Sudijono Sastroatmodjo, Menjadikan Unnes Menara Air

Rektor Universitas Negeri Semarang (UnnesSudijono Sastroatmodjo berambisi menjadikan Unnes sebagai Universitas Konservasi. Konservasi berarti upaya pemanfaatan, pemeliharaan, dan pengembangan sumber daya secara lestari. Sudijono Sastroatmodjo juga ingin menjadikan Unnes “menara air”.

“Dan Unnes ini mempunyai satu konsep bahwa perguruan tinggi bukanlah menara gading. Perguruan tinggi haruslah menjadi menara air,” kata Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr H Sudijono Sastroatmodjo, MSi.

Artinya, lanjut Sudijono Sastroatmodjo, seperti halnya filosofi air itu yang selalu akan turun ke bawah, akan mengaliri lembah-lembah yang memang memerlukannya. Jadi secara otomatis nanti akan masuk di setiap celah.

Dengan filosofi itu, menurut dia, maka Unnes ini harus bergandeng tangan dengan kalangan luas, utamanya masyarakat sekitar karena kampus ini perlu ada satu kondisi yang terbangun secara baik didukung oleh masyarakat agar menjadi nyaman dan kondusif.

Selain menjadi arena pendadaran menyiapkan sumber daya bidang pendidikan berkualitas, peraih kategori Pengabdian Sepanjang Masa (Lifetime Achievement) dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2008 menyebutkan, Unnes juga secara dinamis mengembangkan universitasnya menjadi perguruan tinggi akrab lingkungan melalui dukungan yang kuat terhadap upaya pemberdayaan sumber daya keluarga menjadi kekuatan masyarakat mandiri melalui koperasi dalam lingkungan Posdaya.

Pada momen bulan kepahlawanan, seperti apa sesungguhnya kampus pendidikan yang terletak di Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah ini menjalankan semua programnya sebagai pengejawantahan dari penghormatan besarnya kepada para pahlawan yang telah berjasa memerdekakan kemudian mempertahankannya, wartawan Majalah Gemari Hari Setiyowanto secara khusus mewawancarai Rektor Unnes Prof Dr H Sudijono Sastroatmodjo, Msi, di Kampus Unnes, Sekaran, Semarang. Berikut petikannya.

Sekilas sejarah berdirinya Unnes itu seperti apa?

Kalau mengingat kembali 44 tahun yang lalu, sejarah Unnes ini berawal dari bagian kecil sebuah Fakultas Pendidikan Universitas Diponegoro Semarang. Tetapi dalam perkembangannya dari fakultas Pendidikan itu berubahlah menjadi IKIP (Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Semarang waktu itu.

Pada tahun 2000 semua IKIP yang ada di Indonesia berubah menjadi universitas, termasuk IKIP Semarang menjadi Universitas Negeri Semarang atau Unnes. Perubahan ini memang membawa konsekuensi logis bahwa ada tuntutan yang sifatnya kependidikan yang mengarah atau mempersiapkan putra-putra bangsa ini untuk menjadi tenaga pendidik atau guru tetapi juga sekarang Unnes menyiapkan tenaga-tenaga trampil yang profesional di berbagai ilmu umum.

Sementara untuk jumlah fakultasnya memiliki 8 fakultas yang meliputi fakultas pendidikan, bahasa, seni, ilmu sosial, MIPA, teknik, ilmu keolahragaan, ekonomi, umum. Selain itu Unnes juga memiliki program pascasarjana Strata (S) 2 dan S3.

Sejauhmana Unnes menyiapkan mahasiswa sebagai profesional?

Kami menyadari sejak tahun 2007 Unnes ini tidak menyelenggarakan program-program, kecuali program reguler. Dulu ada namanya program extention, ada program Sabtu Minggu, ada program kelas jauh, dan sebagainya. Kebijakan ini tidak lain agar setelah lulus rasanya terlalu lama masa tunggunya. Atas kesadaran itu, walaupun universitas ini tidak kemudian lulus dan mencarikan tempat. Tapi secara moral ketika lulus dari universitas ini kemudian dia mempersiapkan diri secara mandiri, selanjutnya akan membentuk keluarga, punya istri, dan dua tiga tahun berikutnya punya anak. Lalu kalau masa tunggunya lama ini membuat orang menderita semakin banyak.

