Sepuluh Pelajaran Berharga dari Kenaikan Harga BBM

Kenaikan harga BBM memicu berbagai tanggapan. Ada yang setuju, ada pula yang menolak. Dua kubu ini saling adu argumen, berupaya membuktikan bahwa pendapatnya adalah yang paling tepat.

Di luarkondisi itu, kenaikan harga BBM patut dijadikan pelajaran bersama. Setidaknya, sepuluh pelajaran ini patut direnungkan agar kita bisa bersikap lebih baik di masa yang akan datang.

1. Manusia Terus Berubah

People change. Orang berubah. Itulah nyatanya. Orang bisa saja memiliki tubuh dan nama yang sama, tapi dari hari ke hari dia adalah pribadi yang berbeda.

Perubahan sikap seseroang bisa terjadi karena dia dia memperoleh pengalaman baru, informasi baru, atau kepuasan baru. Perubahan pribadi seseroang juga bisa disebabkan oleh perubahan wawasan, pola pikir, dan akibat lingkungan yang baru.

Seroang lak-laki sederhana dan tanpa daya lima tahun lalu, bisa menjadi penguasa yang perkasa hari ini. Orang yang sabar saat miskin, bisa jadi pemarah saat dia kaya. Pejabat yang dulu menolak kenaikan harga BBM, sekarang bisa jadi inisiator kenaikan harga BBM.

2. Penguasa yang Sebenarnya adalah Elit

Orang boleh memberi arti “demokrasi” sebagai “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Tapi di negara demokrasi sekalipun, penguasa yang sebenarnya adalah para elit. Mereka adalah orang-orang yang memiliki modal finansial dan sosial melimpah sehingga cukup untuk memenangi kontestasi politik.

Hanya saja, elit di negara demokrasi berbeda dengan elit monarkhi. Di negara monarkhi, penguasa adalah raja. Seorang raja tampil layaknya penguasa. Di negara demokrasi, penguasa harus tampil semerakyat mungkin.

3. Selingkuh Pers-Penguasa itu Nyata

Ada anggapan, pers adalah pilar demorkasi keempat. Ada harapan, jurnalis harus mendengar harti nuranrinya. Ada optimisme, pengabidan utama pers adalah kepada warga negara.

Bagi pers saat ini, anggapan dan harapan itu bisa diterabas seenaknya. Sebaliknya, pers bisa berkongsi dengan penguasa. Pers menjadi partisan dengan memberitakan segala kebijakan pemerintah adalah baik.

Pada saat yang sama, pers bisa bermain-main dengan framing untuk mmberitakan demonstrasn sebagai tukang onar. Dengan cara itu, demonstran justru akan dicap buruk oleh masyarakat.

Maka, judul-judul berita yang muncul akan seperti ini:
1. Demo BBM, Mahasiswa Bentrok dengan Warga Makassar
2. Mahasiswa Bakar Pos Polisi, Demo Tolak BBM di Yogya Ricuh
3.  Demo BBM di Yogya Rusuh, Mahasiswa Rusak dan Nyaris Bakar Pos Polisi
4. Paloh: Keputusan Jokowi Soal BBM Bisa Diapresiasi
5. Surya Paloh: Kenaikan Harga BBM akan Dipahami Masyarakat

4. Bahasa Politik adalah Propaganda

Dulu Soeharto mengganti kata miskin menjadi “prasejahtera”. Dulu, tentara mengganti kata “menangkap demonstran” dengan “mengamankan”. Kini, seroang presiden mengganti “menaikan harga BBM” dengan “mengalokasikan subsisi ke sektor lain.”

Di tangan penguasa, kata adalah senjata. Bahasa adalah alat propaganda. Barangkali ada benarnya apa yang dikatakan dikatakan George Orwell berikut ini: “Bahasa politik didesain untuk mengungkapkan kebohongan agar terdengar sebagai kebenaran dan pembunuhan terdengar mulia, serta untuk membuat omong kosong terdengar meyakinkan.”

