Sosiolog: Belajar Agama Harus dari Orang Berkompeten

Gerakan radikal di Indonesia ditengarai terus berkembang. Kadernya adalah anak-anak muda yang secara akademik sebenarnya terdidik. Mereka direkrut oleh organisasi tertentu yang memiliki agenda politik yang tidak relevan dengan ideologi kebangsaan, Pancasila. Ironisnya, gerakan semacam ini banyak berkembang di lembaga-lembaga pendidikan.

Bagaimana sebenarnya gerakan radikal di Indonesia berkembang, terutama di lembaga pendidikan? Bagaimana pula mengatasinya? Berikut dialog dengan pakar sosiologi agama, Yasir Alimi, Ph.D. Doktor lulusan Australia national University (ANU) yang dipandu Khoirul Anwar, beberapa waktu lalu.

Bagaimana kondisi perkembangan ideologi radikal di Indonesia, khususnya di dunia pendidikan?

Kalau bicara soal radikalisme atau radikalisasi, perlu kita catat fakta yang baru-baru ini kita lihat, misalnya peledakan bom di Sarinah dan Jalan Thamrin yang melibatkan aktor bernama Bahrul Naim. Bahrul Naim ini orang berpendidikan. Kuliah di universitas umum. Ia mengalami radikalisasi, diduga, terjadi di kampus.

Yang kedua dialami dokter Rika di Yogyakarta. Dokter Rika ini yang terlibat Gerakan Gafatar. Apabila kita lihat, gerakan ini tidak sama antara ISIS dan Gafatar. ISIS sudah menggunakan kekerasan, Gafatar masih belum menggunakan kekerasan. Ada visi yang tidak sama.

Apa yang perlu diperhatikan dari fenomena radikalisasi? Dalam gerakan radikalisasi ini, ternyata pelakunya banyak anak-anak muda. Banyak sekali memang para perekrut teroris atau gerakan radikal ini adalah orang muda. Ada sekitar 46 ribu postingan di Twitter atau FB yang digunakan untuk merekrut anak-anak muda menjadi pelaku gerakan radikal.

Di antara anak-anak muda ini tidak jarang yang berpendidikan tinggi. Kenapa mereka dieksploitasi? Karena mereka tidak tahu tentang agama yang sebenarnya. Jadi pelaku di Indonesia maupun di Paris, mereka ini kebanyakan baca Al-Quran ini tidak benar. Mereka memanfaatkan kebodohan atau kenaifan orang dalam beragama. Mereka memanfaatkan pengalaman buruk yang dialami anak-anak muda. Ketiga, mereka diberi fanatasi baru bahwa mereka menjadi orang saleh.

Bagaimana gejala awal untuk menengarai adanya paham radikal di kalangan muda terdidik?

Dalam sosiologi agama dan antroplogi agama sudah banyak ahli yang meneliti gejala ini. Para peneliti tidak sembarangan untuk mengidentifikasi apakah seorang sudah mengalami radikalisasi atau tidak. Misalnya teori yang dibuat Ladi Brown. Menurutnya ada empat tahapan seseorang mengalami radikalisasi.

Tahap pertama, ketika orang mengidentifikasi bahwa situation is not right. Pada tahap ini orang mempersepsi bahwa situasinya sudah nggak bener nih. Dia merasakan dirinya menjadi korban. Kita mengalami penindasan. Kedua, orang akan merasa its not fair, atau merasa diperlakukan tidak adil.

Pada tahap ketiga adalah its your fault. Pada tahap ini orang memainkan jari telunjuk, menunjuk orang lain bahwa ini kamu yang bertanggung jawab. Ini kesalahanmu.  Yang keempat, orang mengalami moral hardening. Dai menonton postingan-postingan video yang isinya kekerasan. Dia posting gambar atau video yang isinya kekerasan. Inilah yang menunjukkan bahwa seseorang sudah mengalami radikalisasi.

Bagi sosiolog, untuk mengidentifikasi apakah orang sudah mengalami radikalisasi atau belum, tidak dilihat apakah sudah terlibat terorisme atau belum. Tapi dilihat apakah sudah mengalami tahapan-tahapan itu? Kalau sudah posting-posting berita tentang kekerasan Syiah, kekejaman Bashar Asaad, dia sedang mengalami radikalisasi.

Apa penyebab seorang bisa terjerumus dalam gerakan-gerakan radikal seperti itu?

Baik pada kasus Gafatar maupun ISIS, penyebab utamanya adalah orang belajar tidak pada orang yang memiliki otoritas. Misalnya kepada internet, pada postingan berita, kyai Google. Maka muncul, misalnya ustad cerpipiking. Apa itu ustad ceripiking? Ustad yang pilih-pilih ayat-ayat tertentu sekadar untuk mendukung opininya.  Sempalan-sempalan yang tidak komprehensif. Itu karena tidak belajar kepada otoritas.

