Resensi Sapiens: Memahami Perubahan, Menemukan Pencerahan

Sekitar 13,5 miliar tahun silam, zat, energi, waktu dan ruang terlahir. Kisah itu bernama fisika.
Kira-kira 300 ribu tahun setelah itu muncul zat dan energi. Kisah itu bernama kimia.
Lantas, kira-kira 3,8 miliar tahun lalu mulailah lahir organisme. Kisah itu bernama biologi.

Itulah tiga ide pembuka pada halaman pertama buku Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia karya Yuval Noah harari.

Kalimat pembuka itu semacam janji kepada pembaca bahwa buku ini akan mengulas sesuatu dengan rentang waktu yang amat lebar. Janji itu dipenuhi.

Sebagai sejarawan, Harari menyimpan ambisi besar. Ia hendak bercerita mengenai awal mula manusia hingga manusia itu eksis ketika buku itu ditulis. Tentu saja itu periode yang amat panjang.

Beruntung, untuk membuat kisahnya lebih mudah dibayangkan, ia bisa membuat pembabakan yang masuk akal. Ia membagi periode perkembangan manusia dalam beberapa tahap revolusi, yaitu revolusi kognitif, revolusi pertanian, pemersatuan umat manusia, dan revolusi sains.

Pada revolusi kognitif Harari memaparkan analisis yang membuat homo sapiens berkembang menjadi makhluk yang lebih cerdas. Kemampuan kognitif itu berkah yang membuatnya bisa mengatasi tantangan alamiah, termasuk persaingan antarmakhluk hidup.

Berkat kecerdasannya, homo sapien kuno yang bermukim di Afrika, bisa menyebar hingga pohok Tasmania. Ketika bergerak ke utara mereka mengatasi suhu dingin sekaligus memusnahkan Nendartal. Sapiens kemudian bergerak ke Asia, sebelum akhirnya merambah Amerika dan baru-baru ini Australia.

Revolusi pertanian menjadi penanda perubahan berikutnya. Makhluk yang terbiasa mengumpulkan makanan dengan meramu dan berburu, perlahan tapi pasti mengubah diri menjadi penetap. Mereka mencukupi kebutuhan makanan dengan bertani dan beternak. Lahirlah desa-desa dan kemudian negara.

Kisah mengagumkan lainnya adalah kisah bersatunya sapiens dalam kelompok-kelompok besar. Berkat kemampuan imajinasinya, sapiens bisa membentuk sitruktur sosial yang kompleks.

Harari menganalisis ada tiga hal yang membuat manusia bisa bersatu dalam sebuah komunitas besar: uang, emperium, dan agama. Kondisi ini bertahan sampai sekarang.

Sains adalah kejutan luar biasa berikutnya. Temuan mesin uap mengantarkan manusia ke dalam babak baru yang fantastis. Mimpi terliar manusia menjadi nyata berkat kemampuan manusia berimajinasi, menggabungkan sains dan teknologi.

Namun, demikian ramal Harari, sains pula yang akan membuat homo sapiens tamat. Kalau bukan karena bencana nuklir, spesies homo sapien akan tidak lagi menjadi homo sapiens karena diutak-atik susunan kromosomnya dalam serangkaian usaha menciptakan adimanusia.

Sejarah yang Spekulatif

Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang  ilmu sejarah seperti  saya, kisah Harari dalam buku terasa memukau. Tapi fakta-fakta yang dikemukakan Harari kerap kali juga terasa spekulatif. Tak ada janji keakuratan dalam sejarah, apalagi kebenaran.

Dalam sejarah sendiri tersedia berbagai pendekatan yang memungkinkan para ahli mengembangkan analisis berbeda. Narasi sejarah tidak tunggal. Kita percaya dengan satu versi sejarah hanya karena ia tampak lebih masuk akal dibandingkan versi lainnya. Padahal kelak, versi sejarah yang kini benar bisa saja terbukti keliru.

Kerendahhatian penulis tampak pada sejumlah bagian. Ia mengakui sejumlah titik masih missing sehingga tak terajut dengan baik. Pada bagian lain dia mengakui bahwa kisahnya didasarkan pada bukti yang amat sedikit.

Sikap rendah hati demikian, barangkali bagian dari cara penulis menepati mantra ignoramus yang dikisahkannya sebagai dasar berkembangnya sains. Ignoramus adalah pengakuan bahwa manusia tidak mengetahui banyak hal, dan oleh karenanya perlu bergerak untuk terus mempelajarinya.

Sains modern berpangkal pada sikap ini, sesuatu yang – menurutnya – tak ditawarkan agama dan ideologi.

Makna Hidup

Di situs pembaca Goodreads, banyak pembaca yang memuji buku ini sebagai buku yang mencerahkan. Seorang pembaca bahkan mengaku, buku ini mengubah secara radikal persepsinya terhadap hidup dan lingkungannya.

Pada batas tertentu, saya juga merasakan hal sama. Periode panjang manusia yang dikisahkan Harari membuat saya merasa bahwa masa hidup manusia begitu singkat. Masa hidup manusia modern yang sekitar 70 adalah kerdipan mata dari mata rantai sejarah umat manusia yang usianya lebih dari 70 ribu tahun.

Lalu, apa yang mau dilakukan dengan usia yang singkat itu? Sekadar numpang makan, berkembang biak, dan kemudian mati seperti seekor kera?

Apa tidak sayang hidup yang sementara itu dihabiskan untuk: bangun pagi, berangkat kerja, istirahat, facebookan, beranak pinak, dan kemudian mati? Apa makna yang harus digali agar hidup ini layak dijalani?

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *