Seribu “Namun” Hidup Tan Malaka

TINGGI tubuhnya hanya 165 cm. Otot wajahnya kuat. Dari sisa dokumentasi foto-fotonya, kulitnya tampak tak terlalu putih. Ketika bepergian ia lebih sering mengenakan baju safari dengan celana pendek, kaos kaki panjang hampir sampai lutut, dan topi perkebunan.

Dia pintar berorasi, bahkan dengan bumbu majas yang pas. Tapi kisah asmaranya berakhir memelas. Tiga kali ia jatuh cinta, tiga kali pula ia bertepuk sebelah tangan. Untung saja ia tidak mudah putus asa. Ia bahkan tidak pernah menikah, hingga kisah hidupnya (oleh Harry A Poeze dikatakan) “yang lebih dahsyat dari fiksi” berakhir di Kediri. Tan Malaka.

Kisah hidupnya menyajikan banyak paradoks. Pemikirannya dipengaruhi oleh berbagai aliran. Beruntung ia cerdas melekatkannya pada konteks.

Ia hidup di kampung halaman sebagai bocah badung yang suka sepakbola dan berenang di kali. Di Belanda ia menjadi remaja yang menyukai musik. Ia menjadi pemain cello band sekolah. Di Moskow ia penganut komunis yang taklid. Di Kanton ia menjadi inspirasi revolusi. Dan ketika di Filipina, ia disambut layaknya saudara tua. Namun di negerinya sendiri, ia “orang hitam” yang dinilai tidak layak menghuni lembaran sejarah.

Ia, sebagai tokoh tradisonal, adalah pemegang gelar Datuk atas marga Chaniago dan Piliang. Namun, ia menolak perjodohan. Ia menikmati pendidikan kaum kolonial Barat selama kuliah di Harleem, Belanda. Namun, ia kagum pada pidato Lenin yang gembong sosialis. Ia Muslim yang hafal Alquran. Namun, ia juga menjadi ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah distigma sebagai partai kaum atheis.

Petualangan Tan, yang bernama asli Ibrahim itu, benar-benar punya nilai jual faktual. Namun, ia juga menarik dikisahkan dalam dongeng sebagai tokoh khayal.

Sejarawan Belanda, Harry A Poeze, menelusurinya jejaknya selama 32 tahun. Kisahnya ditulis dalam buku setebal 2.200 halaman yang terbit 2007 silam.

Selain buku itu, lebih dari selusin buku mengulas perjalanan panjangnya. Namun, sebagai tokoh dongeng, Tan hidup dalam roman. Kisahnya, bahkan diwariskan secara lisan sebagai orang sakti yang bisa berpindah dari ratusan kilometer dalam satu kedipan mata.

Sebagai penggagas negara Republik, agak aneh bahwa dia juga pernah bekerja sebagai romusha di Bayah Banten. Dalam penyamaran sebagai seorang kerani di Bayah, ia pernah dimarahi karena mendebat Soekarno, pembaca utama buku-bukunya. Sebagai calon pewaris obor revolusi, Tan tidak pernah duduk menjadi pembesar negara. Sebagian hidupnya justru dihabiskan dalam masa buron. Akhirnya, dialah pahlawan nasional yang tewas di ujung bedil tentara republik.

Orang tak pernah mengenangnya sebagai orator sebagaimana rakyat negeri ini mengagumi Soekarno. Tapi ia memperoleh standing aplous yang panjang saat pidato di Kongres Komunis Internasional IV di Moskow. Ia bukan penyair, tapi bisa membikin sajak berbunyi; ingatlah, dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi. Ia lebih menyerupai futurolog yang meramal glorifikasi kisah hidupnya ketika ia benar-benar telah mati.

Pengetahuan Tan pernah dikagumi Sukarni karena melebihi wujudnya sebagai juru tulis. Visi perjuangannya jauh. Ia menggagas kesejahteraan bagi para kuli meski ia sendiri selalu pergi hanya dengan dua potong baju ganti. Ia tidak pernah disebut sebagai peletak nilai dasar pendidikan, namun Sekolah Rakyat yang didirikannya di Dili, menginspirasi hingga Bandung.

Nama besarnya dikenal hingga Belanda, namun batu nisannya di Selotanggul, Kediri belum bisa dipastikan hingga kini. Ia seperti menghendaki dirinya tetap menjadi misteri.

Itulah sederet “namun” yang terungkap dalam buku Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan terbitan Tempo. Buku ini menjadi semacam puzle yang saling terkait dengan tiga buku lainnya; tentang Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Bahkan, puzle itu sebenarnya tidak lengkap. Potongan puzle lain, terutama tentang Jenderal Soedirman tidak dihadirkan. Potongan puzle lainnya, yang cukup penting adalah Sukarni, Iwa Koesoma, dan Adam Malik.

Hdup Tan, sejak menyerahkan nyawanya pada ide revolusi memang tidak pernah berjalan normal. Ia selalu menjadi paradoks. Sikapnya yang keras membuatnya kerap gagal berdiplomasi dengan kepentingan lain di sekitarnya. Bagi orang seperti dia pilihan seperti hanya dua; menang atau tersingkir.

Dua pilihan itu pula yang ia tawarkan pada Soekarno-Hatta. Jalan diplomasi yang keduanya usung sebagai “cara damai” untuk merdeka, Tan tolak mentah-mentah. Ia menilai, kemerdekaan harus direbut, bukan diberikan. Kemerdekaan harus bulat 100 persen. Sedangkan berdiplomasi artinya tidak 100 persen. Ia kemudian memilih gerilya; jalan sunyi yang berat dan berisiko.

Sebagai sebuah puzle, buku 185 halaman itu akhirnya dirasa hanya bagian dari puzle yang lebih besar. Kisah yang ditampilkan hanya bagian kecil dari perjalanan panjang bapak Republik. Sangat terasa, ada banyak bagian yang ditanggalkan. Tim penulis, salah satunya Philpus Parera pernah saya temui di Jogjakarta beberapa waktu lalu, seperti tidak bersungguh-sungguh menarasikannya dalam lembaran buku. Mereka seperti menulis untuk majalah dengan halaman yang ketat.

Rahmat Petuguran, Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.