Kalau kita mau belajar Matematika, kita kan tidak mau belajar kepada orang yang tidak ahli matematika. Di universitas, itu diatur dengan aturan yang sangat ketat. Untuk jadi dosen matematika, orang haus belajar S1 matematika, S2 matematika, meneruskan S3 juga matematika, lalu jadi profesor bidang matematika. Ini menekankan pada otoritas. Kalau diajari oleh bukan otoritas, ini dalam pendidikan namanya missmatch.

Tapi banyak sekali orang berpendidikan ini, untuk urusan agama, justru belajar pada bukan ahlinya. Kalau belajar tidak pada orotitas,  maka menafsirkan sesuatu seenaknya. Kalau menafsirkan jihad seenaknya, menafirkan cinta tanah air itu thogut. Padahal orang yang ilmu agamanya sangat dalam akan mengerti bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, menghormati lambang negara juga bagian dari sistem keimanan. Karena tanah air itu sendiri sesuatu yang dicintai oleh Rasulullah.

Lalu bagaimana supaya gejala radikalisme ini bisa dicegah agar tidak merebak ke kalangan muda terdidik?

Kalau di kampus, yang perlu kita perhatikan, misalnya, kalau ada kelompok diskusi yang memposting kesesatan kelompok tertentu. Sekarang, misalnya, yang banyak posting kesesatan Syiah. Apa sebenarnya latar belakangnya? Kenapa terjadi pelipatgandaan wacana?

Ini sebenarnya kan konflik antara Arab Saudi dengan Iran, konflik politik di Timur Tengah, yang kemudian di Indonesia dibawa seperti konflik agama, konflik teologis. Dulu yang namanya Syiria itu sangat rukun, kemudian diterjang isu sekterian. Ini sesat, itu sesat. Pelakunya siapa? Anak muda. Anak-anak muda ini karena belajar tidak pada otoritasnya , terjadi konflik.

Dulu di Suriah ya seperti di Indonesia ini, dingin, adem. Peradaban tertua di dunia di Damaskus itu. Tapi sekarang terjadi konflik yang sangat mengenaskan. Bau anyir, darah, di mana-mana. Awalnya karena orang belajar agama bukan dari orang yang memiliki otoritas keilmuan. Kalau yang dipanggil ke pengajian orang-orang yang tidak memiliki otoritas, mungkin awalnya baik-baik, tapi nanti akan terseret pada fatwa yang keliru.

Oleh karena itu, sangat penting usaha untuk mencegah radikalisasi itu. Perlu ditanamkan rasa cinta tanah air kepada anak muda, mahasiswa, kelompok terdidik bahwa Indonesia adalah Tanah Air yang suci, yang dititipkan Tuhan yang Maha suci, dan hanya bisa dijaga oleh hati yang suci. Tanah Air ini indah dan hanya bisa dijaga oleh hati yang indah. Rasulullah sangat mencintai tanah airnya, Madinah.

Di kampus, kampus perlu mengetahui siapa orang-orang yang diundang ke pengajian. Tidak bisa, hanya dicegah melalui mata kuliah pancasila atau pendidikan agama. Paling hanya semester, sementara selama mereka kuliah bisa mengalami radikalisasi mingguan. Tidak bisa juga hanya melalui seminar sekali. Kampus harus mengetahui ideologi yang berkembang di kampusnya.

Sekali lagi, belajarlah agama dari otoritasnya. Karena kita, misalnya, ketika mau berobat ditangani oleh orang yang bukan ahlinya. Misalnya, kita tidak bisa percaya kepada orang yang hanya baca buku sekali. Kita ingin ditangani oleh dokter yang sudah dilatih oleh orang yang senior lagi. Yang senior ini sudah dilatih oleh orang yang senior lagi.

Apa simpulannya?

Gerakan radikal itu, dengan berbagai variasinya, karena orang belajar ilmu agama bukan dari ahlinya. Makanya di Al-Quran sudah disebutkan Fas Alu Ahla dzikri in kuntum laata’lamun. Apabila kau tidak mengeti, maka bertanyalah kepada ahlinya.

Fenomena yang terjadi si Suriah awalnya yang terjadi seperti ini. Anak-anak muda memang sosok yang selalu bersemengat. Mereka sebenarnya adalah korban, korban dari ideologi radikal. Mereka memanfaatkan konflik timur tengah untuk merekrut kader radikal di Indonesia.

Yang kedua, belajarlah dari ahli. Ilmu agama itu ditransfer dari hati, bukan dari buku. Yang ketiga, anak muda harus menjaga rasa cinta kepada Tanah Airnya. Karena, apa artinya pendidikan kita tapi akhirnya, misalnya, negara kita hancur. Orang berhadapan satu sama lain. Inilah yang harus kita lihat dan evaluasi.

 

MOH YASIR ALIMI S.Ag., M.A., Ph.D

Lahir:
Grobogan, 16 Oktober 1975

Alamat:
Jatisari Asri Blok A1/8 Jatisari Mijen, Kota Semarang

Pendidikan:
S1 IAIN Yogyakarta
S2 The University of Hull, London, Inggris
S3 Australian National University

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *