Tanpa Gangguan, Diskusi Tan Malaka Dihadiri Ratusan Anak Muda

Diskusi dan bedah buku tentang Tan Malaka yang sempat mendapat penolakan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan akhirnya berjalanan lancar, Seni (17/2). Namun, atas himbauan sejumlah pihak, panitia akhirnya memindahkan lokasi diskusi dari Jalan Stonen Nomor 29 ke Auditorium Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Imam Barjo, Pleburan. Ratusan anak muda dari berbagai perguruan tinggi memenuhi tempat itu.

Haary A Poeze peneiti Tan Malaka asal Belanda datang terlambat karena perjalanan Purwokerto-Semarang macet. Namun, diskusi yang dimulai pukul 21.00 berjalan lancar. Selama tiga jam Harry mempresentasikan sejumlah temuan tentang Tan Malaka, sosok yang ditelitinya selama 41 tahun terakhir.

Diskusi bahkan menjadi gayeng setelah sejumlah tokoh hadir mengikuti diskusi tersebut. Mereka antara lain Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Bambang Sadono, dan Dekan FIB Undip Dr Agus Maladi Irianto.

Poeze mengaku kecewa dengan sikap sejumlah orang yang akan menolak diskusi tentang Tan Malaka. Menurutnya, Tan adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah republik. Ia bahkan menyebut Tan sebagai pejuang berhaluan kiri bereputasi internasional. “Saya kira prtes-protes seperti itu tidak baik,” katanya.

Buku Keempat
Buku Harry berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia adalah seri keempat yang telah diterbitkan. Ia telah menghasbiskan separuh usianya untuk menelusuri jejak pemikir revolusioner itu. Semakin terungkap, Harry berujar, semakin besar terlihat bahwa jasa Tan terhadap republik sangat besar.

“Dalam sebuah perjumpaan dengan Soekarno, Soekarno tampaknya terkesan dengan kecerdasan Tan. Soekarno berpikir, jika suatu saat ia dan Hatta tidak bisa memimpin negara, Tan Malaka adalah orang yang tepat untuk menggantikan mereka,” katanya.

Harry menyebut, Tan mendediasikan hidupnya untuk revolusi. “Dia adalah contoh esktrem,” katanya. Selain tidak pernah menikah, Tan juga nyaris tidak memiliki harta apa pun. “Yang ia miliki hanya dua kaos, satu berwarna coklat dan satu berwarna putih dan dua celana, serta satu cincin emas. Cincin itu ia bawa ke mana-mana jka suatu saat terjadi perang dan ia membutuhkan uang, ia bisa menjualnya,” katanya.

Meski menarik perhatiannya, Harry mengakui, di Belanda Tan Malaka bukan sosok yang populer. Mayoritas publik Belanda tidak mengenalnya. Namanya hanya dikenal terbatas di kelompok-kelompok sejarawan yang menekuni sejarah Indonesia. “Saya adalah perkecualian,” lanjut Harry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.