Direksi PDAM Tirta Moedal Kena “Semprot” Walikota, Apa Sebabnya?

Walikota Semarang Hendrar Prihadi tampak jengkel ketika melakukan kunjungan kekantor PDAM Tirta Moedal, Kota Semarang. Pasalnya, saat ia menanyakan jumlah komplain dari pelanggan, jajaran direksi tidak bisa menjawab.

Emosi Hendi semakin naik saat jajaran PDAM tersebut justru mengaku baru akan merekap laporan-laporan pada hari itu.

“Yang namanya laporan masyarakat itu harus diperhatikan sama Pak Dirut (Direktur Utama) dan Pak Dirtek (Direktur Tekhnik), dicek benar atau nggak laporan-laporan itu,” tegas Hendi sebagaimana diberitakan semarangkota.go.id.

“Harus didatangi itu warga yang lapor, jangan cuma sekedar jawab akan ditindaklanjuti. Masyarakat nggak butuh itu!,” tegas Hendi dengan nada yang tetap meninggi.

Walikota juga melakukan inspeksi terhadap operator mesin distribusi di IPA Kudu. “Ini aliran air sekarang digilir atau mati?,” tanya Hendi pada salah satu operator. Namun pertanyaan Hendi tidak segera dijawab.

“Panjenengan tidak menjawab pertanyaan saya? Ini digilir atau mati ?,” tanyanya berulang.

“Digilir Pak, tapi debit air tidak cukup,” jawab operator mesin tersebut. “Berarti mati?” tanya Hendi yang kemudian tidak mampu dijawab kembali.

Dalam sidaknya ke salah satu instalasi pengolahan air PDAM tersebut, Hendi juga meminta PDAM bergerak cepat untuk mencari pasokan air dari daerah sekitar bila debit air tidak mencukupi.

“Saya minta mulai hari ini upayakan air dari Dombo, Sayung, di Kabupaten Demak untuk bisa masuk ke instalasi Kudu ini,” perintahnya.

“Kalau untuk mengaliri air di wilayah Timur kita butuh pasokan 900 sampai 1.200 liter air per detik, dan sekarang kondisinya hanya ada sekitar 600 liter per detik, usahakan 300 liter air per detik bisa masuk dari Dombo,” tegasnya.

Hendi pun mengharapkan agar jajaran PDAM Tirta Moedal Kota Semarang dapat lebih responsif untuk menangani permasalahan yang sedang terjadi.

“Kita tahu saat ini debit air berkurang karena instalasi Kedung Ombo menuju Kudu sedang diperbaiki pemerintah pusat untuk meningkatkan suplai air menjadi 1.800 liter per detik, dan seharusnya kita sudah mengantisipasi ini dari awal,” tutur Hendi kepada beberapa jajaran PDAM.

“Dan kita tahu bahwa proses perbaikan itu baru selesai pada tahun 2019, jadi harus ada alternatif upaya yang dilakukan, seperti mengambil pasokan dari Dombo,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, M. Farchan mengatakan, selain mengupayakan pasokan air dari Dombo, PDAM juga sedang melakukan pengerukan sedimen yang dapat menghambat pasokan air ke Kudu.

“Jadi sesuai arahan pak Wali tadi, akan ada dua upaya kami. Yang pertama memompa aliran air dari Dombo dengan kapasitas pompa 300 liter per detik, serta melakukan pengerukan sedimen di saluran air baku Kudu untuk mempercepat air sampai,”  pungkas Farchan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.