Tak Ada Hubungan Sunan Kuning dengan Pelacuran

Ketika nama Sunan Kuning disebut, pikiran orang akan tertuju pada sebuah kompleks lokalisasi di kawasan Kalibanteng, Semarang. Siapa Sunan Kuning, hingga dijadikan nama area “bisnis lendir” itu? Adakah relasi antara sangtokoh dengan ihwal peiacuran?

Kalau dirunut, pertautan itu sesuatu yang rancu. Di Kalibanteng Kulon memang ada petilasan yang dipercaya sebagai makam Sunan Kuning, namun situs itu sama sekali tak berhubungan dengan keberadaan lokalisasi.

Sunan Kuning di tempat itu juga tak merujuk langsung pada sosok Mas Garendi, pememimpin pemberontakan orang-orang Tionghoa terhadap Kartasura pada 30Juni 1742.

Sutomo, juru kunci, mengaku tak bisa menjelaskan sosok Sunan Kuning yang bermakam di tempat itu. la hanya bisa bercerita ihwal penemuan makam oleh buyutnya yang bernama Mbah Saribin.

Alkisah, Mbah Saribin yang punya kecakapan spiritual tinggi kehilangan lima ekor kerbau piaraan. Tujuh hari tujuh malam ia mencari, menyisir desa-desa, keluar masuk hutan belantara. Namun hewan-hewan itu tak ditemukan juga.

Sebagai guru spiritual yang dikenal sakti, Mbah Saribin merasa malu dan terpukul, lantaran tak mampu menemukan kerbaunya sendiri.

Dalam keputusasaan,ianekatmenyepidiGunungPekayangan yang dikenal wingit dan tak pernah dijamah manusia. Demikian wingit hingga dilekati sesorah jalma mara jalma mati, siapa yang datang akan mati. “Dalam pikirannya, lebih baik mati dari pada menanggung malu kepada masyarakat, terutama para muridnya,” papar Sutomo.

 aat bersemedi, Mbah Saribin merasa didatangi seseorang yang datang menunggang kereta kencana. Kepadanya ia memberi tahu keberadaan kerbau-kerbaunya. Benar saja, hewan-hewan piaraan itu terikat di bawah pohon kecil, tak jauh dari tempat ia bertapa.

Mbah Saribin amat gembira, dan bisa pulang dengan mendongakkan kepala. Keesokan hari, ia mengajak keluarga dan murid-muridnya membersihkan Gunung Pekayangan. Saat semak-semak dibabat, tampaklah enam punthukan batu, menyerupai nisan.

Mbah Saribin kembali bersemedi untuk mencari tahu, siapa yang dimakamkan di tempat itu.

Sosok penunggang kereta kencana kembali muncul dan memperkenalkan diri sebagai Kanjeng Sunan Kuning. Bersamanya Kanjeng Sunan Kali, Sunan Ambarawa, serta para abdi: Mbah Kiai Sekabat, Kiai Jimat, dan Kiai Majapahit. Sejak itu, Gunung Pekayangan dikenal sebagai tempat ngalap berkah.

Suatu ketika, seorang warga keturunan Tionghoa asal Klaten bernama Ny Siek Sing Kang datang ke kompleks makam Sunan Kuning. la meminta tolong untuk menemukan emas berlian miliknya yang hilang di kereta api. Tiga hari menyepi, Siek Sing Kang mendapat wisik, harta yang ia cari telah berada di kantor polisi.

Sebagai ungkapan syukur, Siek Sing Kang membangun nisan serta cungkup permanen di kompleks makam Sunan Kuning. la mengkonstruksi kompleks itu dengan gaya akulturasi Cina-Jawa.

Kini, makam Sunan Kuning berada di wilayah administratif Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat. Letaknya di puncak bukit kecil, di sebelah utara Jalan Muradi Raya.

Untuk mencapai tempat itu, harus melewati pemakaman umum warga. Sebuah gapura berlanggam Cina terdapat di pintu masuk. Pohon- pohontua seperti kecacil dan jangkang yang tumbuh merimbun membuat kompleks makam Sunan Kuning teduh.

Pengunjung makam berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa Timur. Mereka datang dengan aneka maksud dan tujuan, mulai dari mencari jodoh, penglaris, kemuliaan hidup, dan kesembuhan. Makam Sunan Kuning ramai pada Bulan Besar atau malam Jumat Kliwon di Bulan Sura.

Paro kedua tahun 1970-an, muncul kompleks lokalisasi di Kalibanteng. Karena letaknya di Jalan Sri Kuncoro, orang sering menyebut lokalisasi itu dengan singkatan SK. Nah, di sinilah kerancuan itu bermula. Mereka yang tidak tahu mengira SK kependekan dari Sunan Kuning, yang lokasi makamnya tak jauh dari tempat itu. Celaka, identifikasi itu kian melekat dari waktu ke waktu.

Sumber:
Buku Remeh-remeh Kisah Semarang (2012) karya Rukardi

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *