Tak di Galeri, Warung Kopi pun Jadi

SENIN (19/3) selepas isya, hujan menderas. Hawa dingin menggigit tulang. Secangkir kopi panas membantu membangkitkan perasaan hangat ketika berada di teras sebuah rumah, saat sesekali tempias air memercik tubuh.

Belum banyak orang, duduk di kursi yang mengelilingi meja atau lesehan di pojok ruangan di rumah kampung di Gang Cempakasari, Sekarang, Gunungpati, Kota Semarang, itu. Hujan tak reda-reda. Namun itu bukan halangan bagi pengunjung seorang demi seorang terus berdatangan.

Celoteh dan sendau gurau pun makin ramai. Beberapa pengunjung menyalakan laptop, menikmati fasilitas hotspot gratis, asyik berselancar di dunia maya.

Musik tak terlalu keras bersipongang, menjadi latar perbincangan antarpengunjung. Menjadi penyemarak suasana malam di warung kopi itu.

Ya, rumah kampung dari kayu, dengan dinding depan dan penyekat antarruangan yang dicopoti, di gang padat penduduk itu adalah warung kopi. Copa Kopi, begitulah namanya, berada di Gang Cempakasari, Sekaran, Gunungpati, sekitar satu kilometer di selatan kampus Universitas negeri Semarang (Unnes). Dan, warung kopi itu menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung, yang kebanyakan mahasiswa Unnes, untuk nongkrong. Warung kopi itu pula yang menjadi pilihan bagi Rahmat Taufik untuk berpameran lukisan.

Pameran Tunggal

Apeck, sapaan akrab alumnus Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes, memajang puluhan lukisan dalam pameran tunggal bertajuk “Chaotic”. Lukisan-lukisan yang sebagian besar berangka tahun 2010 dan 2012 itu mencerminkan “kegalauan” sang perupa. “Namun ketika saya hendak memberikan judul galau bagi pameran ini, teman-teman bilang itu terlalu ngepop, berkesan tidak serius,” ujar Apeck seraya nyengir. “Padahal, memang itu cermin kecemasan, kegundahan, kegalauan saya atas keadaan.”

Kenapa tidak “unjuk kegalauan” di ruang pamer yang representatif? Misalnya, di galeri atau kampus? “Ha-ha-haÖ, pemilik galeri tidak melirik saya. Saya belum mereka kenal. Dan, karena saya mestui membiayai seluruh keperluan untuk berkarya dan berpameran ini, ya inilah pilihan.”

Tak di galeri, di warung kopi pun jadi? “Ya. Bukankah kafe atau warung kopi pun bisa menjadi ruang pamer alternatif? Apalagi pameran di kampus pun harus melalui birokrasi berbelit, terlebih bagi saya yang sudah lulus,” tutur dia.

“Selain birokrasi berbelit, di kampus belum ada ruang pamer representatif,” timpal Ulfa Hasan, sang pemilik Copa Kopi. “Karena itulah saya merancang warung kopi ini sebagai wahana untuk mewadahi kegelisahan pegiat dan pekerja seni untuk mengomunikasikan karya agar bisa diapresiasi khalayak.”

Aan, panggilan Ulfa Hasan, adalah kawan sejurusan Apeck yang lulus tahun 2010. Sejak lulus itu pula dia membuka warung kopi, hingga kini. Dia menyediakan menu utama kopi, dengan harga terjangkau kantong mahasiswa. Secangkir kopi lelet, dia patok Rp 3.000. Jika pengunjung lapar, tersedia nasi goreng ayam, nasi goreng jamur, nasi goreng telur, serta mi instan. Minuman lain, ya seperti di lapak lain tempat nongkrong mahasiswa, tersedia sajian standar: teh, susu, wedang jahe.

Berapa kali sudah pameran lukisan di warung sampean? “Ini pameran kedua yang berlangsung secara temporer. Ada pula agenda rutin. Setiap Selasa malam ada stand-up comedy, sedangkan Rabu malam live music. Selasa malam, pengunjung meluber. Sebagian bertahan berdiri karena tak kebagian kursi atau tempat duduk di dalam,” tutur Aan.

Kurang Promosi

Namun tak semua pengunjung tahu ada pameran lukisan di warung kopi itu. “Ya, saya tak menyadari lukisan ini dipamerkan. Saya kira pajangan, yang baru beberapa hari dipasang karena sebelumnya tak ada,” ujar Fiqqi, mahasiswa FBS Unnes, yang ngopi bersama beberapa kawan.

Kenapa? “Saya cuma memublikasikan lewat facebook. Semula ada yang berjanji membuatkan semacam poster besar yang bisa saya pasang di depan, tetapi urung. Ya, sudah tak masalah. Wong biaya sewa tempat ini pun belum saya bayar,” ucap Apeck seraya tertawa.

Lo, membayar juga? “Ya, tetapi sangat murah. Rp 1.500 sehari,” sahut Aan. “Untuk pameran sejak 7 Maret lalu sampai akhir bulan ini, ya tinggal dihitung saja berapa Apeck mesti membayar.”

Kenapa begitu murah? “Kenapa harus mahal? Ini saja dia masih ngutang. Ha-ha-haÖ,” ujar Aan. Lalu, keuntungan macam apa yang dia peroleh? “Warung saya makin dikenal karena saya yakin promosi dari mulut ke mulut pun efektif. Terbukti, kini setiap Selasa malam pengnjung meluber. Dan, tentu saja, omzet saya meningkat.”

Copa Kopi tak sendiri. Di kawasan seputar kampus Unnes ada pula Kilometer 7 dan Queen Cafe, yang acap digunakan untuk pertunjukan musik, pameran lukisan, pemutaran film, serta bedah dan peluncuran buku puisi atau cerpen. Namun Queen Cafe kini sudah tutup dan berganti menjadi warung makan.

Dulu, rumah kos pun dijadikan ruang alternatif untuk pameran seni rupa. Itulah gerakan yang digagas dan diselenggarakan oleh Muhammad Salafi Ridho lewat pameran seni rupa “K to K”. Namun, kini, proyek itu tak lagi terdengar.

Maka, kini, ketika kebutuhan untuk berekspresi tak menyurut, sementara kampus dan galeri bukan wahana yang gampang diakses, kafe atau warung kopi pun jadi alternatif bagi para pegiat dan pekerja seni, terutama dari kalangan mahasiswa.

Di warung kopi-warung kopi itulah mereka bisa bertemu dan bersitatap dengan apresian, tanpa hambatan. Ya, ya, di warung kopi mereka tak cuma nongkrong, bersendau gurau, menghabiskan waktu. Di warung kopi, mereka pun unjuk karya, unjuk kreasi, seperti Apeck di Copa Kopi. (Gunawan Budi Susanto, Suara Merdeka 25 Maret 2012).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.