The Lady in Red: Cinta Akan Pulang Pada Hati yang Diyakini

Selama langit masih tegak di atas memandang bumi, selama itu pula cinta akan senantiasa hidup di dunia. Tema cinta tak pernah habis dieksplorasi. Menjadi tanda bahwa cinta dan manusia adalah dua sisi dalam satu kesatuan. Tak bisa dipisahkan, selalu bersanding dan saling memberi warna.

Sayangnya, ada jarak yang mesti ditempuh untuk menyatukan cinta dua manusia. Jarak itu bernama waktu. Subagio Sastrowardoyo dengan tegas menuliskan dalam puisinya: Waktu adalah faktor penting dalam permainan/ Waktu menguasai irama pada gerak/ pada pertemuan dan percakapan.

Begitu pula dalam novel The Lady In Red karya Arleen A. Berlatar ladang peternakan lengkap dengan sapi-sapi, pemerah susu, dan gudang jerami, pergulatan manusia menemu cintanya dikisahkan. Cerita cinta Betty dan Robert mengawali perjalanan panjang sebelum memasuki pergulatan cinta yang lebih rumit.

Betty dan Robert mengisi lembar-lembar penceritaan bagian satu tahun 1920 sampai 1955. Betty, perempuan peranakan Tionghoa yang tinggal di Amerika. Mencoba hidup sebagai orang Amerika dan melepaskan ingatan sebagai orang Tionghoa. Gadis pintar yang selalu mengakrabi buku-buku dan perpustakaan tapi di satu sisi tak tertarik memasuki sekolah kaum kaya. Hanya karena beasiswa saja yang memaksa Betty pada akhirnya menyerah. Menuruti keinginan orang tuanya untuk belajar di SMA terbaik di Frott Bragg, Redwood High School.

Sekolah yang diisi kaum kaya tak menarik bagi Betty. Kawan-kawan satu kelasnya berasal dari kelas bourjuis—meminjam istilah Marx—bukan teman yang menyenangkan. Terlalu sering berlagak memamerkan kekayaan orang tua dan sinis pada kaum kelas proletar. Redwood High School bagi Betty tak lebih dari sekadar panggung fashion show bagi siswa-siswanya memamerkan seberapa tinggi kekayaan (orang tua) mereka. Anak beasiswa seperti dirinya adalah aib yang mesti menyembunyikan dirinya di bawah kolong meja. “…mendapat beasiswa itu adalah kondisi menyedihkan seperti mendapat penyakit campak.” (hal. 18)

Robert, laki-laki yang berasal dari kaum bourjuis, namun terlalu sayang pada sapi-sapinya. Dia tak menyukai sekolah karena terasa menjemukan. Kebanyakan teman-temannya berlagak congkak dan tak asyik. Terpaksa masuk sekolah Redwood High School karena orang tuanya memaksa dia masuk sekolah itu. Bagi Robert, sekolah itu tak lebih dari ladang kering yang gersang, tanpa rumput dan sapi-sapi.

Baginya, ladang peternakan jauh lebih seru daripada sekolah. Bersama karyawan yang telah Robert anggap kakak sendiri, Burk, mereka mengurusi sapi-sapi, memerah susu, dan menjualnya. Ketika Burk menikah dengan Jane, Robert sangat sedih. Dia merasa akan kehilangan Burk yang telah menjadi kakaknya sejak kecil karena kehadiran Jane. Tapi perlahan, Robert bisa menerima karena Burk tetap menjadi seperti sebelumnya. Tetap menjadi teman bagi Robert mengurusi sapi-sapi dan ladang peternakan.

Sekolah dari kacamata Robert perlahan berubah. Adalah Betty yang membuat sekolahnya tak lagi seperti ladang kering yang gersang. Betty membuatnya terpesona dan jatuh cinta. Kini Robert tahu, mengapa Burk mencintai dan menikahi Jane. Rupanya ada gadis-gadis tertentu yang lebih menarik daripada sapi. (hal. 37)

Waktu menjadi sutradara yang mengatur kisah cinta mereka. Robert dan Betty nyaris tanpa pergolakan dalam menemu cintanya. Di bawah pohon dekat perpustakaan, mereka berkenalan. Di ladang peternakan, mereka berkencan. Dan waktu-waktu selanjutnya, mereka menikah, dikarunia keturunan.

