Taktik Semantik dalam Kebijakan Publik

Apakah ekonomi Indonesia mengalami penuruan atau perlambatan? Itulah salah satu bahan diskusi yang dua pekan terakhir ramai jadi perbincangan. Sebagian orang menyebut ekonomi Indonesia menurun, sementara orang lainnya menyebut melambat. Sekilas dua kata itu tampak sama, tetapi menggambarkan kondisi yang betul-betul berbeda.

Jika “menurun” artinya kinerja ekonomi Indonesia memang sedang bermasalah. Kata “menurun” digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika grafik ekonomi bergerak ke bawah. Misalnya, daya beli masyarakat berkurang, nilai tukar petani negatif, upah buruh lebih rendah dari sebelumnya.

Tetapi melambat merujuk pada kondisi yang berbeda. Melambat berarti akselerasi pada periode saat ini lebih rendah dibandingkan akselerasi pada periode sebelumnya. Dalam kondisi melambat, ekonomi Indonesia bisa saja masih mengelami kenaikan. Tetapi kenaikan atau pertumbuhannya tidak sebaik tahun atau semester sebelumnya.

Kejernihan membedakan dua kata itu merupakan hal yang vital bagi pemerintah. Dari aspek kehumasan, penjelasan yang jernih akan menghindarkan pemerintah dari persepsi negatif akibat dinilai berkinerja rendah. Dari aspek ekonomi, ketepatan menggunakan kata-kata itu menentukan respon pasar, termasuk investor. Dengan demikian, pilihan kata merupakan sesuatu yang penting dalam kebijakan publik. Bukan sekadar urusan bahasa, pilihan kata juga menentukan kepentingan banyak orang.

Di era-era terdahulu, persoala semantik dalam kebijakan publik berulangkali muncul. Pada satu kesempatan, ketidaktepatan memilih kata terjadi karena keterbatasan kemampuan berbahasa pelakunya. Tetapi pada kesempatan lain, kesalahan semantik dengaja dieksploitasi untuk kepentingan politik pihak tertentu.

Pada daswarsa 1980-an, misalnya, Pemerintah menyampaikan kabar gembira bahwa Indonesia menjadi negara swasembada beras. Secara leksikal, kata itu merujuk pada situasi ketika sebuah negara dapat mencukupi kebutuhan (berasnya) sendiri. Secara statistik, klaim itu dihasilkan dengan membandingkan total produksi dengan total kebutuhan beras. Jika total produksi beras sama atau lebih besar dari total kebutuhan, klaim swasembada itu dinilai sah dan legitimate.

Klaim swasembada itu lazimnya diikuti klaim lanjutan bahwa kebutuhan beras bangsa Indonesia dapat dipenuhi sendiri. Namun jika dicermati, total produksi beras yang lebih besar dari kebutuhan tidak berarti sama dengan kebutuhan beras seluruh bangsa Indonesia terpenuhi. Ada persoalan distribusi dan harga yang membuat Indonesia memproduksi beras melimpah tetapi pada saat yang sama memiliki penduduk yang kelaparan.

Persoalan semantik juga muncul ketika pemerintah memutuskan menerbitkan Perppu Nomor 2 tahun 2017. Keputusan pemerintah itu direspon banyak kalangan hingga memicu polemik berkepanjangan. Satu pihak menilai pemerintah telah menjadi diktator, pihak lain menilai pemerintah bersikap tegas. Keputusan yang sama digambarkan dengan dua pilihan kata yang sama sekali berbeda.

Tindakan Berbahasa

Ketika berbahasa, seseorang sebenarnya sedang melakukan tindakan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Pilihan kata yang digunakan seseorang untuk menggambarkan realitas menunjukkan orientasi kepentingannya. Pilihan kata adalah bagian dari usaha seorang penutur mencapai tujuan tersebut. Di ruang inilah taktik semantik diperlukan.

