Tandiyo Rahayu, Satu-satunya Guru Besar Olahraga di Jawa Tengah

MENJADI guru besar bidang olahraga tidak pernah dibayangkan Tandiyo Rahayu ketika masih kecil. Ia mengaku jalan hidupnya mengalir begitu saja. Karirnya sebagai pendidik ia jalani dengan santai. Hingga 22 Juli 2009 lalu diikukuhkan menjadi guru besar bidang olahraga. Bagaimana ceritanya?

Di hadapan rekan-rekannya, Prof Tandiyo adalah pribadi yang asyik. Dia senang gojekan. Di sela perbincangan ia kerap mengeluarkan guyonan segar. Karena itulah, meski memiliki gelar sebagai guru besar, ia tak ragu berkelakar. Ia juga dikenal dekat dengan mahasiswanya.

Prof Tandiyo mengaku tidak pernah memutuskan untuk menggeluti bidang olahraga. Segalanya mengalir secara alami. Hanya saja, sejak SMP ia memang mulai menyukai bola voli. “Pokoknya seneng aja. Voli saya mainkan secara aktif sejak itu sampai tahun 1987, berhenti karena saya harus studi ke Jakarta,” katanya.

Ia menyebut pertemuannya dengan bidang olahraga sebagai jodoh. Pasalnya, ia tidak membuat planing berkarir di bidang itu. Menurutnya, ada saja moment yang mengantarnya kembali ke bidang olahraga meski ia pernah mencoba bidang lain. “Ini barangkali yang dinamakan nasib, garis tangan atau jalan hidup,” ujarnya.

Meski begitu, dua saudaranya ternyata juga menggeluti bidang olahraga. Adik perempuannya dulu pernah bersamanya menjadi atlet voli klub Tunas Dolog Jateng. Adiknya yang laki-laki juga pernah aktif menjadi atlet pencak silat Merpati Putih tapi berhenti karena cedera saat bertanding.

Karir di bidang olahraga Tandiyo dimulai ketika masih remaja. Tahun 1979 ia masuk dalam klub voli Warna Agung. Konon, klub itu menempati lahan yang kini digunakan DP Mall sebagai pusat latihan. Karena Warna Agung merger dengan Dolog Jateng, otomatis ia pindah ke klub itu.

Sejak 1979-1983 ia menjadi tim voli IKIP Semarang. “Waktu itu kita menangana lho, kalau invitaasi antarperguruan tinggi,” candanya.

Tidak hanya voli. beberapa cabang olahraga juga pernah ia geluti. Ketika masih menjadi mahasiswa IKIP Semarang, softball sempat ia tekuni. Bahkan ia sempat terpilh mewakili Jateng pada PON 1981 dan 1985.

Dayung kano pun pernah ia jajal. Ia sempat mengikuti berbagai perlombaan dayung kano saat masih menjadi mahasiswa. Tidak lama berselang, ia menjadi kiper tim sepakbola putri Unnes antara tahun 1980 sampai 1982an. Baru pada 1990an hingga 2006 ia menjadi juri senam artistik. Tidak tanggung-tanggung, ia sudah mengantongi lisensi internasional sehingga berkali-kali menjadi Juri Sea Games.

Menurutnya, tidak ada masalah gender dalam karir profesional. “Dalam beraktivitas saya tidak mikir saya perempuan dan dia laki-laki; saya akan lakukan apa yang harus saya lakukan,” katanya. Mahasiswanya di Unnes, lanjut Tandiyo, juga tidak pernah berani “macam-macam”. “Mana berani, saya kan galak,” lanjutnya setengah bercanda.

Jauh hari sebelum mengajar di Unnes, ibu satu anak ini juga pernah mengajar di SD, SMP, dan SMA. “Itu tahun sekitar tahun 1983-1985,” katanya. “Saya juga pernah menjadi instruktur fitness centre di Mickey Morse Fitness Centre. Lokasinya di GOR Jateng Simpang Lima, yang sekarang sudah jadi mal Ciputra,” lanjutnya.

Namanya memang cukup dikenal. Di Jawa Tengah ia satu-satunya guru besar perempuan bidang olahraga. Seingatnya, di Indonesia sejauh ini hanya ada empat. “Yang pertama dari Universitas Negeri Manado sudah almarhumah, yang satu lagi di Jawa Barat tapi lebih banyak berkecimpung di bidang kesehatan Sedangkan yang terakhir baru 1 bulan lalu ada di Palembang. Tapi beliau dokter yang mengajar di jurusan Pendidikan Jasmani dan Olahraga,” katanya.

Selain mengajar, Prof Tandiyo punya seabrek kesibukan. Untuk wawancara dengan dia saja, setidaknya harus janjian dua pekan. Ada berbagai agenda yang menuntutnya ke luar kota. “Kebetulan saya mendapat tugas tambahan untuk mengelola Program Studi S2 dan S3 Pendidikan Olahraga di Program Pascasarjana Unnes, sebagai Ketua Program,” katanya. Ia juga kerap diminati bantuan beberapa Deputi di lingkungan Kemenpora untuk merancang suatu kegiatan atau bahkan membantu pelaksanaannya.

Tahun lalu ia juga mengikuti konferensi internasional keolahragaan dalam rangka Olympic Games di Guangzhou. “Kalo baru-baru ini bersama Direksi Program Pascasarjana Unnes perginya ke Ningbo University dan Beijing Sport University, mencari peluang kerjasama pengembangan akademik,” katanya.

Prof Tandiyo ternyata tinggal berjauhan dengan sang suami, Prof. Dr. Ruddy Pakasi, M.Pd. Dosen Pendidikan Senirupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado itu tinggal di Tondano, sementara ia tinggal di rumah orang tuanya di Demak. Karena itu, ia justru balik bertanya saat saya tanya apakah sering menyeduhkan teh untuk suami?

“Suami saya minumnya kopi Mas bukan the. Tapi ya dia bikin sendiri, kalau nunggu saya bikinkan malah ndak jadi minum karena kelamaan nunggu saya datang ke Tondano,” katanya. “Bingung to?” candanya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.