Selain Sensasionalitas, Apa Trik Tribunnews untuk “Mengakali” Pembaca?

Situs berita online Tribunnews.com mendapat kritik pedas dari peneliti Remotivi Mohammad Heychael. Dalam sebuah artikel yang tayang di Remotivi.or.id, Heychael antara lain menyebut Tribunnews telah melakukan sejumlah pelanggaran kepatutan dalam pemberitaan tentang terorisme. Alih-alih memberikan pencerahan yang mendamaikan publik, Tribunnews mengekspolitasi terorisme untuk kepentingan komersial. (Baca: BagaimanaTribunnews Membantu Terorisme?)

Kritik terhadap Tribunnews sebenarnya bukan hal baru. Media itu telah mendapat kritikan keras dari para pembacanya sejak beberapa tahun lalu. (Baca: Sekampret Inikah Media Kita?).

Kritik ini berpusat pada sensasionalitas yang digunakan Tribunnews sebagai “barang dagangan”. Beberapa penulis (yang mungkin bukan wartawan) Tribunnews memiliki keterampilan melebih-lebihkan sesuatu, sehingga peristiwa yang tak memiliki nilai berita ditampilkan tampak memiliki nilai berita. (Baca: Kumpulan Berita Hoax Tribunnews)

Kecenderungan Tribunnews untuk memberitakan hal-hal yang sensasional ditengarai sebagai strategi bisnis yang tak mengindahkan kepentingan publik. Media itu lebih mementingkan keuntungan perusahaan yang diperolehnya melalui klik iklan daripada pencerahan terhadap publik.

Sebagai media dengan konten gratis, Tribunnews memang mengandalkan pendapatannya dari iklan. Dan ketika pendapatan dari iklan jadi tujuan, produk yang dijual bukanlah berita itu sendiri melainkan pembacanya. Karena itulah, menggaet sebanyak mungkin jumlah pembaca berarti memproduksi sebanyak mungkin produk. Semakin banyak produk yang dimiliki, semakin mahal ia bisa jual kepada pengiklan.

Pola semacam ini sebenarnya tidak hanya dilakukan Tribunnews. Dalam buku Trust Me I’am Lying, Ryan Holiday mengungkapkan bahwa mayoritas media online (terutama yang bergenre koran kuning), melakukan hal yang sama. Di Indonesia, apa yang dilakukan Tribunnews perlu mendapat catatan khusus karena dilakukan secara massif dan berkelanjutan.

Berikut beberapa trik yang dilakukan Tribunnews.com untuk mengeksploitasi pembaca sebagai produk bisnisnya.

Pseudojournalism

Banyak pembaca yang merasa bahwa berita-berita yang ditayangkan Tribunnews adalah pseudojournalism. Secara sederhana, pseudojournalism bisa diartikan sebagai produk setengah berita atau bahkan bukan berita yang dikemas seolah-olah sebagai berita.

Berita-berita yang tayang di Tribunnews tidak selalu lahir dari proses jurnalistik: liputan, wawancara, riset. Banyak berita di media itu, tampaknya diambil begitu saja dari sumber kedua yang validitasnya belum terverivikasi.

Salah satu “prestasi” Tribunnees dalam hal ini adalah berita tentang mole people. Media itu memberitakan bawah orang-orang bawah tanah muncul di Amerika. Padahal informasi itu, setelah dilakukan pengecekan, ternyata bersumber dari sebuah cerita fiksi.

Kesalahan konyol yang dilakukan oleh Tribunnews ini membuatnya dihujani kritik pembaca. Mereka memutuskan menghapus konten tersebut. Ya, setelah mereka meraih yang mungkin mencapai puluhan juta rupiah dari tersebarnya berita itu, mereka merasa cukup minta maaf dengan dua kalimat singkat. Tidak ada penjelasan mengapa kesalahan seperti itu bisa terjadi, tidak ada janji untuk tidak mengulangi.