Pada tingkat yang amat sederhana, taktik semantik diperagakan dalam bentuk peyoratif dan amelioratif. Ketidaksukaan seseorang terhadap objek tertentu mendorongnya memilih kata yang berkonotasi buruk. Selain untuk mengekspresikan impresi personalnya, peyorasi digunakan untuk mempengaruhi subjek lain agar memiliki impresi yang buruk pula.

Sebaliknya, kesukaan subjek terhadap objek tertentu diekspresikan dengan pilihan kata yang berkonotasi positif. Pilihan kata yang amelioratif sekaligus digunakan untuk mempengaruhi orang lain agar memiliki persepsi positif yang sama dengannya. Karena itu, sama sekali tidak mengherankan kalau pihak yang sedang bersteru kepentingan memilih dua kata yang bertentangan maknanya untuk menggambarkan realitas yama.

Kondisi ini dapat dilihat, misalnya, saat jaksa dan pengacara menyikapi putusan hakim. Pihak yang merasa diuntungkan putusan akan menggambarkan putusan itu dengan positif: adil, bijaksana, cermat. Pihak yang dirugikan akan memilih kata yang berbeda: tidak adil, sewenang-wenang, atau melukai rasa keadilan.

Pada tingkat tertentu, taktik semantik dipraktikkan dengan skema yang lebih rumit. Lapisan-lapisan makna sebuah kata dieksploitasi untuk memunculkan kesadaran tertentu, sesuai kepentingan penuturnya.

Program Revolusi Mental adalah salah satunya. Kata “revolusi” yang melekat pada nama program itu sudah menginformasi begitu banyak hal dalam satu kata. Selain cepat, “kata” revolusi mengandung arti “menyeluruh dan mendasar”. Tanpa harus disebutkan, pengguna istilah ini menginformasi bahwa perancang program ini mengangankan perubahan yang cepat dan mendasar.

Kata revolusi juga berkonotasi positif karena lazim digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang positif pula. Dalam sejarah Indonesia modern, “revolusi” berrati perjuangan bangsa mewujudkan kemerdekaan. Dalam sejarah Perancis, “revolusi” mengakhiri kekuasaan aristokrasi absulit menuju republik yang demokratis. Adapun dalam sejarah ekonomi Inggris, “revolusi industri” digunakan untuk menyebut perubahan mendasar dalam proses produksi barang dari tenaga manusia dan hewan ke tenaga mesin.

Makna positif kata revolusi telah membuat banyak orang terpesona, menyimpan persepsi positif terhadap program ini. Karena itulah, ketika tiga tahun berjalan dan belum ada perubahan mendasar yang signifikan, orang patut menagih: revolusi macam apa yang berjalan lebih dari tiga tahun?

Kekuatan Metafora

Saat menjelaskan konsep tertentu, ada baiknya pejabat publik memberdayakan metafora. Metafora adalah jembatan yang digunakan untuk menjelaskan konsep teknis yang terlalu rumit menjadi sesuatu yang akrab. Memanfaatkan metafora berarti memanfaatkan gejala keseharian untuk menjelaskan konsep yang asing. Metafora dibangun dengan menemukan kesamaan mendasar antara dua gejala yang sebenarnya berbeda.

Untuk menggambarkan kinerja ekonomi yang baik, misalnya, sering digunakan metafora “kuat”. Alih-alih menggunakan kata “hutang”, menteri keuangan lebih memilih kata “suplemen” dan bukan “infus”.  Artinya, “tubuh” membutuhkan suplai nutrisi lebih banyak dari yang bisa dihasilkan tubuh secara alami. Suplemen diperlukan karena “tubuh” akan melakukan pekerjaan yang lebih “berat” daripada biasanya.

Soekarno adalah teladan terbaik dalam memberdayakan metafora untuk menunjang kinerja politiknya. Meski pendidikan formalnya pada bidang teknik, ia selalu punya cara menghidupkan kata-kata. Pidatonya bertebaran metafora.  Permainan semantiknya tidak hanya berhasil membuat sebuah konsep menjadi jelas, tetapi memiliki tekan emosi tertentu. Itulah salah satu alasan pidato dan tulisan Soekarno nyaris tak pernah menjemukan.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

gambar: smartserp.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *