Semarang Toys Comunity (SToC), Kolektor Mobil Mainan

Di sela aktivitas bekerja, orang punya cara berbeda menyegarkan pikiran. Bagi anggota SToC (Semarang Toys Comunity) cara yang mereka pilih adalah bermain mobil-mobilan. Meskipun sudah tua, mereka asyik berbincang soal mainan satu ini. Bahkan ada yang menyiapkan anggaran khusus untuk hunting koleksi.

Salah satu pecinta toys itu adalah Ariyanto Raharjo. Usianya tidak lagi muda. Bahkan, tidak lama lagi ia bersiap menyambut anak keduanya. Namun, soal mainan, ia masih sangat hafal. Ketika menggelar koleksinya di Taman KB Minggu sore kemarin, ia tidak canggung berkomentar banyak. “Ini anodays. Harganya Cuma 25 ribu. Murah kan?” katanya, menjawab seorang anak yang menunjuk salah satu jenis mobil.

Ari mengaku sudah senang dengan mobil-mobilan sejak kecil. Namun, ia mulai serius mengoleksi sekitar tahun 2000. Saat itu ia masih mahasiswa. Namun karena anggaran terbatas, ia tidak terlalu sering berburu. “Begitu sudah kerja, aku mulai serius cari,” katanya.

Hingga saat ini, tidak kurang dari 700 koleksi ia miliki. Sebagian ia pajang di rumah, lainnya sudah dikarduskan. Beberapa koleksi sengaja ia jual untuk mendapatkan koleksi lain. Sebab, belakangan ia fokus mengoleksi jenis truk kontainer. “Aku suka karena detailnya bagus. Suspensinya main, setirnya  bisa digerakan, kabelnya juga terlihat jelas. Asyik deh,” kata warga Jalan Mulawarman, Tembalang ini.

Menurut Ari SToC berdiri tahun 2003. Awalnya, ketika di Jakarta ia bergabung dengan Tomoci (Toys and Model Comunity). Anggota komunitas ini ribuan orang. “Ada juga di beberapa kota. di Jakarta, di Bandung juga ada,” katanya.

Ketika pulang ke Semarang, ia bersama empat rekannya menggagas SToC. Awalnya hanya 5 orang, namun lama-kelamaan banyak yang bergabung. “Kalau di Facebook sudah ada 400 orang yang gabung, tapi kalau swept meet seperti ini sekitar 25 sampai 45 orang yang kumpul,” lanjut pegawai sebuah bank swasta ini. Swept meet adala istilah untuk menyebut pertemuan anggota komunitas. “Dulu sempat dua tahun di Pahlawan. Tapi sekarang pindah ke sini (taman KB). Di sini kan lebih asyik. Seger,” lanjutnya.

Kalau di Facebook sudah ada 400 orang yang gabung, tapi kalau swept meet seperti ini sekitar 25 sampai 45 orang yang kumpul.

Ari

Pertemuan diselenggarakan dua kali sebulan. Biasnya pada hari minggu di pekan pertama dan ketiga. Selain berbagi informasi, ada pula yang memanfaatkan pertemuan itu untuk berdagang. Menurutnya, pecinta toys ada tiga. Pertama, kolektor murni, yang hanya pengin koleksi. Kedua, pedagang. “Kalau saya yang ketiga, di tengah-tengahnya,” ucapnya seraya tertawa.

Selain bertemu sesama pecinta mainan di Semarang, mereka kerap ngluruk ke Jogja dan Solo. Di dua kota itu, menurut Ari, ada beberapa komunitas pecinta mainan. Lain waktu komunitas dari Solo dan Jogja yang ke Semarang. “Kayak pecinta mobil beneran, biasanya kita ngomongin mobil, mbahas spare part, bengkel di mana,” katanya.

Saat pertmuan itulah, transaksi jula beli koleksi terjadi. Minggu sore itu misalnya, belasan koleksi Ari terjual. Padahal, ia hanya menggelar koleksinya sekitar dua jam, pukul 4 sore hingga jelang Maghrib. Harga koleksi yang Ari tawarkan antara Rp 20 ribu hingga Rp 250 ribu. “Kalau di rumah saya punya yang harganya Rp 600 ribu,” ujarnya.

Menurut Ari, setidaknya ada tiga hal yang mempengaruhi harga koleksi. Pertama, bahannya. Bahan dari  besi dan baja biasanya lebih mahal. Kedua, tahun pembuatan. Semakin kuno mainan itu, harganya semakin yahud. Ketiga, negara produsen. Mainan produsen Amerika, produsen asli, harganya lebih mahal. Selain itu, ada juga mainan produsen Thailand.

Harga barang koleksi semakin mahal untuk tipe tertentu yang sudah tidak diproduksi. “Biasanya pabrik akan mengeluarkan final run kalau sebuah tipe tidak akan dicetak lagi,” katanya. Final run adalah istilah untuk menyebut edisi terakhir sebuah tipe. “Biasanya, final run banyak diburu,” jelas Ari.

Peminat mainan yang satu ini ternyata dari berbagai usia. Bahkan lintas genearasi. Radit misalnya, suka mobil-mobilan karena kakak perempuan dan ayahnya juga kolektor. “Di rumah juga ada, tapi tidak banyak,” kata siswa SMP 32 Semarang ini, yang mengaku gemar mengoleksi tipe Nissan seperti Forrd Ranger dan SX4 itu.

Berbeda lagi dengan Setiyadi, warga Genuk. Kini, usianya sudah 41 tahun. Beberapa helai rambutnya juga mulai memutih. Namun ia masih akrab dengan Hot Wheel. Bahkan, ia punya lebih dari seribu koleksi di rumah. “Saya koleksi mulai SD. Dulu sebelum berkeluarga sering sekali beli. Tidak pikir tekor, tapi kalau sekarang kan sudah pikir anak istri” katanya sembari tersenyum.

Untuk membiayai hobinya, Setiyadi sengaja menyiapkan anggaran khusus. Dalam sebulan, Rp 100 ribu ia siapkan untuk hunting. “Itu uang anggaran untuk beli lima. Saya cari yang harganya Rp 20 ribuan. Tapi kadang-kadang beli sampai 6, kadang 10, jadi nombok juga,” pungkasnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *