Streotip Buruk mengenai Pelajar Bermain Video Game

Bermain video game merupakan salah satu hiburan yang paling di gandrungi oleh pelajar jaman sekarang sehingga hal tersebut terjadinnya adanya stereotip buruk pada pelajar yang bermain game. Orang yang bermain game biasa di kenal dengan sebutan “ gamer ” sering dicap sebagai sosok yang anti sosial karena lebih banyak kegiatannya untuk bermain game dan tidak lepas dari layar digital yang dilihatnya.

Stereotip-stereotip mengenai gamer yang sering kita jumpai misalnya, seperti seorang gamer yang dicap sebagai sosok anti sosial dan kurangnya bergaul di lingkungan dikarenakan sering mengurung diri dikamarnya untuk bermain game, gara-gara dari pernyantaan streotip tersebut masyarakat umum menilai buruk dan mengangap gamer kurang akrab pada masyarakat sekitar.

Sejak munculnya akses internet di mana-mana juga memudahkan gamer untuk membeli sebuah game dari rumah dan tidak perlu harus keluar rumah tidak seperti dulu yang sebelum akses internet mudah didapatkan, gamer harus keluar rumah untuk membeli sebuah kaset CD game untuk dimainkan di rumah. Kemudahan tersebutlah juga menjadi faktor para gamer untuk malas keluar rumah dan tidak terlihat di lingkungan.

Kita juga pernah mendengar stereotip pelajar mengalami nilai rapor turun dikarena bermain game. Banyak di temui keluhan-keluhan dari orang tua yang mengeluhkan nilai anaknya menurun disebabkan oleh kecanduan bermain game. Kecanduan game tersebut telah mengabil waktu belajar anaknya dan sebelum tidurpun game itu tidak bisa lepas dari hadapan si anak. Faktor inilah yang membuat orang tua mengklaim turunya nilai rapor anaknya

Banyaknya kasus pelajar mengalami kecanduan game membuat orang tua khawatir pada perkembangan perilaku anak-anaknya

Kecanduan menjadi sebuah penyakit yang sering di temui pelajar karena seringnya bermain video game tanpa mengenal waktu dan dilansir laman techno.kompas.com Rabu (29/052019) WHO juga menetapkan kecanduan game sebagai penyakit gangguan mental.

Kecanduan yang dialami para pelajar ini dikarenakan tidak luputnya karena pengawasan orang tua yang tak acuh melihat aktivitas anaknya dalam bermain game.

Peran orang tua dalam mendidik anak menjadi faktor penting dalam mengajarkan anak dalam melakukan aktivitas-aktivitas positif. Kecanduan game terhadap anak terkadang tidak lepasnya dari kontrolnya orang tua dalam mengawasi anak saat bermain game seperti contoh kasus Franky (nama disamarkan) dilansir bbc.com Rabu (4/12/2019) Franky telah disodorkan smartphone pada saat berumur 5 tahun yang mengakibatkan ia mengalami kecanduan dan bisa menghabiskan waktu bermain smartphone dalam kurun waktu 8 jam sehari

Kecanduan game bisa diatasi jika orang tua lebih peduli pada aktivitas yang dilakukan anaknya dalam bermain smartphone. Apalagi sekarang sudah ada aplikasi pengawas aktivitas yang berjalan pada smarphone. Aplikasi pengawas ini bisa membatasi jam penggunaan anak dalam menggunakan smarphone dan jika anak ingin menginstall game atau aplikasi harus ijin melalui orang tua. Dengan fitur-fitur tersebut orang tua bisa bisa memberi batasan pada anak untuk bermain game.

Dulu pasti sering mendengar “ jangan sering main game emang kamu bisa makan hanya cuman main game “ dengan perkembangan dunia video game sekarang banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencari benefit atau uang dalam bermain game. dilansir techno.okezone.com jumat (8/11/2019), pemain profesioanal cabang game free fire bernama Artur menuturkan bahwa pemain profesioanal diberi gaji sekitar kisaran 3-4 juta perbulan. Artur juga menambahkan bahwa jika pemain tersebut semakin bagus bahkan menjuarai turnamen internasioanal maka gaji yang didapatkan semakin besar mencapai kisaran 10 juta perbulan.

Pekerjaan-pekerjaan baru mulai ada karena perkembangan video game yang melesat seiring berkembangan zaman seperti altit E-Sport, Analisis dan Shoutcaster.

Walaupun dunia video game sudah perkembang pesat dan sekarang mudah untuk mencari uang disana alangkah lebih baik untuk seorang pelajar untuk tetap memprioritaskan belajar. Ilmu yang didapatkan saat belajar jauh lebih berharga daripada kita menghabiskan waktu untuk bermain dan mempelajari sebuah game karena ilmu yang didapatkan kelak akan selalu digunakan untuk bekerja maupun hidup dalam tatanan masyarakat daripada sebuah game yang belum tentu akan selalu ada.

Sudah banyak kasus game yang dulu sangat ramai dimainkan sekarang sudah tutup dikarenakan game itu mulai sepi peminat disebabkan banyaknya game-game baru yang akan selalu muncul dengan varian yang lebih fresh dan menyenangkan.

 

[Fauzi Rizaldi]

Artikel opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah Jurnalistik dari Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.