5. Suara Rakyat (Bukan) Suara Tuhan

Ada adagium “vox populi vox dei”. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Adagium itu hanya penghibur agar rakyat senang. Dengan adagium itu rakyat meerasa memiliki negara. Padahal nyatanya, keputusan-keputusan penting untuk rakyat ditentukan di sidang-sidang elit.

6. Kelas Menengah: Protes itu Kurang Kerjaan

“Terima aja. Naiknya cuma Rp2 ribu saja kok.”
“Naik 2 ribu aja rebut. Rokok 15 ribu masih dibeli juga.”
“Ngapain demo? Bikin macet aja?”

Warga kelas menengah yang hidup cukup sejahtera, merasa tidak terganggu dengan kenaikan harga BBM. Dengan gaji cukup, orang-orang yang lazimnya kerja di lembaga pemerintah ini masih bisa menabung untuk investasi. Lebih-lebih, mereka juga sudah menghitung, akan segera ada kenaikan gaji.

Dengan kondisi itu, mereka tidak perlu menentang kenaikan harga BBM. Sebaliknya, mereka jadi warga yang aktif mencibir para pemrotes. Mereka mencitrakan para pemrotes sebagai orang kurang kerjaan. Bagi mereka, para demonstran hanya perusuh.

Membangun persepsi buruk bagi para demonstran adalah strategi ampuh agar warga tidak turun ke jalan. Dengan cara itulah, orang-orang akan diam. Meskipun tidak sepakat dengan kenaikan harga BBM, mereka akan tetap diam.

7. Rakyat Malas dan Boros

Alasan paling sering dikemukakan pemerintah untuk menaikan harga BBM adalah subsidi tidak tepat sasaran. Dengan meminajm hasil riset sebuah universitas, mereka bilang “Delapan puluh persesn subsidi dinikmati orang kaya.”

Alasan ini terdengar masuk akal? Siapa yang mestinya mengawal subsidi agar tepat sasaran? Pemerintah. Mengapa subsidi bisa tidak tepat sasaran? Karena pemerintah tidak punya mekanisme pengawasan yang tepat.

Lha, kalau gitu, kenapa rakyat yang harus jadi korban? Karena rakyat malas? Karena rakyat boros?

8. Pemerintah Cerdas dan Pekera Keras

Dengan menghemat subsidi BBM, pemerintah bilang akan membangn infrastruktur. Pemerintah bilang akan mencerdaskan rakyat dengan kartu Indonesia pintar. Pemerintah bilang akan member pengobatan gratis dengan kartu Indonesia sehat. Pemerintah juga bilang akan menyejahterakan rakyat dnegan kartu Indonesia sejahtera.

Duh, duh, duh, kalau pemerintah cerdas, kenapa sih tidak melakukan efisiensi birokrasi? Kalau memang hebat, kenapa sih tidak mencegah pemborosan di instansi pemerintah? Kalau pemerintah smart, kenapa sih tidak melakukan pembersihan total sehingga korupsi di lingkungan pemerintah bisa dibabat habis?

Kalau cara-cara itu bisa dilakukan, uang negara yang bisa diselamatkan kan triliunan. Sekarang, siapa yang malas?

9. Pengamat Siap Merasionalisasi Kebijakan

Ada banyak akademisi di Indonesia. Dari sekian banyak akademisi, banyak yang siapa bicara apa pun di televisi agar kebijakan pemerintah tampak rasional.

Akademisi A bilang, kenaikan harga BBMadalah kebiajakan tepat karean inflasi sedang rendah. Akademisi B bilang, kenaikan harga BBM bagus untuk jangka panjang. Pengamat C bilang, kenaikan harga BBM menyehatkan APBN. Tapi nyaris tidak ada pengamat yang bilang, harga minyak dunia sekarang sedang turun.

10. Ini Hanya Tulisan Ngaco

Percayalah, akan ada ribuan orang yang menilai poin satu sampai sembilan hanya omongan ngaco. Betapa pun kenaikan harga BBM terasa berat, selama itu diputuskan oleh presiden, itu adalah keputusan terbaik. Apalagi presiden kita adalah presiden yang tidak mungkin salah. Maka, yakinilah dengan sesungguh hati, presiden benar, pemerintah benar, dan tulisan ini ngaco.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.