Islam dan Sains, Semakin Islami dengan Astronomi

Islam adalah agama yang sangat dekat dengan ilmu astronomi (mungkin juga agam-agama lain, saya tidak tahu). Cabang ilmu ini digunakan pemeluk Islam untuk mendukung berbagai keperluan ibadah. Hal ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang saintifik dan ilmiah. Iman terhadap Islam dibangun di atas kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, selain terhadap yang gaib.

Keterkaitan Islam dengan astronomi dapat ditelusuri dalam tiga hal. Pertama, kitab suci Al-Quran berisi sejumlah pengetahuan tentang astronomi. Dalam berbagai surat dan ayat, kitab suci menerangkan berbagai gejala astronomi. Sebgian penjelasan itu telah diterjemahkan dengan penjelasan saintifik dalam bentuk penelitian. Namun sebagian lainnya belum dapat diterjemahkan.

Al-Quran menjelaskan proses penciptaan alam semesta. Pada bagian lain, Quran juga menjelaskan proses pemisahan bumi dan langit. Lebih detail lagi, dalam Al-Quran juga terdapat penjelasan tentang terjadinya siang dan malam. Bahkan dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa alam semesta berkembang. Penjelasan-penjelasan ini telah ada pada abad ke-6 Masehi ketika astronomi belum jadi bidang ilmu yang sepopuler sekarang.

Kedua, ritual ibadah umat Islam tidak bisa dilepaskan dari ilmu astronomi. Untuk melaksanakan salat lima waktu, misalnya, umat Islam harus membaca posisi matahari terhadap bumi. Pengetahuan astronomi wajib digunakan agar salat dapat dilaksanakan tepat waktu. Untuk melaksanakan salat gerhana, umat Islam memiliki tradisi melakukan pengamatan benda-benda langit secara saintifik.

Demikian pula dalam penentuan ibadah puasa Ramadan. Peran ahli astronomi Islam sangat diperlukan. Mereka membaca pergerakan bulan (hilal?) untuk menentukan apakah bulan Ramadan sudah masuk atau belum. Demikian pula ketika bulan Ramadan hampir usai, para ahli astronomi Islam menggunakan pengetahuannya untuk menentukan apakah sudah memasuki Syawal atau belum.

Ketiga, pada abad pertengahan, sains Islam berkembang pesat. Sejumlah astronomi Islam melahirkan gagasan yang berkontribusi terhadap perkembangan astronomi modern. Dalam catatan dosen STAIN Jurai Siwo Metro Wahyu Setiawan, misalnya, ada Ibnu Shatir yang telah berkontribusi dengan mengkritik Sistem Ptelomy. Namun menurut Setiawan, nama Ibnu Shatir hilang dalam kajian astronomi modern. Astronomi modern lebih kenal Keppler dan Copernicus.

Memang, jika ditarik garis waktu, astronomi sudah dikenal sebelum ada Islam. Ilmu astronomi sudah mulai ada pada masa Yanuni Kuno. Beberapa tokoh yang berpengaruh dalam bidang ilmu ini adalah Philolaos, Hicetas, Syracus, dan lainnya.

Ilmu Falak

Dalam Islam, ilmu astronomi disebut dengan berbagai sebutan. Astronomi sering disebut sebagai ‘ilm al-hai’ah, ‘ilm al-ḥisāb, ‘ilm al-miqāt dan ‘ilm al-falak. Namun dari istilah-istilah tersebut, ilmu falak lebih populer sebagai sinonim dari astronomi. Kata falak sendiri berasal dari bahasa Arab yang mempunyai persamaan makna dengan kata madār atau orbit. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, falak diartikan sebagai lingkaran langit atau cakrawala.

Almanak Hisab Rukyat menyatakan astronomi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti matahari, bulan, bintangbintang, dan benda-benda langit lainnya dengan tujuan untuk mengetahui posisi dari benda-benda langit tersebut serta kedudukannya dari benda-benda langit lainnya.

Dalam bidang astronomi, ilmuwan muslim pada dasarnya banyak terinspirasi dari tiga peradaban, yaitu Yunani, Persia (Sassanian), dan India. Ketika masa keemasan, ada usaha yang sungguh-sungguh untuk menerjemahkan buku dari ketiga peradaban tersebut dalam bahasa Arab. Para astronom pertama Islam, yang berkembang pada pertengahan akhir dari abad ke-8 di Baghdad, mendasarkan karya astronomi mereka atas tabel astronomi Persia dan India.

Perkembangan astronomi oleh umat Islam berjalan terus. Hingga abad ke-14, Islam masih unggul dalam bidang astronomi dibandingkan peradaban lain, termasuk Barat. Namun menurut Huff (dalam Muqowim), kejayaan itu terutama berkat jasa Ibn Shatir dan sekolah Maraghahnya. Kemunduran terjadi setelah abad 14 karena faktor internal umat Islam yang mengalami kemunduran politik ditambah semakin minimnya kegiatan riset. Di samping itu, semangat saintis muslim tidak segera ditindaklanjuti secara kelembagaan sehingga kajian cenderung dilakukan secara personal.

Astronomi di Pesantren

Sebagai cabang ilmu, astronomi terus dipelajari oleh umat Ilam, termasuk di Indonesia. Ilmu falak menjadi bagian dari pelajaran yang diajarkan di beberapa pesantren. Untuk keperluan ini, beberapa pesantren bahkan memiliki observatorium sendiri.

Di Kudus, Pondok Pesantren Sirajul Hannan menjadi salah satu rujukan santri untuk belajar ilmu falakiyah. Yusrun Nafi yang juga Ketua Lajnah Falaqiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) mengakui spesialisasi ilmu falak di ponpesnya menjadi daya tarik bagi para santri yang datang menimba ilmu. Pada 2007, Sirajul Hannan mendapat bantuan laboratorium falak dari Kementerian Agama (Kemenag). Laboratorium tersebut dibekali dengan peralatan seperti teropong manual dan digital, theodolite, GPS, kompas, dan perangkat lain seperti kalkulator.

Pondok Pesantren Modern Assalaam Solo juga memiliki observatorium untuk menunjang pembelajaran bidang astronomi. Para santri tergabung dalam Club Astronomi Santri Assalam (CASA). CASA dulu hanya dianggap sebagai klub amatir biasa yang menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di Pondok Pesantren Assalam. Peminat klub ini pun sedikit. Namun seiring waktu, CASA makin berkembang dan mendapat tempat prestisius di kalangan komunitas pencita ilmu falak (perbintangan).

Setelah beberapa tahun, CASA menjalin kerja sama dengan Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Jawa Barat, dan membangun jaringan internasional dengan Astronomers Without Borders, Astronomy Clubs, Moonsighting Committee Worldwide, sampai National Aeronautics and Space Administration (NASA) milik pemerintah Amerika Serikat.

Dengan telekskop yang didatangkan dari Amerika dan Jepang, Pesantren Assalaam kerap menjadi titik pengamatan hilal. Jelang terjadinya gerhana, observatorium di pesantren ini juga digunakan untuk mengamati pergerakan bulan dan matahari. (Foto: assalaam.or.id)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.