Siapa Meny(i)apa Siapa

Belakangan saya merasakan kata sapaan di Indonesia semakin banyak. Selain hubungan kekerabatan yang telah lama dikenal, beberapa kata sapaan baru sangat populer terutama di kalangan penutur muda. Ada bro, sis, cyin, bray, sob, guys, juga us.

Kemunculan kata sapaan baru menunjukkan relasi manusia satu dengan manusia lain terjalin dengan kian variatif. Hubungan sahabat – misalnya – tidak lagi cukup diungkapkan dengan “kawan” atau “sahabat”. Jika dua kata itu terasa menjauhkan dua pribadi, penutur bahasa perlu kata sapaan lain yang lebih akrab.

Sampai di situ, saya kira, kata sapaan tidak bisa dimaknai sebagai kreativitas ekspresi berbahasa semata. Perkembangan kata sapaan juga menunjukkan perkembangan persepsi relasi dirinya dengan liyan.

Itu karena kata sapaan – jika kita percaya pada picture theory – adalah cat yang menggambarkan realitas internal dalam pikiran manusia. Ada sesuatu yang berubah dalam pikiran manusia sehingga perlu diungkapkan dengan cara berbeda.

Jenis kata sapaan yang lahir juga menandai tarikan budaya dalam bahasa. Maksud saya, sistem relasi manusia telah berubah berkat sistem nilai yang berubah. Adapun sistem relasi itu berkaitan dengan hal ihwal ideologis.

Di kelas, misalnya, saya membiarkan mahasiswa memanggil saya “Pak”. Padahal rentang usia kami hanya 8 atau 9 tahun. Sapaan “pak” saya pelihara supaya jarak antara saya dengan mahasiswa terjaga, meskipun itu tampak hierarkis bahka feodal.

Kadang, perubahan itu terasa konstruktif karena membuat hubungan manusia dengan manusia lain kian intim. Kadang, perubahan itu terasa destruktif karena memunculkan kerancuan berpikir.

Dalam penggunaan pronomina, misalnya, anak muda sekarang (ciye, yang ngrasa udah tua) tampaknya makin sulit menggunakan “kita” dan “kami” secara tepat. Mereka sering menggunakan “kita” untuk menggambarkan “saya dan orang lain”. Padahal, itu mestinya “kami”.

Nah, kerancuan berpikir semacam itu bisa berakibat panjang karena menunjukkan kekeliruan di posisi mana seseorang menempatkan diri. Dalam beberapa konteks, itu merepotkan.

Misalnya ada dua anak muda yang ugala-ugalan mengendarai sepeda motor sehingga menabrak mobil di jalan. Dua anak muda memiliki itikad baik untuk bertanggung jawab.
“Tenang, Pak. Biaya perbaikan mobil Bapak akan KITA ganti.”

Maksud anak muda mengucapkan kata “kita” untuk mereujuk dirinya dan temannya. Tapi karena tak cermat membadakannya dengan “kami”, urusan jadi rancu.

“Lho, saya tidak salah apa-apa kok harus ikut nanggung biaya perbaikan mobil?” (Sumber gambar: Crowdvoice)

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *