Tanpa Panggung Rakyat, Dugderan Diadakan 15-16 Juni

Karnaval dugderan yang rutin diadakan warga Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan akan tetap digelar pada  Juni 2015 nanti. Namun, untuk memberikan empati kepada para pedagang Pasar Johar yang menjadi korban kebakaran, penyelenggara berencana meniadakan panggung rakyat.

Kegiatan karnaval atau pawai dugderan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, bekerja sama dengan pengelola Masjid Agung Semarang (Kauman) dan beberapa organisasi sosial keagamaan.

Menurut Sekretaris Masjid Kauman Muhaimin, karnaval dugderan tetap akan digelar sebagai tradisi selama ratusan tahun untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. ‘’Kegiatan ini sudah menjadi salah satu ikon Kota Semarang dan merupakan semangat syiar Islam,’’ katanya dalam konferensi pers di kantor pengurus Masjid Kauman Semarang, kemarin.

Kegiatan karnaval dugderan akan digelar dengan konsep yang lebih sederhana dari tahun-tahun sebelumnya. Tempatnya di Masjid Kauman. Hal itu sebagai bentuk empati kepada para pedagang Pasar Johar yang telah menjadi korban kebakaran.

Nantinya, pada karnaval dugderan tidak ada panggung rakyat yang biasanya digelar selama 10 hari di halaman Masjid Kauman namun masih mempertahankan masjid tersebut sebagai tempat pembagian kue ganjel rel dan air khataman Al Quran. Tapi jumlah kue ganjel rel akan ditambah dari biasanya 6.000 menjadi sebanyak 8.000 buah.

‘’Hal ini sesuai dengan usulan pimpinan NU Kota Semarang yang juga mendukung tetap adanya karnaval dugderan menyambut bulan suci Ramadhan. Bahwa dalam pelaksanaannya agar lebih disederhanakan dengan mengurangi kegiatan yang berbau hura-hura. Karena itu tidak akan diadakan panggung rakyat,’’ imbuh Muhaimin.

Dua Hari

Sementara itu, Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Kasturi mengatakan, karnaval dugderan akan dilakukan dua hari pada tanggal 15 dan 16 Juni mendatang, dengan peserta sekitar 9.000 orang.

Pada hari pertama atau tanggal 15 akan dilakukan karnaval mobil hias dan hasil pertanian dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Tugu Muda, dan berakhir di balai kota untuk kemudian hasil pertanian dibagikan ke warga masyarakat.

Hari kedua merupakan prosesi inti karnaval dugderan yaitu pengumuman awal Ramadhan dan pembacaan suhuf halaqoh. Acara ini akan digelar setelah dzuhur dari balai kota ke Masjid Kauman dan Masjid Agung Jawa Tengah. ‘’Akan ada pembacaan suhuf khalaqoh, khataman Al Quran, dan pembagian kue ganjel rel,’’ katanya.

Sementara untuk kegiatan panggung rakyat yang ditiadakan, pihaknya akan mengganti dengan lomba warak ngendog dan rebana se-Kota Semarang di Balai Kota Semarang. Lomba warak ngendog akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juni dan lomba rebana tanggal 10 Juni.

‘’Peserta yang sudah mendaftar lomba warak ngendog saat ini sudah 16 orang sedangkan lomba rebana 19 kelompok,’’ tandasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.