Oleh karena itu Unnes menutup program itu dan menyelenggarakan program reguler. Artinya dengan program reguler akan bisa melayani dengan baik, memfasilitasi secara baik, dan insya Allah lulusan itu lulusan yang berkualitas dan mampu menjadi profesional.

Seperti apa program pemberdayaan Unnes?

Roh perguruan tinggi ini adalah Tri Dharma, yakni menyelenggarakan pendidikan pengajaran secara baik, menyelenggarakan penelitian secara baik, dan tak kalah pentingnya adalah pengabdian kepada masyararakat. Ketiga dharms tersebut memang harus dilaksanakan secara serta merta, sebab apa yang diperoleh di bangku kuliah ini harus diaplikasikan secara baik dan benar. Dan Unnes ini mempunyai satu konsep bahwa perguruan tinggi bukanlah menara gading.

Perguruan tinggi haruslah menjadi menara air. Artinya seperti halnya filosofi air ini selalu akan turun ke bawah, akan mengaliri lembah-lembah yang memang memerlukannya. Jadi secara otomatis nanti akan masuk disetiap celah. Dengan filosofi itu maka Unnes ini harus bergandeng tangan dengan kalangan luas, utamanya adalah masyarakat sekitar karena kampus ini tanpa ada satu kondisi yang terbangun secara baik didukung oleh masyarakat rasanya kita ini akan menjadi was-was dan menjadi tidak nyaman lagi.

Langkah ke arah sana sudah dilakukan dengan berbagai pelatihan, membuka kursus-kursus, dengan tokoh-tokoh masyarakat kita saling share. Tetapi juga bahwa kami ada satu lembaga pengabdian masyarakat yang menjalin kerja sama baik dengan pemerintah maupun pihak swasta manapun. Dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah misalnya, kami ada kerjasama menyikapi kebijakan Gubenur Jawa Tengah yang disebut Bali nDesa mBangun Desa. Kami mengambil bagian kecil khususnya di bidang pendidikan. Masyarakat yang memang memerlukan apakah pendidikan formal atau nonformal di situlah Unnes masuk.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah kerja sama dengan Yayasan Damandiri. Kerja sama dengan Damandiri ini melalui KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Melalui program ini mahasiswa melakukan pendampingan terhadap sekolah-sekolah baik itu pendampingan terhadap kelompok-kelompok belajar siswa maupun memberikan suatu pengetahuan-pengetahuan ekstra yang nanti bisa dikembangkan setelah anak itu keluar dari sekolah.

Dalam memberikan pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing masyarakat yang akan didampinginya, misalkan yang dibutuhkan adalah kegiatan pelatihan maka mahasiswa akan memberikan pendampingan pelatihan sesuai yang dibutuhkan. Pelatihan yang diberikan pun mulai dari pelatihan yang sederhana sampai pelatihan yang rumit.

Pelatihan sederhana itu seperti bagaimana ibu-ibu mengolah satu bahan yang di situ adalah seolah-olah tidak terpakai dan terbuang begitu saja, tetapi dengan garapan mahasiswa ini barang bisa bermanfaat dan bahkan bisa bernilai.
Sedangkan pelatihan yang rumit terkait teknologi informasi atau biasa disebut TI atau IT. Karena memang sekarang ini IT sangat dibutuhkan dan diperlukan untuk kemudahan-kemudahan komunikasi maupun mendapatkan informasi bermanfaat dan terbaru. “Nah di situlah peran daripada kami sebagai sebuah perguruan tinggi,” tambahnya.

Kerja sama dengan Damandiri melalui Posdaya atau ada memakai nama lain?

Kami tetap menggunakan nama Posdaya. Dengan Posdaya ini kerja sama yang kami bangun sudah memasuki tahun kedua merealisasikannya melalui KKN Tematik Posdaya bagi mahasiswa peserta KKN Tematik ini. Yang pertama, mengambil di lima lokasi mulai dari Kabupaten Sragen, Karanganyar, Kendal dan Semarang. Sedangkan pada tahun kedua mengambil lokasi di delapan daerah.