Diskriminasi, Stigma, Stereotip

Media diharapkan memiliki idealisme yang jelas untuk memperjuangkan kepentingan publik. Salah satu caranya adalah menghindari staretotip dan stigma. Ini dirasa penting karena stereotip dan stigma adalah persoalan sosial yang berbahaya. Media mestinya memiliki tugas mulia, mengubah hal “bagaimana adanya” menjadi “bagaiman seharusnya”.

Tugas itu tampaknya tidak dilakukan Tribunnews. Alih-alih menghapus stigma, Tribunnews justru memperkuat stigma tersebut sebagai alat membangun sensasionalitas.

Lihatlah “berita” (benarkah ini berita?) tentang seorang petugas kereta api bertubuh kurus yang berhasil membuat tubuhnya menjadi kekar ini. Judul yang digunakan: Petugas KAI Dibully Karena Cungkring, Perubahannya Kini Bikin Kaum Hawa Ngiler!

Bahkan saya yang bukan perempuan pun merasa judul berita ini sangat mendiskriiminasi perempuan. Dalam judul tersebut perempuan distigmakan sebagai apa sehingga bisa ngiler hanya karena melihat tubuh laki-laki yang atletis?

Sumber Sekunder Tak Terverivikasi

Tulisan-tulisan yang tayang di Tribunnews banyak yang bersumber dari sumber kedua atau ketiga yang tidak terverivikasi. Media itu hanya menerjemahkan berita media asing, bahkan kerap dibumbui dengan fakta-fakta tambahan.

Tribunnews menulis berita tentang seorang dokter di Rusia memukul pasiennya hingga tewas karena si pasien menggoda perawat. Seorang dokter di Rusia yang memiliki postur tubuh besar memperingatkan pasien untuk tidak mengggoda perawat rumah sakit yang merawatnya. “Mengapa kau menyentuk perawat?” kata dokter itu.

Setelah beberapa pembaca melakukan pengecekan, peristiwa bahwa  seorang dokter di Rusia memukul pasien hingga tewas ternyata benar. Video insiden itu telah diputar berulang-ulang di stasiun televisi lokal Rusia dan menjadi viral di YouTube. Namun, klaim yang mengatakan “karena menggoda perawat”, itu tidak benar.

Tulisan yang tayang di Tribunnews itu ternyata bersumber dari Inquirer.

Jurnalisme Viral

Ambisi Tribunnews untuk mendapat kunjungan sebanyak mungkin, antara lain, dilakukan dengan menerbitkan kembali informasi yang sedang viral di media sosial.

Karena orientasinya adalah kunjungan, berita-berita ini tidak selalu berhubungan dengan kepentingan publik. Bahkan dalam banyak contoh, berita itu berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang.

Tribunnews misalnya, memberitakan seorang calon mertua di Medan yang meminta mas kawin besar kepada calon menantunya. Sumber beritanya adalah screenshot percakapan yang sudah telanjur beredar di internet.

Berita Sate

“Berita sate” adalah model pemberitaan serial yang merangkai satu berita dalam beberapa halaman. Strategi dipakai untuk memaksa pembaca untuk mengklik lanjutan berita. Dengan strategi ini, media memperoleh beberapa pageview sekaligus untuk sebuah berita.

Dengan staregi ini saja, Tribunnews berhasil mengkoversi satu kunjungan menjadi beberapa pageviews. Oleh mesin, ini akan dihitung sebagai kunjungan baru sehingga trafficnya menjadi beberapa kali lipat.

Strategi ini tampak wajar jika memang berita yang ditampilkan memang cukup panjang. Tapi oleh Tribunnews, “berita sate” tampaknya telah menjadi standar operasional. Akibatnya, meski tulisan yang ditampilkan pendek, akan tetap dipenggal dalam dua atau tiga halaman.

Ini merugikan pembaca karena dua alasan. Pertama, merepotkan. Kedua, waktu yang diperlukan menjadi lebih lama karena piranti harus me-loading halaman baru (termasuk iklan baru) untuk membaca berita yang sama.

Meski begitu, kenyamanan pembaca tampaknya bukan hal yang dianggap lebih penting dari kapitalisasi kunjungan. Ini kembali lagi ke prinsip yang saya sebutkan sebelumnya: pembaca adalah produk.

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.