Tetap Bahagia Menjadi Kaum Miskin Kota

ADA pertanyaan sederhana yang melintas dalam pikiran dua hari belakangan: bisakah orang-orang miskin kota bahagia sebagaimana (atau lebih dari) orang kaya? Orang kaya memiliki fasilitas berlimpah untuk memastikan segala urusan lebih mudah. Orang miskin kerap mendapat kesialan khas kelas bawah: motor mogok, kehujanan di jalanan, kehabisan bensin, dimarahi atasan, bahkan PAM dicabut arena telat bayar tagihan.

Penulis Malcom Gladwell, mengungkapkan, kekayaan memiliki pengaruh positif terhadap kekayaan. Tetapi pada tingkat tertentu, kekaayaan yang terlalu banyak justru juga menimbulkan kerepotan.

Jika digambarkan dalam grafik kartesius, relevansi kekayaan dan kebahagiaan berbentuk bukit. Awalnya naik, mencapai puncak, lalu turun lagi.

Ketika orang mulai memiliki kekayaan yang cukup, seseorang mulai bisa membeli aset atau barang yang selama ini diidamkan. Orang bisa membeli sepeda motor baru, mobil baru, rumah baru, juga mengunjungi tempat-tempat baru yang selama ini diinginkan.

Lantaran banyak pengalaman baru, kekayaan memiliki relevansi yang sangat besar terhadap kebahagiaan.  Pada tahap ini seseorang mulai merasakan nikmat bahwa berkendara tanpa mogok adalah kenikmatan. Pada tahap ini pula, bisa ke luar negeri untuk pertama kali juga menimbulkan kebanggaan yang besar. Segalanya terasa menyenangkan, excited untuk dijalani.

Kekayaan Ideal

Namun ketika orang kaya bertambah kaya dan semakin kaya, daftar keinginannya mendapat tanda checklist semakin banyak. Artinya, sebagian besar keinginannya terpenuhi. Ketika semua keinginannya terpenuhi, kekayaan membawa seseorang pada puncak grafik kebahagiaan. Inilah kondisi ideal yang paling diidamkan.

Grafik akan mulai turun jika kekayaan semakin bertambah sementara seluruh imaji hedonistik sudah terpenuhi. Kekayaan akan membuat orang jenuh. Dalam situasi seperti ini, pertambahan aset justru akan menimbulkan efek negatif terhadap kebahagiaan. Pasalnya, aset yang semakin bertambah itu menuntut perhatiannya, membuatnya harus bekerja ekstra agar aset itu tidak hilang.

Dengan demikian, laju kebahagiaan terhenti, sementara kerepotan dan energi yang harus dikeluarkan untuk mengurusi kekayaan semakin bertambah.

Pertanyaannya: berapa jumlah kekayaan ideal yang mestinya dipenuhi agar orang bisa menikmati kebahagiaan puncak? Sulit untuk menentukan jumlah yang pasti. Ukuran “ideal” kekayaan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Beda tempat, beda pula standarnya.

Namun, ada rilis yang menyebut, untuk kehidupan di Amerika, penghasilan yang ideal untuk sejahtera dan bahagia di negara itu adalah 750.000 dolar per tahun. Jika dirupiahkan, jumlah itu akan senilai dengan 9.750.000.000 rupiah.

Artinya, agar bisa mewujudkan “mimpi-mimpi Amerika”, orang Amerika mestinya memiliki penghasilan sebesar itu. Nominal itu cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makan dan minum hingga kebutuhan tertinggi: aktualisasi diri (merujuk dalam daftar kebutuhan Maslow). Dengan uang itu orang bisa memiliki rumah, kendaraan, menyekolahkan anak, membayar asuransi, liburan ke luar negari, juga berinvestasi.

Kekayaan memiliki relevansi dengan kebahagiaan tampak dalam daftar negara berpenduduk paling bahagia. Negara-negara Skandinavia seperti Denmark, Norwegia, dan Swedia hampir selalu berada dalam daftar tertas. Tetapi negara-negara paling kaya di dunia (berdasarkan GDB-nya), seperti Qatar, Luxemburg, dan Kuwait justru berada di papan tengah.

Di negara-negara Skandinavia, kebahagiaan adalah gabungan antara kekayaan, indeks pembangunan manusia yang tinggi, dan baiknya kondisi lingkungan. Selain kaya, orang-orang di negara-negara itu dilayani dengan layanan pendidikan dan kesehatan berkualitas, juga lingkungan hidup yang terjaga.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Untuk hidup “sejahtera dan bahagia” di Indonesia, jumlah penghasilan yang harus dipenuhi tentu tak sebanyak di Amerika. Pasalnya, kondisi sosial dan ekonomi dua negera ini jauh berbeda. Pandangan-pandangan tentang kebahagiaan juga berbeda. Di komunitas yang berbeda, kekayaan memiliki determinasi yang berbeda pula takarannya.

Untuk hidup di kota megapolitan semacam New York, adalah omong kosong bisa hidup bahagia kalau tidak bisa beli baju bagus. Omong kosong bisa bahagia kalau tidak punya asuransi kesehatan. Omong kosong bahagia kalau harus antri supaya tinggal di tempat penampungan tuna wisma.

Di Indonesia, di kota-kota besar macam Jakarta, orang juga tidak bahagia kalau harus menghadapi banjir karena tinggal di pemumikan rawan banjir. Orang tidak bahagia kalau tidak pernah bisa masuk mall karena selalu bokek. Orang juga tidak bahagia kalau waswas rumahnya bakal digusur pemerintah.

Tetapi, bukan berarti orang miskin kota sama sekali tidak punya kesempatan bahagia Orang-orang miskin kota tetap bisa bahagia dengan mempekecil variabel kekayaan dalam produksi kebahagiaan.

Selain kekayaan, kebahgiaan seseorang bisa diciptakan dengan membangun keluarga harmonis dan relasi sosial yang sehat. Seseorang bisa tersenyum saat menghadapi kebangkrutan jika keluarga masih percaya dan terus mendukung. Dalam kondisi kurang uang, orang Indonesia masih bisa happy karena punya teman-teman yang peduli.

Bahwa kekayaan memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan, itu sulit dibantah. Tetapi kekayaan bukan satu-satunya variabel yang punya pengaruh. Orang-orang miskin perkotaan bisa membangun “pertahanan” psikologis agar kesengsaraan akibat kurangnya kekayaan tidak terasa sebagai kondisi yang benar-benar nestapa.

Orang miskin kota bisa tetap bahagia, misalnya, dengan memiliki pandangan yang “positif” terhadap kemiskinannya.  Misalnya, ketika ia mendapati rumahnya kena banjir, orang miskin bisa membatin “Walaupun banjir, saya kan masih punya rumah. Gak nggelandang.”. Penderitaan yang tak tertanggulangi tidak harus menciptakan rasa sengsara.

Orang miskin kota juga masih bisa bahagia, meskipun kendaraan yang dia punya Cuma sepeda motor butut yang sering mogok. Ketika mogok dan harus bersusah payah mendorong, orang-orang masih bisa membatin “Walaupun motor butut, ini halal. Daripada sedan mewah hasil korupsi,” misalnya.

Di luar itu, orang-orang miskin kota juga bisa menjadikan agama sebagai jalan meraih kebahagiaan dalam kemiskinan. Agama mengajarkan penganutnya agar selalu bersifat positif dan “benar”, baik saat dilimpahi kekayaan maupun saat harus hidup serba kekurangan.

Misalnya, agama memberi argumentasi bahwa Tuhan tidak akan mencabut nyawa manusia sebelum mencukupkan rizkinya. Agama juga memberi penjelasan yang mendasar, jumlah kekayaan bukan variabel yang dipentingan Tuhan. Agama mengajarkan penganutnya agar senantiasa bersabar, karena orang yang sabar dekat dengan Tuhan. Lebih mendasar dari itu, agama sudah memberi landasan argumentasi bahwa yang dimiliki di dunia adalah sesuatu yang sementara. Kemuliaan sejati justru ada di akhirat sana.

Rahmat Petuguran, dua hari motor mogok

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *