Sains Firasat

“Itu anakku,” pikirku saat seorang perawat membawa bayi keluar dari ruang persalinan menuju ruang bayi.

Pikiran itu muncul begitu saja. Spontan.

Agak aneh sebenarnya. Pertama, karena perasaan itu muncul tanpa saya melihat wajah bayi itu.

Kedua, selama dua jam saya menunggu, ada 3 sampai 5 bayi yang dibawa keluar dari ruang persalinan.

Saat lihat bayi-bayi sebelumnya dibawa keluar, saya tidak merasakan apa-apa.

Tapi saat bayi yang satu itu, ada keyakinan yang amat kuat bahwa dia adalah anakku.

Perawat membawa bayi itu ke dalam ruangan, menempatkannya di dekat kaca. Karena itulah, dari luar ruangan saya bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Saya menatap bayi itu dengan takjub.

Dan bayi itu, lepas apakah penglihatannya sudah berfungsi atau belum, membalas tatapan saya.

Tatapan itu membuat kami terhubung.

Tapi kemudian, saya coba mengendalikan pikiran itu dengan bertanya. “Kalau ternyata itu bukan anakku gimana? Kan ada beberapa bayi yang lahir saat itu?”

Oleh semacam suara tertentu dalam pikiran saya, pertanyaan itu dijawab dengan amat yakin “Itu anakku!”

Sekitar lima belas menit saya menunggu di luar.

Perawat kemudian memanggil saya.

Ia membimbing saya menuju bayi yang saya maksud, bayi yang begitu keluar dari ruang persalinan sudah saya yakini sebagai anak saya, bayi yang beberapa menit setelah kelahirannya bertukar tatapan dengan saya.

Itu adegan yang beberapa jam kemudian membuat saya berpikir “Kok bisa begitu ya?” “Apa itu yang namanya firasat?”

Dalam khazanah kebudayaan Jawa, firasat adalah fenomena yang sudah lama diakui keberadaannya.

Firasat bisa dipahami sebagai keadaan yang dirasakan tentang akan terjadinya sesuatu.

Dalam perbincangan sehari-hari, firasat sering juga digunakan untuk menggambarkan perasaan di luar kesadaran tentang terjadinya sesuatu.

Dari perspektif budaya, keberadannya sudah diakui luas.

Tapi bagaimana menjelaskannya secara saintifik?

Satu-satunya penjelasan yang saya miliki adalah amigdala.

Dalam Social Intellegent, Daniel Goleman menjelaskan bahwa ada bagian otak berbentuk almond yang bertugas mengendalikan emosi. Itulah amigdala.

Bagian itu bekerja menyimpan informasi-informasi lembut yang seringkali tidak direkam otak karena dianggap kurang penting.

Saat seseorang bertemu dengan orang asing misalnya, ada perasaan di luar kendali yang kadang muncul begitu saja.

Ada orang asing yang segera bikin hati senang sebagaimana ada pula orang asing yang bikin hati kurang nyaman.

Perasaan-perasaan itu muncul di luar kendali kesadaran tanpa kita harus tahu orang itu siapa.

Karena otak tidak punya informasi apapun tentang orang asing itu, lalu dari mana emosi itu berasal?

Goleman menjelaskan bahwa amigdala dalam otak satu orang bisa terhubung dengan amigdala otak orang lain.

Komunikasi itu tidak harus mempersyaratkan kontak fisik, kontak informasi, juga kontak verbal.

Karena itulah ia berhipotesis amigdala terhubung dengan memancarkan gelombang sangat lembut sehingga terhubung satu sama lain. Dalam analogi teknologi sekarang, mungkin semacam bluetooth.

Bedanya, bluetooth dibatasi jarak fisik sementara amigdala tidak.

Itulah yang membuat seorang ibu atau ayah merasakan ketidaknyaman saat anaknya di luar kota atau negeri mengalami sesuatu.

Pengalaman saya pribadi menunjukkan gejala keterhubungan itu benar-benar ada.

Lalu, dari mana kemampuan itu berasal? Bukankah bayi baru lahir beberapa menit? Tentu saja bayi belum memiliki piranti bahasa untuk memahami satu sama lain. Bahkan pendengaran dan penglihatannya mungkin belum tentu sudah berfungsi sempurna.

Sekali lagi, dari mana kemampuan itu berasal?

Kaum evolusionis mungkin akan membuat penjelasan stereotipikal seperti ini: itu kemampuan alamiah yang diperoleh manusia melalui jutaan tahun evolusi.

Bisa saja penjelasan itu secara “teknis” benar. Ada jejak-jejak evolusi yang membuat setiap kemampuan manusia bisa dipahami dalam kerangka adaptasi lingkungan. Jejak itu bisa berupa DNA, kromosom, atau zat-zat biologis lain yang belum ditemukan.

Tapi, melampui penjelasan teknis itu, gejala itu menunjukkan besarnya kuasa Tuhan. Ia Maha Pengasih, Ia Maha Penyayang.

Rahmat Petuguran
Ayahnya Ishvara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.