Belajar dari Kasus Nanda: Begitu Rumitkah Hubungan Dosen-Mahasiswa?

SEORANG mahasiswa Universitas Malekussaleh, Nanda Feriana, dilaporkan dosennya ke polisi. Dosen merasa tersinggung dengan status Facebook Nanda yang ia rasa menghina. Kasus itu kini jadi perhatian masyarakat luas. Para pendukung Nanda mengampanyekan tagar #SaveNanda untuk mendukungnya.

Kalau cermati kasus Nanda, saya jadi berpikir, apa urusan dosen dan mahasiwa sebegitu rumitnya sih? Kok sampai dibawa ke polisi segala?

Lantaran saya baru 3 tahun ngajar jadi dosen, tentu saya tak punya hak mewakili pandangan dosen secara umum. Apalagi, pandangan dosen terhadap profesinya sangat beragam. Unik. Maka tak tepat kalau digeneralisasikan.

Menurut saya, hubungan dosen mahasiswa itu hubungan seru-seruan yang penuh kesenangan. Dalam batas tertentu, keseruan seperti itu sama dengan kseruan yang dirasakan pasangan suami istri yang dihadiahi putra/i. Dalam batas yang lain, keseruan seperti itu hampir sama dengan keseruan yang dirasakan kakak saat memiliki adik.

Apa iya sih? Suatu saat saya ke kampus dan ketinggalan dompet. Siang hari merasa lapar. Gak enak kalau harus ngutang di kantin. Maka, ketika kelas berakhir, saya menghampiri dua mahasiswa yang sedang berjalan berjejer, saya rangkul dari belakang.

“Kalian sudah makan belum?” tanya saya. Rona wajah mereka cerah, seperti akan menerima hadiah.

Saya dan dua mahasiswa itu e kantin. Setelah selesai melahap makanan di piring dan mengakhirinya dengan seruputan es teh, baru saya bilang “Dompet saya ketinggalan. Kalian bayari dulu. Besok gantian.”

Hahahaha. Wajah mereka membiru, seperti baru mendapat kesialan.

***

Hubungan dosen dan mahasiswa adalah hubungan akademik. Dua pihak itu bertemu untuk urusan akademik. Si mahasiswa ingin mengembangkan potensi dirinya, si dosen menyediakan diri untuk memfasilitasinya. Sesederhana itu.

Sampai di situ, hubungan mahasiswa dan dosen adalah hubungan yang indah. Dua pihak berangkat sama-sama dengan niat baik. Asal niat baik diimplementasikan dalam tindakan yang baik, niscaya akan membuahkan hasil yang baik.

Kalau begitu, kenapa kerap kali ada ketegangan-ketegangan antara mahasiswa dan dosen? Ketegangan semacam itu terjadi karena keduanya berasal dari zaman yang berbeda. Satunya masih muda belia, satunya sudah tua belia(u). Perbedaan usia itu membuat keduanya memiliki sistem nilai yang berbeda. Dari sinilah benturan-benturan kecil kerap terjadi.

Anak-anak muda seperti mahasiswa lazimnya menghendaksi segala sesuatu belangsung cepat. Saat ia mengaharap ada perubahan, ia mengaharap perubahan yang revolusioner. Sementara orang-orang tua, cenderung bernegosiasi dengan kepentingan lain di sekitarnya. Jadi ya, tidak bisa terjang sana terjang sini.

Mahasiswa, mungkin, adalah pribadi independen. Dia relatif lepas dari ikatan-ikatan sosial (apalagi yang jomblo! Hahaha). Adapun dosen lazimnya telah memiliki berbagai “kontrak” sosial yang membuat dirinya tidak lagi paripurna menjadi dirinya. Maka, kalau memutuskan sesuatu, dosen mesti mempertimbangkan lebih banyak hal.

Para dosen, lazimnya, adalah pribadi yang telah menempati psoisi sosial dan psikologis mapan. Adapun mahasiswa adalah manusia yang sedang menghadapi gejolak psikologis dan sosial. Dosen menghendaki status quo agar kenikmatan yang telah diraihnya dapat dipertahankan, sementara mahasiswa menginginkan perubahan.

Itulah kenapa dosen cenderung mengandalkan sistem yang sudah terbentuk, sementara mahasiswa cenderung mendobrak sistem yang ada. Dosen mengandalkan perencanaan dan kedisiplinan, mahasiswa mungkin cenderung mengandalkan bakat dan improvisasi.

Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat mahasiswa dan dosen kerap bertabrakan. Tabrakan bisa terjadi di kelas ketika perkuliahan berlangsung, dalam kegiatan ekstrakurikuler, juga dalam persoalan administrasi.

***

Selama tiga tahun mengajar, saya sudah belasan kali beradu argumen di kelas dengan mahasiswa yang berbeda pendapat. Kadang saya “menang”, kadang mereka “menang” (istilah menang sebenarnya tidak cukup tepat!). Selama tiga tahun itu pula saya belasan kali bertemu mahasiswa yang nilainya E karena tugas akhirnya terindikasi plagiasi. Ada yang tetap E karena memang plagiasi, ada yang nilainya berubah karena bisa memberikan argumentasi.

Tapi ada pula hal indah yang saya nikmati selama mengajar. Salah satu “keindahan” itu saya nikmati saat bertemu dengan mahasiswa di luar kelas dan mereka menyapa. Aduh seneeengnya. Keindahan lainnya adalah, baik sengaja maupun tidak, bisa main ke rumah mereka dan ngobrol dengan keluarganya. Serasa mendapat keluarga baru, cuy…

Di antara pengalaman menyenangkan itu, ada juga pengalaman canggung. Saat bertemu mahasiswa di luar kelas, mereka biasanya tetap cium tangan. Itu jenis penghormatan yang rasanya belum layak saya nikmati. Terlalu feodal. Kalau mengalami hal itu, saya sering mbatin “Mbok pipi aja!”. Biar egaliteeeeerrrr! (Foto: cobrapost.com)

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia sebuah universitas negeri di Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.