SMA 7 Semarang Kini Punya Flying Fox

TIDAK banyak sekolah yang menyediakan fasilitas flying fox untuk siswanya. Selain mahal,banyak yang tidak berani mencoba salah satu olahraga ekstrim ini. Tapi SMA 7 Semarang telah memilikinya sejak 2008 lalu. Seperti apa?

Sekolah yang terletak di Jalan Untung Suropati itu berdiri di atas tanah berbukit. Gedung yang satu terpisah agak berjauhan dengan lainnya. Tanah 16.350 meter persegi yang dimiliki sekolah tidak seluruhnya digunakan untuk membangun gedung. 4.231 meter di antaranya sengaja dibuat ruang terbuka hijau. Ada berbagai macam tumbuhan yang tumbuh menjulang.

Dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar sekolah itulah flying fox berasal. Awalnya, siswa hanya membuat lintasan tali dari pohon satu ke pohon lain. Namun, karena masih menggunakan tali, lintasan itu hanya digunakan untuk latihan memanjat. Baru pada tahun 2008 sekolah membangun lintasan permanen dari kawat kabel. “Dananya hasil patungan sekolah dengan alumni,” ujar Wakasek Sarana dan Prasarana Sri Yulianti, Jumat (3/12) kemarin.

Sri menambahkan, beberapa alumni sekolahnya memang bekerja di Badan SAR Daerah (Basarda) sehingga menguasai urusan semacam itu. Kini, setelah dua tahun dibangun, fasilitas itu masih kerap digunakan. Bahkan, siswa yang berminat menguji adrenalin dengan fasilitas itu semakin banyak. “Terutama saat ekstrakurikuler Pramuka setiap Jumat,” sambung Neti Tri Lestari, Wakasek Kesiswaan. “Tahun ini ada 356 siswa baru yang wajib ikut Pramuka,” lanjut dia.

Meski awalnya banyak siswa yang takut, kini fliying fox jadi permainan yang sangat digemari. Hampir setiap Jumat sore siswa yang tergabung dalam Dewan Ambalan berlatih. Bahkan, merasa tidak cukup dengan fasilitas yang ada, belakang mereka sering berpetualang di tempat lain. Kegemaran mereka pun bertambah, tidak hanya naik gunung, tapi juga rafting dan caving.

“Kemarin kami coba rafting di jembatan Tinjomoyo. Tingginya mungkin 15 meter,” ucap Edi Gunawan, siswa kelas XII. “Gua Kiskendo di Kendal juga pernah kami telusuri,” timpal I Gede Oka, siswa lainnya.

Gua Kiskendo di Desa Trayu Kecamatan Singorojo Kendal termasuk gua yang sulit dijelajahi. Selain panjang, semakin dalam gua semakin sempit. Penjelajah gua sering harus menundukkan badannya karena tidak cukup untuk berdiri. “Di titik tertentu, karena terhalang stalaktit kami harus merangkak,” Oka bercerita. Padahal, gua itu dialiri air, sehingga Okta dan kelima rekannya yang saat itu ikut basah kuyup.

Neti bercerita, gagasan membuat fling fox muncul supaya siswa gemar dengan ekstrakurikuler Pramuka. “Kesan Pramuka kan membosankan, jadi kami sediakan supaya anak-anak semangat,” ujarnya. “Saya pikir ini perlu karena flying fox kan juga mengajarkan tali temali dan melatih siswa percaya diri.” Terlebih, lanjut Neti, ada tipe siswa yang kurang sukses belajar di kelas tapi justru menonjol di bidang lain sehinga perlu difasilitasi.

Selain digunakan siswa, instalasi flying fox yang dimiliki SMA 7 ternyata kerap digunakan orang luar. Sejumlah sekolah di sekitar Manyaran pernah meminjamnya untuk berbagai kegiatan. “Boleh digunakan, tapi tetap harus izin dulu,” ungkap Sri. Pihaknya tidak memasang tarif, hanya perlu kontribusi untuk pemeliharaan alat. Maklum, biaya pembangunan faslitas itu terhitung mahal. “Di atas 20 juta,” lanjut Sri.

Menariknya, tidak banyak guru yang memanfaatkan fasilitas itu. Hanya beberapa guru putra yang berani mencoba. Ibu-ibu guru justru mengaku ngeri kalau harus meluncur dari atas kabel dengan kecepatan tinggi. “Apalagi saya. Jelas ndak berani,” aku Sri Yulianti sambil melihat tubuhnya. Tubuh guru bahasa Inggris ini memang terlihat lebih tambun.

Jika dilihat, lintasan sepanjang hampir 100 meter itu memang ngeri. Pantas tidak semua orang berani mencobanya. Titik start dibuat di atas tebing setinggi 15 meter melintasi di atas lapangan yang sudah dipaving. Jika terjadi kecelakaan jelas sangat berbahaya. “Tapi sejauh ini aman. Sebelum kami datangkan alat, kami sudah siapkan tenaga yang terampil mengoperasikan alat-alat seperti ini,” pungkas Neti. PortalSemarang.Com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.