Said dan Kesadaran Palsu

Pengetahuan telah lama disadari berpotensi menjadi sarana penaklukan yang efektif. Gagasan-gagasan serupa itu sudah muncul sejak era Gramci. Secara lebih progresif, gagasan itu dikembangkan Faucoult.

Tetapi pengetahuan tentang pengetahuan terus berkembang sehingga diketahiu bahwa pengetahuan itu sendiri bermacam-macam. Dalam pengantar Orientalisme-nya yang terkenal itul, Edward Said mengajak pembacanya untuk membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang dihasilkan karena keinginan untuk memperluas cakrawala. Kedua, pengetahuan yang dihasilkan dari motif menaklukkan.

Pengetahuan jenis kedua, inilah pengetahuan yang melahirkan kesadaran palsu. Pengetahuan jenis ini dikonstruksi sebagai mekanisme politik menggerakan pihak lain sesuai dengan keinginannya.

Dengan pengetahuan semacam ini, subjek tertentu merasa bergerak atas motif ideologisnya. Tetapi motif ideologis itu sendiri merupakan produk konstruksi sosial yang dilakukan dengan pengetahuan.

Said mencontohkan pengetahuan orang Eropa terhadap Asia sebagai contoh pengetahuan politis semacam itu. penjelajahan dan penjajahan orang Ebnua Biru didahului oleh dominannya pengetahuan (yang politis itu) tentang dunia Timur: Asia dan Afrika.

Pengetahuan itu, pada intinya, menempatkan Timur sebagai daerah yang jauh, eksotis, dan menggairahkan. Pengetahuan politis membuat Barat merasa perlu menjangkau Timur, bahkan menjadikannya sebagai penopang.

Misi-misi kolonialisasi kemudian mulai dilancarkan. Meski penjelajahan dan penjajahan Barat terhadap Timur sudah sejak era Napoleon, engetahuan yang oirentalistik itulah yang membuat ekspansi Barat kian menjadi.

Nah, yang menarik, di daerah jajahannya, para imperalis juga menggunakan mekanisme kesadaran semu untuk menaklukkan para pribumi. Heroisme Barat dibangun, inferioritas Timur ditanamkan. Ketika mekanisme ini berjalan, orang Timur mengidentifikasi dirinya sendiri dengan cara Barat.

Konsep itu teringat kembali lantaran “saya sadar”, rezim pengetahuan kita adalah rezim pengetahuan Barat. Positvisme bercokol digdyaa, berkembang menentukan mana pengetahuan yang bermakna dan mana yang tak bermakna bagi manusia. Padahal “Timur” selama berabad-abad lampau telah menemukan identitas keilmuannya yang asketis.

Dominasi pengetahuan Barat membuat bangsa Timur “terpaksa” menilai dirinya sendiri dengan cara Barat. Ini kondisi yang paradoksal, ganjil, dan menggelisahkan bukan?

Lebih-lebih, dominasi pengetahuan Barat itu sudah menlahirkan tekologi dominasi yang sangat mekanis: Scopus, misalnya. Melalui Scopus, pengetahuan Timur tentang ketimurannya hanya dianggap bermakna jika memperoleh legitimasi Barat.

Karena Timur dan Barat adalah dua entitas yang sedang berkontastasi, dominasi Barat dengan aneka teknologi turunannya membuat kondisinya seperti “Pukulan Pacquaio baru dianggap sah oleh wasit ketika Mayweather mengakui keberadan pukulan itu.”

Tetapi akademisi Timur sendiri tampaknya tak bisa mengelak dominasi Barat. Orang Timur, alih-alih membuat tandingan, justru berlomba memperoleh legitimasi Barat atas ketimurannya. Kok bisa? Sejauh itulah kesadaran palsu bekerja. Dan, kondisi itulah yang membuat Said ngekek-ngekek dari kuburnya.

Salam lemper,
Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *