Tepatkah Cara Kita Memahami Informasi?

Ada informasi: atas intervensi pemerintah daerah dan kepolisian, seorang dekan melarang penerbitan majalah mahasiswa. Ini jadi kasus yang menarik, karena tindakan ini terjadi pada rezim informasi seperti sekarang.

Tindakan kita terhadap sesuatu, ini teori usang, selalu didasari pada pemahaman terhadap objek itu. Cara kita memperlakukan informasi, saya haqul yakin, dipengaruhi oleh cara kita memahami secara ontologis objek itu.

Nah, pertinyiinnyi: bagaimana cara kita mempersepsi informasi selama ini? Apakah kita memahami informasi sebagai benda, sebagai konsep, atau sebagai makhluk yang sama sekali berbeda dengan makhluk yang selama ini kita kenal?

Untuk menelusuri hal itu, kita bisa gunakan bahasa. Sebab, bahasa yang digunakan seseorang menggambarkan kerja konseptual dalam pikirannya. Jenis kata dan bagaimana kata-kata itu disusun secara gramatikal dapat kita gunakan untuk menelusuri bagaimana kita memahami sesuatu.

Ada beberapa contoh kalimat yang lazim kita temukan dalam perbincangan berkaitan dengan informasi.
1. Menurut informasi yang beredar di masyarakat….
2. Keluarga Korban Tragedi Mina Sesalkan Lambannya Informasi
3. Ketum Jakmania Belum Dapat Informasi dari Polisi soal Penangkapan Sekjennya
4. Hacker Rusia Curi Informasi Perdagangan Dow Jones

Dari keempay kalimat di atas, agaknya penutur bahasa Indonesia memiliki kecenderungan menganalogikan informasi dengan benda yang konkret. Ini diperlukan karena informasi bukanlah objek yang berwujud: memiliki rupa, dimensi, dan menghuni ruang fisik tertentu.

Pada kalimat pertama, misalnya, ada frasa “informasi yang beredar”. Ini barangkali hanya analogi (atau metafora?). Namun dari kalimat itu dapat dibaca bahwa penutur bahasa Indonesia mempersepsi informasi sebagai objek yang bergerak, berpindah.

Persepsi bahwa informasi adalah objek yang dapat bergerak, menempati dimensi, agaknya juga muncul pada kalimat kedua. Kata terlambat lazimnya dikaitkan kecepatan gerak. Kecepatan sendiri, sebagiamana dipahami melalui hukum fisika adalah hasil bagi jarak tempuh oleh waktu tempuh.

Pada kalimat ketiga ada frasa “dapat informasi” yang menunjukkan persepsi bahwa informasi bisa didapat atau diperoleh. Kata dapat dekat maknanya dengan meraih, memiliki. Persepsi ini berdekatan dengan frasa “curi informasi” pada kalimat empat.

Nah, pertanyaannya: apakah benar informasi adalah objek yang bergerak dan dapat dimiliki sebagaimana benda fisik? Terus terang, saya khawatir wujud informasi sama sekali berbeda dengan yang kita pahami selama ini. Akibatnya, cara kita memperlakukan informasi juga tak tepat.

Rahmat Petuguran, konsumen informasi

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.