Tentang Prof Mudjahirin Thohir dan Kemungkinan-kemungkinan dalam Jawabannya

Jumat malam lalu profesor antropologi agama Prof Mudjahirin Thohir meluncurkan buku terbarunya, Beragam(a) itu Indah. Acara peluncuran ditandai dengan diskusi yang berlangsung hingga tengah malam di Kedai Kang Putu, Gebyog, Gunungpati.
 
Bagi saya, ini kesempatan baik untuk bersilaturahmi sekaligus belajar dengan profesor baik hati itu.
 
Dia dosen saya ketika menempuh pendidikan Magister Ilmu Susastra di Universitas Diponegoro.
 
Terus terang (mohon jangan kasih tahu beliau. Nanti blio kegeeran, wkwkwk) saya mendapat kesan amat baik selama mengikuti perkuliahannya.
 
Pertama, tentu saja karena beliau memiliki wawasan yang sangat baik. Selain akademisi, beliau adalah Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah sehingga punya pengalaman lapangan yang kaya. Itu membuat penjelasannya selama perkuliahan terasa sangat masuk akal.
 
Kedua, beliau punya cara pendekatan yang unik saat menghadapi mahasiswa. Ada usaha untuk membuatnya bisa bergaul dengan mahasiswa secara egaliter. Usaha itu, antara lain dengan dua cara: humor dan rokok.
 
Dua karakter itulah yang menurut ukuran saya, beliau layak menjadi role model ilmuwan sosial kekinian. Sikapnya, produktivitasnya, dan dedikasinya patut jadi contoh akademisi muda yang baru memulai karier seperti saya.
 
Salah satu yang membuat penjelasannya selama diskusi menarik adalah kesediannya mengungkapkan berbagai kemungkinan.
 
Ketika menjawab peserta diskusi, Prof Mudjahirin Thohir mengajak si penanya menjelajahi berbagai kemungkinan jawaban. Dari berbagai kemungkinan itu, peserta diminta untuk menemukan jawaban yang paling relevan.
 
Penjelasan semacam ini kadang menghentak. Sebab, simpulan-simpulan yang kadung terawat dalam pikiran ternyata bisa digoyahkan karena tersedia berbagai pilihan jawaban.
 
Sebuah jawaban bisa saja tepat, tapi di luar jawaban itu juga tersedia jawaban lain yang bisa saja juga tepat.
 
Ketika memandang agama sebagai persoalan sosial, Prof Mudjahirin punya prinsip yang jelas: semua agama benar menurut pemeluk yang meyakini kebenarannya. Oleh karena itu, kebenaran agama mutlak sekaligus relatif. Untuk memahami agama, seorang ilmu harus bersedia memandang agama dari perspektif pemeluknya.
 
Sikap seperti itu bisa dimunculkan karena kebanaran sendiri konsep yang amat beragam perspektifnya.
 
Ada kebenaran konstutif, yaitu kebenaran yang indikatirnya adalah keyakinan. Segala sesuatu benar jika diyakini kebenarannya.
 
Kedua, kebenaran kognitif, yaitu kebenaran yang didasarkan oleh akal sehat. Sesuatu benar jika logis – dan terutama empiris.
 
Ketiga, kebenaran evaluatif, benar karena telah disepakati kebenarannya dalam bentuk kontrak sosial.
 
Keempat, kebenaran ekspresif, kebenaran yang terkait selera estetik individu dalam menyikapi keindahan.
 
Dengan berbagai kemungkinan itu, setiap tindakan manusia pada dasarnya bisa dijelaskan sisi benarnya. Satu perkara yang tampaknya salah, tetapi benar menurut kriteria kebenaran lainnya.
 
Jalan berpiki yang beliau tempuh hendak menempatkan perilaku manusia sebagai gejala yang perlu dijelaskan untuk dipahami, bukan dinilai. Sikap itu yang agaknya hendak beliau tularkan kepada peserta dikusi malam itu agar masyarakat multikultural ini bisa hidup secara rukun.
 
Begitukah, Prof?
Kalau saya tanya begitu, kemungkinan beliau akan jawab “Ya, begitu juga boleh.”
Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.