Cara Riwayat Meriwayatkan Kesenian

TABUH  bonang terdengar samar-samar di perempatan Pasar Peterongan, Rabu (21/9) sore. Kendaraan hilir mudik. Di antara bunyi knalpot suara itu terdengar lirih. Terdengar beberapa menit dan hilang beberapa menit berikutnya.

Riwayat bangkit ketika tabuh bonang dan gendang terdengar. Wanita lima puluhan tahun ini menuju tengah jalan. Di depan pengguna jalan yang berhenti karena lampu merah menyala, ia mulai menari. Sambil memegangi keranjang, ia meliukan anggota taubuh sebisanya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.

Riwayat tak sendiri. Ia mengamen bersama rombongan Wargo Budoyo lainnya. Dua orang, Tarmudi dan Suyahmin, masing-masing bertugas menabuh bonang dan kendang. Febri dan Danang menari bersama Riwayat. Sementara Pri Eko, yang bertugas menyerupai manajer, mengawasi mereka dari sebrang jalan.

Grup Wargo Budoyo berdiri sekitar dua tahun lalu. Pri Eko, pria asal Jogja, adalah inisiatornya. Awalnya mereka main untuk memenuhi tanggapan, seperti karnaval atau Agustusan. Namun karena tanggapan semakin sepi, mereka memilih turun ke jalan. “Setahun paling cuma dua atau tiga kali,” kata Pri.

Anggota Wargo Budoyo ternyata masih satu keluarga. Riwayat adalah istri Pri. Riwayat adalah anak Tarmudi. Danang adalah putra pasangan Riwayat dan Pri. Sementara Febri adalah anak Suyahmin. Seluruhnya adalah warga Kelurahan Kupang, Ambarawa. “Ada satu lagi anak perempuan saya yang biasanya ikut. Tapi akrena baru punya anak, sekarang momong aja di rumah,” terang Pri.

Ngamen di jalan sebenarnya bukan pilihan. Pekerjaan itu mereka pilih lantaran belum punya pekerjaan lain. Pri sendiri seorang peadagang musiman. Dulu ia punya “dasaran” di pasar Ambarawa. Jelang lebaran biasanya berjualan pakaian.

Sementara Danang, yang usianya baru 20 tahun, dulu bekerja di bengkel las. Ia keluar lantaran matanya tidak kuat dekat dengan api seharian. Lantaran belum dapat pekerjaan lain, ia mengikuti orang tuanya ngamen.

“Biasanya mulai jam 1 siang. Dari rumah berangkat jam 10, kita make up, terus ke jalan. Nanti selesai jam 5,” terang Tarmudi.

Sebagai seniman jalanan, mereka termasuk ceriwis mengurusi penampilan. Selain menggunakan make up, mereka juga mengenakan kostum atraktif. setidaknya kini mereka memiliki 6 kostum dengan berbagai warna. “Sekarang pake yang kuning, besok pakai warna lain, sementara yang ini diloundry,” papar Pri lagi.

Penghasilan mereka tak dapat dibilang besar. Setengah hari menari, mereka hanya mengantongi sekitar 150-200 ribu. Uang itu kemudian dibagi pada setiap anggota sebelum dipotong untuk transport dan laundry. “Satu orang dapat 25 sampai 30 ribu,” lanjutnya.

Meski demikian, Pri tak merasa malu. Ia yakin pekerjaannya halal. Meskipun memanfaatkan tempat publik, ia tak merasa mengganggu orang lain. Terlebih, ia tidak pernah memaksa pengguna jalan untuk memberi uang.

“Sebelum minta uang kami selalu permisi. Ngasih nggak ngasih tetep kami hormati,” katanya.

Pri juga yakin kehadirannya bisa mengibur para pengguna jalan. Karena itulah, tidak pernah ada kejadian tidak mengenakan yang menimpanya. “Pengguna jalan hormat juga. Mereka umumnya orang yang biasa lewat sini. Kalau hari ini mereka nggak ngasih, besoknya mereka pasti ngasih,” lanjutnya.

Inilah cara Riwayat dan kawan-kawan meriwauyatkan kesenian. Kesenian tradisional yang tidak mendapat tempat oleh zaman. Terlempar dari panggung, terdampar di jalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.