Sucipto Hadi Purnomo Raih Penghargaan Rancage

Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes Sucipto Hadi Purnomo bakal mendapatkan Anugerah Rancage 2012. Anugerah untuk para kreator dan pejuang sastra daerah itu diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang digagas sastrawan Ajip Rosidi.

Kepastian ini diperoleh Sucipto melalui sejumlah media. Ia dianggap besar jasanya dalam pengembanga bahasa dan sastra Jawa. Atas penghargaan ini, ia berhak mendapatkan piagam dan sejumlah uang. Tentang waktu dan tempat pelaksanaan, akan diberitahukan kemudian.

Sejak 1989, yayasan ini telah memberikan puluhan penghargaan kepada orang yang berpengaruh di dunia bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini terbagi menjadi dua, yakni bidang karya dan bidang jasa.

Selain mengajar, Sucipto HP telah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia sastra Jawa. Sebagai penulis ia antara lain menulis ratusan tulisan tentang kebudayaan Jawa di Suara Merdeka sejak 1999. Tahun 2009 bukunya, Wong Jawa Kok Ora Ngapasi terbit.

Kepala UPT Humas Unnes ini juga memprakarsai Lembaga Kajian dan Pengembangan Pendidikan, Komite Jurnalis untuk Pendidikan,  dan menjadi Sekretaris Forum Bahasa Media Massa Jawa Tengah.

Selain itu, Sucipto aktif menulis, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Kecuali menulis karangan tentang kebudayaan, pendidikan, dan feature, dia juga menulis guritan dan lakon ketoprak.

Karangannya tersebar di surat kabar dan majalah seperti Suara Merdeka, Kompas, Panjebar Semangat, Damar Jati, Jayabaya, dan lain-lain.

Cerita bersambungnya dalam bahasa Jawa dialek Pati berjudul Saridin Mokong dimuat dalam Suara Merdeka edisi Muria lebih dari 800 kali muat dan judul itu kemudian dijadikan nama kesebelasan Persipa Pati: Laskar Saridin Mokong.

Di samping itu, ia menulis buku Wong Jawa (Kok) Ora Ngapusi (2008),Belajar Dusta di Sekolah Kita (2008), dan segera menerbitkan Ketoprak: Siasat Hidup di Antara Tradisi dan Modernitas.

Menanggapi penghargaan prestijius yang akan diraihnya, laki-laki kelahiran  6 Agustus 1972 merendah.

“Jujur harus saya katakan, saya tak begitu pantas menerima hadiah ini. Lebih-lebih jika mengingat sejumlah nama besar yang telah mendapatkan anugerah ini pada tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

“Anehnya, penghargaan justru diberikan ketika saya merasa makin menjauh dari orbit sastra Jawa. Karena itu, saya pun memahaminya sebagai sebuah panggilan untuk kembali mengkhidmati jalan estetis dan manusiawi ini,” kata Sucipto Hadi Purnomo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.