Sebuah Nasihat Bagi Anak Muda Bernama Ade Armando

Dear Pak Ade Armando…

Saya sangat tidak tertarik untuk melihat, mengukur dan menilai iman orang lain. Karena jangankan iman orang lain, iman sendiri saja saya tidak tahu bagaimana dan seperti apa. Misalkan Bapak bertanya kepada saya ; seberapa dekat jarak saya dengan Tuhan?Apakah saya calon penghuni surga atau neraka?Berapa tinggi iman yang saya miliki?Jawab dari semuanya hanya satu : Saya tidak tahu. Saya hanya punya itikad mendekati Tuhan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki. Hal lain lagi saya hanya punya prasangka baik terhadap Tuhan. itu saja.

Jadi saya tidak peduli Bapak mengatakan Tuhan itu begini dan begitu. Itu urusan Bapak dengan diri Bapak dan Tuhan tentunya. Karenanya silahkan menikmati pujian dan sanjungan dari pendukung Bapak dan silahkan juga menjalani perdebatan dengan orang-orang yang tidak sepakat dengan Bapak.

Saya hanya jengah saja dengan kesewenang-wenangan komunikasi yang Bapak perlihatkan. Seolah Bapak bisa begitu bebas berbicara dan memvonis sesuka hati. Di satu sisi begitu mudah dan enak mengatakan ini itu sesuai dengan apa yang ada di kepala Bapak. Tetapi di sisi lain ketika orang menginterpretasikan berbeda dengan yang Bapak maksud, mereka Bapak sebut bodoh dan dungu

Iya Bapak pintar. Saya tahu dan sadar itu. Kalau Bapak tidak pintar, mana mungkin bisa meraih gelar Doktor dari luar negeri. Dosen universitas-universitas ternama lagi. Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, berapa orang sih yang punya kemewahan seperti itu. Paling juga nol komo nol nol sekian persen. Hanya saja kalau Bapak pintar dan kami bodoh, apakah kewajiban si bodoh untuk memahami pemikiran si pintar atau kewajiban si pintar untuk berusaha memahamkan pemikirannya pada si bodoh?

Iya Bapak pintar. Saya akui itu. Kalau tidak pintar mana mungkin bisa menjadi pemred media online. Lalu menurut kepintaran Bapak, apa hidup itu memang cukup dihadapi dengan kepintaran?Dengan keilmuan yang Bapak miliki, menurut Bapak kenapa Nabi Muhammad itu disebut sebagai orang yang memiliki sifat Shiddik (jujur), tabligh (kemampuan menyampaikan), amanah (komitmen) dan Fathonah (cerdas)?Kenapa Nabi tidak hanya dianugrahkan sikap fathonah saja?Kenapa mesti ada Shidiq, amanah dan tabligh juga?kenapa fathonah selalu disebut di akhir?Di era ketika orang menyebutkan pentingnya multiple intelegencies dalam hidup, menurut Bapak dimana posisi kepintaran seseorang itu?

Bapak hendak meluruskan pemahaman kebanyakan orang tentang Tuhan. Menurut Bapak Tuhan mesti disampaikan dengan berbagai cara. Betul. Saya setuju itu. Tetapi dimanakah Tuhan ketika Bapak mengatakan orang-orang yang tidak bisa memahami Bapak dengan sebutan bodoh dan dungu?Apakah Tuhan ada di samping, belakang, depan atau jauh dari Bapak?Bukankah orang-orang yang Bapak sebut bodoh itu ciptaan Tuhan juga. Apakah keberadaan ciptaan Tuhan tidak mengingatkan Bapak akan keberadaan Tuhan?

Setelah menyebut orang bodoh, sekarang saya mendapat istilah baru dari Bapak; Fitnah. Menurut Bapak akhir-akhir ini Bapak sedang mendapat fitnah karena beberapa kalangan menyebut Bapak sudah menyamakan Tuhan dengan makhluk.

Sampai sekarang saya masih mencari-cari dimana letak fitnah dimaksud. Yang saya tangkap adalah ; Bapak menulis A dengan maksud A tetapi kemudian banyak orang yang mengartikan A, –A, B, C, D dan lain lain. Bukankah dalam komunikasi lazim kejadian seperti itu?Kita mengatakan sesuatu. Kemudian karena perbedaan referensi, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi ada orang yang mengartikan sesuai dengan yang kita maksud, ada yang mengartikan mirip yang kita maksud ada juga yang berbeda 100 persen dengan yang kita maksud. Lalu dimana letak fitnah nya?

Dari salah seorang pendukung Bapak saya mendapat jawaban. Katanya kalau mau menginterpretasikan ya kira-kira sajalah. Masak jauh melenceng seperti itu. Bila seperti itu jawabannya, bukankah saya juga bisa berkata sebaliknya?Kalau Bapak mau statemen ya kira-kira ajalah. Masak ngomongin eksistensi Tuhan dalam sebaris kata-kata di medsos?Orang yang sudah berpanjang-panjang nulis buku dan makalah tentang Tuhan saja masih disalah fahami. Apalagi Bapak bukan teolog atau agamawan.

Katanya lagi fitnah nya terletak karena setelah menginterpretasikan berbeda, lalu orang menyebarkan interpretasi itu kemana-mana. Saya lebih tidak faham lagi dengan jawaban ini. Orang itu jangankan berbicara, tidak berbicara saja bisa diartikan macam-macam. Terlebih di era medsos. Pembicaraan orang bisa menyebar kemana-mana tanpa bisa kita tahan. Kalau tidak mau ditafsirkan macam-macam dan tafsirannya tidak menyebar kemana-mana, ya diam dan tidak aktif di media sosial. Tetapi itu pun dengan catatan. Karena jangankan orang bicara, orang diam saja bisa diartikan macam-macam.

Tapi Pak, pemahaman saya ini hanya berdasar memori waktu saya mendapat mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi di semester 1 bertahun-tahun lalu. Sebagai Doktor ilmu komunikasi Bapak pastinya mempunyai referensi yang lebih mendalam dan up to date

Bapak juga menolak untuk mencabut pernyataan bahwa Allah itu bukan lah Arab. Karena bila pernyataan itu dicabut, berarti Bapak menganggap Allah itu orang Arab. Sehebat itukah pemikiran Bapak sampai tidak mau Bapak revisi atau cabut?Apakah dengan Bapak mencabut atau merevisi ucapan Bapak itu lantas Tuhan kemudian berubah menjadi makhluk, orang Arab atau sesuai dengan yang Bapak persepsikan?

Kenapa untuk poligami Bapak bisa berubah tapi untuk sekedar mencabut pernyataan tidak bisa?Bukankah dulu Bapak suka mengecam orang yang berpoligami tetapi sekarang berpoligami?Jadi sebetulnya Tuhan bagi Bapak itu yang mana?Tuhan yang maha tinggi pencipta kita atau pemikiran Bapak?

Bila memang pintar itu seperti yang Bapak tunjukan dan bodoh itu seperti yang Bapak katakan, maka saya faham kenapa banyak orang memilih menjadi bodoh. Karena lebih baik menjadi bodoh bila pintar itu seperti yang Bapak tunjukkan.

Delianur Delianur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.