Pada tahun pertama tersebut ada tiga kegiatan. Satu di antaranya adalah memberikan pelatihan kepada guru-guru di sekolah tentang IT itu. Dan alhamdulillah bahwa apa yang dulu disemaikan di sekolah itu oleh Unnes dan Damandiri sekarang ini sudah tumbuh berkembang serta hasilnya sungguh sangat di luar dugaan. Jika dulu baru beberapa orang tetapi sekarang sudah bertambah berlipat lipat, pertambahannya bukan lagi deret hitung tetapi sudah deret ukur.

Pelatihan lainnya adalah bagaimana memanaj satu kegiatan di sekolah untuk satu mata pelajaran tertentu itu. Kemudian dengan metode apa pendekatan bagi seorang guru di dalam materi ajar itu. Kalau misalnya anak ada kesulitan itu bagaimana jalan keluarnya. Ini memang dilakukan oleh Unnes bekerjasama dengan Damandiri dalam rangka meningkatkan kualitas dari pada mutu sekolah, kualitas mutu lulusan atau sumber daya manusia (SDM) dari sekolah itu.

Selaku Rektor, Anda secara dinamis juga mengembangkan Unnes menjadi perguruan tinggi akrab lingkungan?

Betul, selain kami konsen terhadap masalah pendidikan secara formal, kami juga memiliki perhatian besar terhadap pengembangan lingkungan atau akrab lingkungan. Sehingga secara dinamis kami mengembangkan universitas ini menjadi perguruan tinggi akrab lingkungan melalui dukungan yang kuat terhadap upaya pemberdayaan sumber daya keluarga menjadi kekuatan masyarakat mandiri, termasuk dalam bidang ekonomi keluarga seperti yang ada dalam Posdaya.

Sebagai universitas yang direncanakan menempatkan dirinya sebagai perguruan tinggi akrab lingkungan, maka langkah awal memberikan perhatian kepada ekonomi bernapas kebersamaan itu merupakan langkah yang sangat strategis. Keluarga yang mempunyai kemampuan ekonomi tinggi akan bertambah sayang terhadap lingkungannya. Keluarga yang tidak lagi miskin akan makin cinta kepada lingkungannya.

Oleh karena itu upaya pengentasan kemiskinan merupakan langkah strategis dalam pemeliharaan dan pelestarian lingkungan. Keluarga dengan kegiatan ekonomi yang sangat intens akan menjadi keluarga yang tidak saja sayang dan akrab lingkungan, tetapi keluarga yang secara dinamis akan berjuang untuk keindahan, keseimbangan, dan akhirnya berakibat pada kelestarian lingkungannya.

Beberapa waktu lalu kami bersama staf dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Muslih Hudin, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jateng Ir Djoko Sutrisno MSi, dan Himpunan Pensiunan Kehutanan (HPK) Perum Perhutani Jateng Heri Purwanto, meninjau lokasi tanah untuk Hari Menanam Nasional di area kampus Unnes. Dan Hari Menanam Nasional untuk Provinsi Jateng dipusatkan di kampus Unnes Sekaran, yang belum ada bangunan fisiknya, seluas 70 ha.

Dari lahan seluas itu, 15 ha ditanami tanaman langka yang diresmikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Ir Rachmat Witoelar dan Gubernur Jateng Bibit Waluyo dan 15 ha lagi ditanami pohon jarak sebagai alternatif bahan bakar bioenergi. Sisanya 40 ha sudah ditanami tahun lalu.

Dalam rangka Gerakan Menanam Nasional ditanam 15 pohon oleh Sekjen Depdiknas Prof Dr Dody Nandika yang melibatkan dosen, karyawan, mahasiswa, rimbawan, perhutani, kepolisian, dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini bertujuan membuat kampus Unnes hijau dengan harapan bisa menjadi paru-paru Kota Semarang, menahan banjir, erosi, dan menahan laju tanah gerak.

Wawancara dengan Sudijono Sastroatmodjo ini diolah dari  Gemari.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.