Semua Manusia Bersaudara, Mari Hidup Bersama

Buku dengan judul asli All men are brothers: life and thoughts of Mahatma Gandhi as told in his own words adalah sebuah autobiografi seorang Mohandas Karamchand Gandhi. Yang mana orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Mahatma Gandhi. Mahatma adalah sebuah gelar yang secara harfiah bermakna jiwa agung.

Dalam autobiografi ini, Gandhi tidak sedang berkisah sesuatu hal yang mengagung-agungkan diri sendiri. Buku ini meriwayatkan percobaan-percobaan Gandhi sekitar kebenaran yang demikian banyak dalam hidup. Kebenaran dalam beragama, bermasyarakat, berkeluarga, dan perdamaian.

Peran Gandhi dalam menggandeng rakyat india menuju kemerdekaan tak lepas dari konsistensinya mengamalkan ahimsa (pantang kekerasan). Suatu bentuk perlawanan atas kekerasan tanpa kekerasan. Dengan ahimsa, Gandhi bersama rakyat India membalas penjajahan atas negeri bukan dengan senjata, perang dan permusuhan, namun kasih sayang.

Gandhi meyakini bahwa kebencian dan kekerasan bila dipakai untuk tujuan mulia sekali pun akan menumbuhkan hasil yang sejenis. Bukan mendatangkan kedamaian malah membahayakannya.

Atas dasar nilai pantang kekerasan, Gandhi mengajak rakyat India dan siapa pun untuk mencintai orang yang membenci. Serta menjadikan lawan sebagai kawan.

Selain Ahimsa, nilai lain yang menjadi landasan Gandhi dalam menjunjung kemerdekaan ialah satyagraha dan swadeshi. Satyagraha adalah perjuangan untuk senantiasa menegakkan kebenaran, sedang swadeshi merupakan sikap cinta tanah air dan lebih menyenangi pemakaian barang-barang buatan rakyat sendiri.

Dalam keseharian, Gandhi lebih sering mengabdikan dirinya pada masyarakat. Gandhi mempercayai bahwa mengabdi kepada orang yang butuh pertolongan dan tertindas adalah jalan mencapai Tuhan. Satu-satunya jalan untuk menemukan Tuhan adalah melihat-Nya melalui ciptaan-Nya dan menjadi satu dengannya. Dan ini hanya dapat dilakukan melalui pelayanan kepada semua orang.

Salah satu sisi kemanusiaan Gandhi adalah malu, terkhusus dalam berargumen. Gandhi cenderung tidak lancar dalam berucap. Meski demikian, Gandhi tidak menganggap sifat malu itu sebagai halangan dalam berpendapat. Malah, Gandhi memperoleh pembenaran atas sifat malu itu. Gandhi sadar bahwa ia hanya mesti sedikit berucap, hemat berkata-kata, dan seperlunya dalam berbicara.

Sepeninggalan sang ayah, Gandhi sepanjang hayatnya bersumpah untuk tidak berhubungan kelamin kepada sang istri. Hal ini Gandhi lakukan sebagai penebusan atas rasa bersalahnya karena tidak dapat hadir sewaktu sang ayah wafat.

Hidup tidak kawin (brahmacharya) memberi hikmah kepada Gandhi dan sang istri dalam berkeluarga. Keduanya menjadi lebih dekat dari sebelumnya dan tidak ada kecanggungan sedikit pun dalam berkomunikasi. Hal ini ada karena tumbuhnya rasa cinta kasih yang lebih pada diri mereka.

Dalam buku ini, Gandhi menceritakan banyak kisah kepada pembaca. Macam kisah mengapa Gandhi membuat autobiografi, agama dan kebenaran, cara dan tujuan, penjelasan tentang paham ahimsa, pengendalian diri, perdamaian dunia, manusia dan mesin, kemiskinan di tengah-tengah kelimpahan, demokrasi dan rakyat, pendidikan, kaum wanita dan serba-serbi dari Gandhi.

Akhirnya, ingin kusampaikan sepatah ucapan Gandhi yang dikutip Mochtar Lubis dalam kata pengantar buku ini. “Aku tidak hanya hendak menghimbau pikiranmu, tetapi aku ingin merebut hatimu.”

Nicko Fernando
Pegiat Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *