Sedulur Sikep Sekolah, Perlukah?

Pada masa penjajahan, komunitas Sedulur Sikep memiliki sikap yang jelas terhadap sekolah. Mereka menolak sekolah karena menganggap institusi tersebut hanya alat kekuasaan kolonal. Setelah tujuh dekade merdeka, bagaimana sikap mereka terhadap sekolah?

Hingga kini, komunitas Sedulur Sikep masih eksis di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Kudus, Pati, dab Blora. Mereka menjalani hidup dengan pakem yang diwariskan leluhur mereka: Samin Surosentiko. Karena itulah, oleh masyarakat luas komunitas mereka sering disebut Samin.

Sedulur sikep dikenal sebagai sebuah komunitas yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang khas. Kekhasan ini melekat karena telah turun-temurun dari nenek moyang. Ajaran-ajaran mereka tidak bersifat negatif, melainkan sebaliknya: sangat memprioritaskan nilai-nilai kebaikan. Hingga kini, kehidupan sedulur sikep dilingkupi dengan kesederhanaan, dan kerukunan yang tinggi.

Sikap antisekolah yang ditegaskan Sedulur Sikep adalah sikap nonkooperatif yang sangat frontal. Sekolah pada zaman Belanda merupakan sebuah politik untuk memperdaya masyarakat Indonesia. Melalui sekolah, masyarakat Indonesia akan mendapat penanaman nilai yang berbasis kebudayaan Belanda. Selebihnya, kepandaian yang diperoleh dari sekolah digunakan untuk membodohi sesama. Sehingga

Sosiolog Universitas Negeri Semarang Mihda Naba Rizqi mengungkapkan, hubungan Sedulur Sikep dengan lembaga pendidikan cukup rumit. Kehadiran sekolah tidak serta merta dapat diterima meskipun Indonesia telah merdeka pada 1945.

“Proses penerimaan sekolah oleh Sedulur Sikep mengalami proses yang panjang dan melibatkan campur tangan pihak di luar sedulur sikep. Ini terjadi karena pada proklamasi kemerdekaan masih kental dengan nuansa Belanda,” terangnya sebagaimana ditulis pada Solidarity.

Sedulur sikep di Desa Klopoduwur, dicontohkannya, tidak mengenal pendidikan formal. Mereka cenderung menolak keberadaan pendidikan formal. Namun setelah merdeka, pemerintah mulai melakukan pendekatan agar mereka bisa bsesekolah. Sikap masyarakat Samin terhadap sekolah pun berangsur positif.

Perubahan pandangan itu, setidaknya, tergambar dalam dua hal. Pertama, pendidikan formal mereka anggap sebagai sarana mencari kepandaian. Ini merupakan harapan terbesar orang tua saat menyekolahkan anak-anak mereka. Kedua, pendidikan formal diterima sebagai salah satu aspek guna mengikuti perkembangan zaman.

Menurut Mihda, perubahan sikap itu terjadi karena tiga hal. “Pertama, interakksi masyarakat Samin dengan masyarakat di luar sedulur sikep, Kedua, perubahan orientasi hidup. Ketiga, pendekatan yang terus menerus dilakukan pemerintah dengan mempromosikan program sekolah.”

Dalam analisis tindakan, perubahan sikap Seludur Sikep terhadap sekolah termasuk tindakan rasional. Keinginan bekerja di luar sektor pertanian tergambar pada banyaknya warga Samin yang memilih mencari penghasilan di perantauan. Selain itu, kelompok pemuda dengan bersemangat mengharapkan pekerjaan yang lebih baik dari bidang pertanian.

“Sekarang mayoritas warga sedulur sikep memiliki latar belakang pendidikan sekolah dasar. Namun dalam dua tahun terakhir, anak-anak sudah mulai didorong melanjutkan pendidikan hingga jenjang menengah atas,” terangnya lebih lanjut.

Tindakan rasional, menurut Mihda, ditandai dengan adanya tujuan yang jelas. Sedulur Sikep memiliki alat dan tujuan yang nyata untuk meraih cita-cita sebagai masyarakat masa kini. “Walaupun dalam perkembangannya, budaya belajar di kalangan sedulur sikep masih memasuki kriteria rendah,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.