan karier sebagai eksekutif di DE Shaw, sebuah perusahaan finance, kecemerlangan itu makin tampak.

Tetapi kecemerlangan Besoz baru benar-benar mendapat ruang ketika ia mulai merintis Amazon. Keputusan untuk meninggalkan perusahaan itu untuk merintis jual buku secara daring adalah bukti lain kecemerlangan visinya.

Bagi banyak orang, itu pertaruhan yang terlalu besar. Dia meninggalkan kemapanan sebagai eksekutif di perusahaan besar untuk memulai sesuatu yang tampak remeh-temeh: jualan buku.

Dari garasi rumahnya (garasi selalu jadi tempat awal yang epik dalam setiap ledakan perusahaan teknologi) ia merintis sistem daring penjualan buku. Tentu saja, dengan teknologi pada masa itu, sistemnya teramat sederhana.

Dengan modal yang ia kumpulkan selama bekerja, juga investasi dari orang tuanya, Bezos mulai mewujudkan visinya. Ia mulai merekrut beberapa insinyur. Ketika pemesanan mulai membanjir, ia merekrut karyawan untuk mengurusi pengepakan.

Bisnis rumahan itu akhirnya berkembang. Internet menunjukkan keajaibannya sebagai enabler bagi kesuksesan Amazon. Monumen terbesar yang dimiliki perusahaan itu adalah gudang (fulfilment center) seluas lapangan sepak bola.

Ketika bisnis itu terus tumbuh, Amazon mulai merekrut orang-orang paling cerdas yang dapat ditemui. Selain melakukan rekrutmen di kampus-kampus paling keren, aksi bajak membajak eksekutif perusahaan pesaing tak terhindarkan.

Lawan-lawan Amazon, pada awalnya, adalah jaringan toko buku seperti Border and Barner. Tetapi ketika Amazon menjadi peritel (bukan Cuma buku), ia juga harus berhadapan dengan walmart. Selanjutnya, ia juga harus bersaing dengan perusahaan teknologi: eBay, Google, dan berebut pasar ebook dengan Apple.

Besoz membangun Amazon dengan ambisi tanpa batas. Sebagai pengusaha, ia memiliki semua modal untuk mewujudkan semua ambisi itu: kecerdasan, keberanian mengambil risiko, dan ketegaan untuk menghancurkan kompetitor.

Serangkaian akuisisi dijalankan Bezos dengan strategi buldozer yang mengerikan. Penulis buku ini, Brad Stone menunjukkan pemandangan mengerikan itu ketika Bezos mengambil alih Zippo.com dan Diapers.com. Sebuah akuisisi yang brutal dan tanpa ampun.

Strategi buldozer juga ditunjukkan Amazon ketika berhadapan dengan penyuplai mereka. Kekuatan pasar dengan 200 juta pelanggan membuatnya merasa berkuasa. Akibatnya, ia bis asecara sewenang-wenang menetapkan harga dengan margin keuntungan amat rendah.

Brad Stone, sebagai penulis, menunjukkan bahwa gabungan antara kecerdasan, ambisi, dan keberanian Bezos adalah elemen penting yang membuat perusahaan ini tumbuh menjadi demikian besar.

Buku ini amat menarik jadi referensi para pebisnis, untuk mengetahui cara kapitalis kelas dunia mewujudkan ambisi penjualannya.

Brad Stone, sebagai wartawan dan penulis bidang-bidang teknologi, berhasil menunjukkan kelasnya melalui buku ini. Ia berhasil menyajikan narasi yang amat detail. Ia menemui begitu banyak orang untuk menyusun puzle kesuksesan Amazon.com. Data-data yang diperoleh kemudian ditenun hingga membentuk pola-pola yang nyaman baca.

Janjinya di awal buku: apa yang selama ini kita ketahui tentang Amazon.com  hanyalah mitos, buku ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, agaknya dipenuhi.

Itulah yang membuat buku ini layak ditelusuri halaman demi halaman, meski jumlah halamannya  lumayan banyak: 470.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *