Strategi Membangun Laut, Berdikari dengan Bantuan Teknologi

Diperlukan pengetahuan yang baik untuk mengembangkan dan memanfaatkan laut. Topangan ilmu pengetahuan kelautan sangat diperlukan. Untuk itulah, Indonesia memerlukan banyak praktisi dan ahli perikanan dan kelautan.

Ahli laut dan perikanan diperlukan karena karakteristik laut sangat khas. Baik kondisi alam, ekologis, maupun biodversitasnya sangat berbeda dengan darat. Jika dikenali dan dapat dieksplorasi, laut akan memberikan sumbangan kekayaan yang sangat besar.

Sebagai contoh, perairan barat Indonesia yang kedalamannya sekitar 75 meter, didominasi sumber daya perikanan pelagis kecil. Adapun laut di kawasan timur yang memiliki kedalaman hingga 4.000 meter, melimpah dengan pelagis besar seperti ikan tuna dan cakalang. Kekayaan sumber daya ini memiliki peran penting dalam pemenuhan protein hewani dari sektor kelautan.

Direktur Kerjasama Pembangunan Sektoral dan Daerah Bappenas Arifin Rudyanto  percaya bahwa pemanfaatan laut harus dilakukan dengan peningkatan teknologi. Teknologi memiliki peran penting, terutama di era persaingan antarnegara yang semakin ketat.

“Semakin tingginya persaingan dalam pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir, menuntut masyarakat untuk memaksimalkan produksi mereka. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan penggunaan teknologi,” katanya saat digelar  Sosialisasi Nasional Program MFCDP  .

Selain bersentuhan dengan teknologi, para nelayan juga harus paham tentang oseanografi, ekologi perikanan, stock assessment, interaksi laut dan atmosfer, GIS, ICT, dan marine accoustics, sehingga mereka tidak selalu menjadi kelompok yang termarginalisasi secara penghasilan.

Menurut Arifin, keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dalam penggunaan teknologi menjadi pemicu eksploitasi sumberdaya yang merusak potensi lestari. Jika dibiarkan, kondisi ini akan berdampak negatif bagi lingkungan. Salah satu contohnya adalah penggunaan bom ikan dan potasium sianida untuk menangkap ikan. Bom dapat merusak terumbu yang merupakan habitat hidup ikan.

“Contoh lain adalah adanya kesenjangan penggunaan teknologi antara nelayan besar dan tradisional yang berakibat pada makin terdesaknya nelayan tradisional dalam persaingan pemanfaatan sumberdaya laut, sehingga banyak yang beralih profesi menjadi buruh nelayan atau buruh bangunan,” katanya.

Profesor ilmu perikanan Universitas Diponegoro Muhamad Zainuri DEA mengungkapkan, teknologi memang salah satu masalah krusial yang diahdapi. Selain teknologi, masalah lainnya adalah Kualitas sumberdaya manusia (SDM), infrastruktur perikanan, sistem pemasaran dan kebijakan harga, overfishing, dan permodalan pelaku usaha perikanan.

Spesifik di bidang teknologi, Zaenuri menyebut ada sejumlah bidang yang segera perlu disentuh dengan teknologi. Salah satunya, jumlah spesies ikan budidaya masih sedikit. Menurutnya, diperlukan teknologi pemuliaan induk dan pembenihan. Selain itu, Indonesia juga memerlukan teknologi pengaturan kualitas air.

“Perikanan didominasi perikanan artisanal (kondisinya sebagian besar fully exploited dan over exploited). Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan pengembangan alat tangkap yang selektif dan teknologi penanganan ikan di atas kapal,” katanya.

Berwawasan Lingkungan

Pemanfaatan teknologi juga diperlukan agar eksplorasi laut dapat dilakukan dengan berwawasan lingkungan. Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Iwang Gumilang, mencontohkan, di pesisi utara Jawa Barat terjadi eksplorasi laut belum berwawasan lingkungan. Padahal, lokasi ini telah dijadikan Kawasan Strategi Provinsi (KSP) Jawa Barat.

Dosen kelahiran Sumedang ini menuturkan, sektor tambak kini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Budidaya tambak relatif memberikan kesejahteraan yang baik. Komoditas yang diusahakan merupakan komoditas yang berorientasi ekspor, sehingga nilainya relatif tinggi. Hanya saja potensi yang menjanjikan dari sektor tambak ini juga menghadapi tantangan yang tidak mudah.

Dari segi lingkungan, lanjut Iwang, kualitas air di kawasan pantura telah tercemar dengan kategori sedang hingga berat. Hasil kajian terakhir yang dilakukannya di kawasan Subang Utara menunjukkan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen [DO]) menunjukkan angka di bawah 3.

Guna menanggulangi hal tersebut, Iwang menyarankan penerapan model silvofishery di kawasan budidaya. Model ini memadukan tanaman mangrove di dalam produksi tambak. Namun, kata Iwang, ada beberapa modifikasi yang harus diintroduksikan mengenai model ini, terutama oleh pemerintah dan perguruan tinggi.

Menurut Iwang, silvofishery bukanlah melakukan penanaman mangrove di tengah tambak. Model silvofisehry yang direkomendasikan olehnya yaitu mangrove ditanam di area sekeliling tambak. Ideal lokasi tambak menurutnya berada pada jarak 100 – 150 meter dari bibir pantai. Dari jarak tersebut ditanami kembali tanaman mangrove yang berfungsi sebagai green belt.

Belajar Bersama Jepang

Pemanfaatan laut dengan tekonologi yang mumpuni telah dijajaki oleh Indonesia dan Jepang. Pada tahun 2012, sejumlah peneliti dan perwakilan lembaga pemerintahan Indonesia dan Jepang membahas kemungkinan kerja sama pemanfaatan laut sebagai salah satu energi terbarukan. Tahun 2013, Badan Pengkajian Teknologi (BPPT)  juga telah bekerja sama dengan National Maritime Research Institute (NMRI) Japan

Jepang memang dikenal sebagai negara yang sukses mengelola kekayaan lautnya sehingga berdampak pada kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakatnya. Meskipun tidak sebanyak Indonesia, Jepang juga merupakan negara keulauan. Pantai timur Jepang menghadap langsung ke Samudera Pasifik. Inilah salah satu kondisi yang membuat indutri perikanan Jepang relatif maju.

Namun, bukan hanya kondisi alam yang membuat Jepang memiliki industri perikanan baik. Negara itu mendukung eksplorasi laut dengan teknologi modern. Alhasil, Jepang menduduki urutan ke 2 setelah China dalam prosentase penangkapan ikan di dunia.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *