SMA Labschool UNJ : Pemanfaatan Gadget dalam Pelajaran Bahasa Indonesia

“Memanfaatkan gadget sebagai media dalam pembelajaran Bahasa Indonesia mampu mengembangkan daya kreatifitas anak-anak dan juga menambah semangat belajar saat pelajaran.” Ujar …. salah satu guru bahasa indonesia SMA Labschool UNJ Jakarta.

Guru Bahasa Indonesia SMA Labschool Reni mengatakan hal tersebut pada Rabu (17 /9) saat acara workshop di aula Labschool UNJ yang diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Workshop mengenai implementasi kurikulum 2013 itu membahas mengenai penerapan kurikulum 2013 di sekolah tersebut dengan pembicara Waka Kurikulum Prof. Suparno. Workshop juga dihadiri oleh dua guru Bahasa Indonesia dari SMA tersebut, yaitu Reni, S.Pd dan Drs.H. Rahman.

Dalam bahasannya mengenai penerapan kurikulum 2013 di SMA Labschool UNJ, Prof. Suparno memperkenalkan segala kegiatan yang berada di SMA tersebut, diantaranya program layanan belajar, kegiatan pembelajaran, sarana yang dimiliki oleh sekolahan, budaya labschool, program ekstrakurikuler, prestasi siswa, kegiatan unggulan, hingga beban belajar siswa dan cara mengevaluasinya. Semua kegiatan tersebut berjalan sangat apik di sekolah yang memiliki slogan “Rumah Keduaku” tersebut. Fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran dirasa tak kurang karena semuanya dapat memenuhi kebutuhan siswanya.

Kegiatan pembelajaran salah satu topik bahasannya ialah pelajaran bahasa indonesia. Implementasi kurikulum 2013 dalam pelajaran bahasa indonesia yang berbasis teks memang masih memiliki kelemahan dan kendala yang dialami baik oleh guru dan juga siswa. Guru dan siswa sama-sama megalami kendala mengenai jenis-jenis teks baru yang harus dikuasai dengan sumber belajar yang masih sangat terbatas. Terlebih, dalam kurikulum 2013 materi yang diajarkan dalam kompetensi dasar tidak dijabarkan satu persatu, melainkan harus dijabarkan oleh guru. Oleh karena itu, guru harus pandai dalam menyisipkan jenis teks satu dengan jenis teks lainnya yang masih terkait dalam proses pembelajaran.

“Sebagai guru, kita harus pandai menyisipkan jenis teks satu dengan teks lainnya yang masih memiliki keterkaitan.” ujar Reni.

Salah satu mahasiswa Unnes melontarkan pertanyaan pada saat sesi tanya jawab berlangsung. “Kendala apa yang dialami atau dirasakan oleh SMA Labschool UNJ dalam menerapkan kurikulum 2013, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia baik yang dialami oleh guru ataupun siswa.” tanya Dewi Prajnaparamitha Amandangi.

Hal tersebut ditanggap dengan sangat antusias oleh kedua guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurutnya, tak ada kendala berarti yang dialami oleh guru dan siswa. Justru, siswa merasa sangat senang ketika menghadapi pelajaran tersebut. Hal ini karena, cara yang digunakan oleh guru bisa menarik minta siswa. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan gadget dalam proses pembelajaran. Melihat perkembangan gadget-gadget canggih di era modern seperti ini, Reni sebagai guru bahasa indonesia memanfaatkannya dalam proses pembelajaran. Ia dapat menumbuhkan semangat siswa dengan memanfaatan gadget tersebut. Telepon genggam misalnya, ia memanfaatkan keberadaan telepon pintar yang dibawa oleh siswa untuk membuat suatu rekaman pembecaan puisi sebagai tugas pelajaran bahasa indonesia.

Jika sekolah-sekolah lainnya melarang siswa membawa telepon genggam karena khawatir akan mengganggu dalam proses pembelajaran, tidak dengan SMA Labschool UNJ yang membebaskan siswanya. Karena, dengan keberadaan telepon genggam justru akan mempermudah proses pembelajaran seperti untuk browsing di internet, mencari referensi, dan lain sebagainya. Aplikai-aplikasi yang ada di telepon pintar juga mengasah kreatifitas anak dalam membuat suatu tugas. Seperti tugas pembuatan puisi dalam pelajaran bahasa indonesia, siswa memanfaatkannya untuk membuat video pembacaan puisi kreatif dengan pengeditan yang baik sehingga menarik untuk dilihat. Bagi siswa SMA Labschool yang notabene memang hidup di kota metropolitan, keadaan teknologi canggih bukanlah sesuatu yang mustahil untuk digunakan, lain halnya dengan siswa yang berada di daerah tertinggal. Penerapan penggunaan gadget dalam proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswanya, apakah mendukung atau malah akan membebani siswa. Afrita Arisanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.