Waktu berubah. Ia bukan lagi sutradara yang menulis kisah cinta Rhonda dan Greg dengan mudah. Rhonda adalah keturunan ketiga dari pohon keluarga Betty dan Robert. Sedang Greg adalah keturunan ketiga dari pohon keluarga Burk dan Jane. Rhonda dan Greg hidup di tahun 2003. Pergulatan cinta dua insan manusia ini tidak semudah buyut-buyut mereka. Greg dan Rhonda mesti menempuh jalan-jalan yang saling bertolak belakang.

Di sini, waktu terkadang menjadi jarak yang membuat mereka berseberangan. Kisahnya menebarkan aroma melankolis. Seperti Rhonda yang masih tidak menyadari bahwa dalam bait-bait kisah hidupnya, cinta yang ia cari hanya bermuara pada Greg. Greg pun sama, bahwa cintanya hanya pada Rhonda semata. Tapi waktu tak mempertemukan keduanya pada waktu yang tepat.

Novel ini menyusun skenario cerita cinta yang melintas generasi, dari masa hidup Robert hingga kisah cinta keturunan mereka, Rhonda dan Greg. Waktu direntangkan cukup jauh untuk dijejali kisah-kisah. Dari tahun 1920 hingga 2021 dan dibagi menjadi tiga bagian, konflik cerita berpusat pada dua hal: cinta dan dendam.

Bagian pertama menjadi milik tokoh Robert dan Betty, lengkap dengan segala perjalanan mereka hingga saling jatuh cinta. Bagian kedua, menjadi milik Rhonda dan Greg yang lebih didominasi cerita masa kecil mereka, lengkap bersama kesuksesan ladang peternakan sapi-sapi dan kehidupan keluarga keturunan Robert dan Betty. Dan di bagian ketiga, sepenuhnya milik Rhonda dan Greg yang tak hentinya didera konflik pencarian cinta mereka.

Kita mendapati cerita-cerita yang begitu enteng bergerak menembus waktu. Meski ditulis oleh orang Indonesia, kemampuan menggambarkan ladang peternakan sapi dan perusahaan pemerah susu secara detail perlu diapresiasi. Arleen menyuguhi pembaca dengan penggambaran ladang peternakan yang bisa dipertanggungjawabkan kesesuaian realitanya.

Letak geografis Amerika dengan segala budaya dan antropologisnya tidak ditampakkan menonjol. Sekolah, universitas dan kehidupan masyarakat negara adidaya yang liberal kurang dieksploitasi. Barangkali kekurangan novel ini adalah ketika buyut Betty masih hidup hingga Rhonda lulus kuliah, berkarir, hingga menikah. Bagi pembaca Indonesia, kondisi itu terbilang tabu. Bagaimana mungkin Betty yang telah memiliki cicit (Rhonda) masih sehat-sehat saja dan melakukan aktivitas biasa tanpa ada tanda-tanda kelemahan atau sakit? Bagi saya pribadi, itu sulit diterima di era sekarang.

Meski begitu, novel ini berani mengangkat latar kehidupan yang jauh dari urban, yang terlampau banyak dijejali mobil mewah, setangkup bunga mawar, rumah makan romantis yang mahal, dan kemewahan-kemewahan yang ditampakkan atas nama cinta. Novel ini menghadirkan perspektif lain bagi pembaca dalam menikmati cerita cinta yang mesti diperjuangkan dengan hati dan keyakinan.

Cinta selalu menemukan jalan untuk berpulang ke rumah yang telah ditetapkan. Sejauh apa pun manusia pergi, selalu akan ada hati yang menariknya kembali. Karena waktu, meski dia mahakuasa, tetap menyimpan secercah harapan di antara berjubelnya ketidakpastian. Puisi Joko Pinurbo agaknya pas dengan akhir cerita cinta Rhonda dan Greg. Aku pulang ke dalam engkau/ ke rumah singgah yang terlindung/ di antara dua kubah/ di mana ia datang berkerudungkan bulan.

 

M. Irkham Abdussalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.