Sedekah, Kemenangan Manusia terhadap Uang?

Saat tes psikologi di sebuah rumah sakit saya diwawancara psikiater: apakah pernah atau sering merasakan kegembiraan mendadak atau tiba-tiba?

Sambil guyon saya jawab “Iya. Terutama kalau baru terima transferan uang lumayan banyak.”

Sang psikiater yang ramah dan antusias itu tersenyum. “Sama, Mas,” sahutnya.

Candaan ringan itu mengingatkan saya pada buku “Money” karangan Yuval Noah Harari, profesor sejarah dari Ibrani University yang mashur itu.

Buku Money sebenarnya nggak baru-baru amat. Ini saripati dari buku Sapiens dan Homo Deus yang disusun ulang secara tematik khusus bagian-bagian yang membicarakan duit.

Buku itu memberi wawasan bahwa uang ternyata sudah jadi subjek yang punya kuasa luar biasa besar dalam peradaban manusia.

Awalnya dia alat pertukaran. Objek. Namun tak lama kemudian ia menjadi subjek yang punya kehendak dan hasrat layaknya manusia.

Besarnya kuasa uang dapat ditelusuri dalam lintasan sejarah manusia.

Uang melahirkan bangsa-bangsa, melahirkan monumen-monumen, bahkan mampu membangun imperium global yang tak bisa dibangun manusia sendiri.

Di satu sisi, uang bisa berdaya destruktif besar memecah belah manusia. Perebutan uang seringkali jadi penyebab munculnya konflik dan perang.

Tapi uang juga menjadi perekat sosial yang ampuh, bisa bikin miliaran manusia rukun dan bersepaham. Uang bisa bikin orang-orang Romawi, Arab, dan India sama-sama mengakui uang denarius.

Tiga kebudayaan yang jauh itu terasa seperti tetangga dekat berkat uang.

Uang telah menjadi subjek dominan karena perannya kelewat jauh dalam urusan manusia. Semua-mua urusan manusia sekarang dinilai dengan uang.

Negara yang baik ya negara yang punya banyak uang. Dengan uang negara bisa membiayai pembangunan jalan, bendungan, dan pulsa untuk anak-anak sekolah.

Tokoh publik yang baik juga harus punya uang. Biar bisa memberi banyak derma kepada orang lain.

Bahkan suami dan ayah yang baik juga harus punya uang. Biar bisa belikan istrinya cilok goreng, langganan Netflix, dan sesekali es krim.

Penggunaan uang sebagai alat ukur kebaikan ini membuat dunia menjadi makin materalistis. Nilai-nilai hidup fundamental kian tersisih.

Nah, yang lebih bahaya lagi, uang ternyata punya kuasa membentuk perangai individu dan masyarakat. Bikin orang jadi cenderung egois, kompetitif, dan individualistis.

Ini saya ketahui baru-baru ini dari buku Daniel Kehnamen berjudul Thinking Fast and Slow itu. Di buku itu memaparkan eksperimen menarik.

Psikolog melakukan eksperimen “penyiapan” dengan membandingkan perilaku orang yang sudah terpapar uang dan belum.

Paparan uang bisa dilakukan tanpa sadar misalnya dengan menempatkan gambar uang di ruangan, screen saver di layar monitor bergambar duit, atau pengawas yang memainkan keping uang.

Di kelompok yang terpapar uang, perilaku individu cenderung lebih egois dan individualis dibanding kelompok yang tidak terpapar uang.

Selain menjaga jarak dengan orang lain, perilaku individualistis itu tergambar dari keengganan membantu.

Individu yang terpapar uang cenderung menjaga jarak tempat duduk lebih jauh dari orang lain. Ketika pelaku eksperimen sengaja menjatuhkan pensil, orang yang terpapar uang membantu lebih sedikit.

Kalau eksperimen itu valid, berarti kita telah menemukan pengaruh uang telah demikian dalam diri manusia.

Uang demikian perkasa bukan hanya membentuk struktur makro masyarakat tapi juga struktur kognitif kita sebagai individu.

Ini kondisi yang bikin saya lama merenung, membuat saya berpikir: kalau uang begitu berkuasa, apakah ada peluang manusia untuk mengalahkannya?

Jawaban atas pertanyaan itu saya temukan baru-baru ini: sedekah.

Ya, saya kira sedekah adalah pencapaian peradaban yang bisa membawa manusia menaklukkan uang.

Sebelum “sedekah” terbersit dalam benak saya, tentu saja ada berbagai bentuk perlawanan yang mungkin dilakukan terhadap uang.

Kembali ke barter adalah salah satunya. Tapi pada masa sekarang, ini mustahil dilakukan. Repot, hyung.

Mengisolasi diri dengan membentuk komunitas tanpa uang juga bisa dilakukan. Tapi jalan mundur ke sana juga sulit sekali dilakukan orang-orang zaman sekarang.

Cara lainnya bisa dilakukan dengan melepaskan ketergantungan terhadap benda meterial dan beralih sepenuhnya menjalani kehidupan spiritual. Kita tiru langkah para biksu dan pertapa di India Tibet, dan Bhutan itu.

Tapi cara itu juga berat. Peradaban manusia mungkin mandek kalau sebagian besar orang menempuh cara itu.

Nah, dalam aneka kemungkinan itu, saya menilai sedekah adalah jalan tengah yang paling mungkin.

Sedekah bisa dilakukan secara individual sekaligus kelompok. Nggak harus nunggu lama, sekarang pun bisa.

Pertama, dengan sedekah manusia tidak sepenuhnya memutus urusan dengan uang. Kita bisa tetap mengumpulkan dan bertransaksi dengan uang.

Tapi dengan sedekah kita membuktikan kepada uang bahwa kitalah yang menguasainya, bukan dia yang menguasai kita.

Uang menjerat kita dengan menciptakan iluasi motif bahwa uang harus selalu dikumpulkan. Kalaupun dibelanjakan ia harus membawa imbal balik ekonomis senilai uang: barang, jasa, kesenangan dan sebagainya.

Saat menyedekahkan uang kita tidak mengharapkan imbal balik itu.

Kedua, ketika disedekahkan uang berposisi sebagai subordinat. Ia kembali menjadi alat yang dioperasikan logika di luar logikanya.

Konsep sedekah adalah konsep sosial dan spiritual, bukan konsep ekonomi ala uang. Karena itu, ketika dioperasikan dalam kerangka sosial dan spiritual uang menjadi alat, bukan operator. Posisi uang lemah dan terdominasi, bukan mendominasi.

Dua argumentasi itulah yang bikin saya percaya sedakah adalah – sejauh ini – menjadi satu-satunya peluang manusia menaklukkan uang.

Rahmat Petuguran
Nulis sambil menghitung sisa cicilan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.