Shitology – Catatan ke-3 Harjanto Halim

Si Bungsu pamer buku kumpulan ilmu pengetahuan dasar, berjudul ‘WHY?’ yang dibelikan neneknya. Dua belas buku dijejer di lantai. Ada buku soal robot, soal golongan darah, soal mikroba, soal fosil, soal cahaya dan suara, dan ada satu buku yang menarik perhatian. Buku soal kotoran. Ya, satu buku soal kotoran alias tinja, alias poop. Satu buku full!

Saya tertarik membacanya. Ternyata sungguh menarik. Soal kotoran dibahas dengan cara yang ringan tapi ilmiah, dengan ilustrasi dilengkapi tokoh komik yang lucu.

Buku ini membahas masalah tinja dari A sampai Z: darimana kotoran berasal, bagian tubuh mana saja yang terlibat proses pembentukan kotoran (lambung, usus halus, usus besar dan anus), berapa berat kotoran (100-200 gram), bagaimana bentuknya (seperti odol atau pisang) dan apa warnanya (kuning atau coklat).

Ternyata ada hewan yang memakan kotorannya sendiri (kelinci, anjing, gajah), atau yang makan kotoran hewan lain (kumbang, camar laut, semut). Dan ada juga manusia pemakan kotoran (suku Indian Zuni di New Mexico dan Maki di Amerika).

Kotoran juga dipercaya sebagai obat. Kotoran serigala digunakan untuk obat sakit gigi dan pendarahan, kotoran merak untuk obat pusing atau ayan, kotoran keledai untuk obat insomnia; kotoran singa digunakan untuk mengusir rubah, kotoran gajah bisa dibuat kertas dan kardus, kotoran sapi untuk dinding bata.

Dulunya kotoran manusia dan hewan adalah komoditi yang berharga untuk pupuk, hingga di jaman dulu, di Korea sering terjadi pencurian kotoran.

Soal suara dan bau kentut, soal pipis, soal toilet dan septik tank, serta berbagai hal lain yang kerap menjadi pertanyaan sehari-hari, dibahas tuntas dengan lugas; tanpa tedeng aling-aling. Ada yang tahu, mengapa saat pipis kita bergidik?

Ternyata saat pipis, kita akan mengeluarkan cairan sebanyak 300cc dengan suhu sekitar 30 derajat. Saat pipis, panas tubuh ikut terbuang. Untuk mengembalikan panas yang terbuang, tubuh menggetarkan otot – bergidik. Hmm…

Jika ilmu kedokteran menyarankan kita memperhatikan apa yang masuk ke dalam mulut, sedangkan agama menyarankan kita memperhatikan apa yang keluar dari mulut, buku ini mengajarkan kita untuk memperhatikan apa yang keluar dari dalam perut!

Sebuah kesadaran baru yang patut dan wajib diajarkan. Yang najis ternyata tidak harus dihindari. Malah harus ditelaah dan dievaluasi. Jika kotoran langsung tenggelam, itu artinya kita kurang makan serat. Jika warnanya kehitaman, itu artinya kotoran terlalu lama di dalam usus. Jika mimpi menginjak kotoran, itu artinya rejeki kan segera datang.
Hehehe.

Cobalah kebiasaan baru nan sehat. Esok pagi sehabis be’ol, kotoran jangan langsung dibuang. Take your time. Amati dan perhatikan: warna, bentuk maupun bau. Siapa tahu? Sehatmu ternyata ada dalam be’ol-mu.

Bagaimana dengan hoki dan kotoran? Sebuah mobil kuras WC melaju kencang di jalanan. Nampak tulisan besar-besar di bak belakang: REJEKIKU DARI S*LITMU.

Harjanto Halim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.