Membaca Amartya Sen, Menolak Identitas Tunggal

Cara manusia memahami identitas secara serampangan telah menjadi salah satu sumber bencana terbesar di muka bumi. Di satu sisi identitas telah membuat manusia-manusia yang berbeda dapat disatukan dalam sebuah ikatan imajiner yang absurd. Tetapi berkat identitas pula, manusia merasa dirinya adalah yang lain dari manusia lain.

Dalam buku Identitas dan Kekerasan, Amartya Sen menunjukkan bahwa ada dua kesalahan mendasar yang kerap dilakukan manusia dengan identitasnya. Pertama, persepsi adanya identitas tunggal telah mereduksi kesejatian manusia yang kompleks dengan berbagai afiliasi. Kedua, persepsi bahwa identitas adalah temuan, meski kenyataannya adalah pilihan.

Terkait kesalahan pertama, Sen mencontohkan bahwa ada kecenderungan manusia untuk mendudukkan manusia lain pada satu identitas saja. Seseorang dengan kecenderungan ini akan membuat sebutan yang tunggal kepada orang lain, misalnya, sebagai “orang Islam”.

Padahal, betapa pun identitas sebagai “orang Islam” adalah yang paling kuat, manusia tetaplah memiliki afiliasi dengan identitas lain. Misalnya, selain memilih keyakinan Islam, dia adalah seorang warga negara Indonesia, keturunan Jawa sekaligus Sunda, dia juga seorang eksekutif, sarjana ilmu politik, berpandangan moderat, pendukung larangan minuman keras dan sebagainya.

Amartya_Sen_NIHSebutan “orang Islam” sebagai satu-satunya identitas telah menghilangkan kemungkinan afiliasi seseorang. Dan itu berbahaya, karena identitas sebagai “orang Islam” diikuti dengan konskuensi politik tertentu. Misalnya, ketika pelaku pengeboman World Trade Center (WTC) adalah juga orang Islam, maka identitas tunggal “orang Islam” akan menimbulkan tuduhan yang sewenang-wenang kepadanya.

Tentang identitas “orang  Islam” sendiri, yang sangat tampaknya sangat problematik pasca-penyerangan WTC, Sen berpesan “Saat ini penting sekali untuk mencermati perbedaan antara (1) memandang kaum Muslim semata-mata – atau terutama – dalam kerangka keIslaman mereka, dan (2) memahami mereka secara lebih luas dalam kerangka afiliasinya yang beragam (Lihat hlm. 91)

Dalam banyak kasus, identitas tunggal yang kokoh dan statis telah menjadi sumber bencana kemanusiaan. Itulah yang terjadi, misalnya, ketika Hitler berusaha menghabisi orang Yahudi. Sebutan sebagai “Yahudi” telah jadi stempel yang membuat Hitler dan rezimnya merasa memiliki kuasa untuk  menghabisi mereka. Hitler sendiri tampak tidak peduli bahwa di antara sekian banyak orang Yahudi, barangkali, bisa saja adalah seorang pengusaha, pro-Jerman, dan barangkali sama-sama fasis.

Kodrati dan Temuan

Kesalahan kedua yang ditunjukkan oleh Sen adalah persepsi bahwa identitas adalah temuan. Dalam penggunaan kata “temuan” terdapat asumsi bahwa identitas bersifat kodrati, given. Manusia hanya bertugas “menemukan” sesuatu yang sudah ada dalam dirinya itu.

Hemat Sen, ada identitas yang bersifat kodrati tetapi banyak pula identitas yang pilihan. Untuk terlahir sebagai orang India, misalnya, adalah identitas kodrati. Identitas sebagai laki-laki atau perempuan juga mungkin sebuah bersifat kodrati. Tetapi identitas sebagai seorang liberal atau konservatif adalah pilihan, sebagaimana identitas untuk menjadi pecinta musik jaz atau musik rok, sebagaimana identitas untuk menjadi vegetarian atau pecinta daging babi.

Dalam menyikapi identitas kodrati sekalipun, Sen berpendapat, manusia memiliki pilihan untuk menjadikannya sebagai identitas yang dominan atau justru menjadikannya sebagai identitas yang kalah oleh afiliasi lain. Seorang pria memang akan tetap menjadi pria, tetapi dia bisa memilih apakah dirinya ingin dikenali sebagai seorang pria atau seorang dosen ekonomi, seorang penikmat kopi, atau sebagai fans Manchaster United.

Ulasan Amartya Sen dalam buku ini akan memperkaya perspektif pembaca dalam  ikhtiar memahami perilaku sosial manusia. Perspektif Sen coba mengatasi kecenderungan generalitatif yang banyak dilakukan oleh teoretikus sosial. Dengan menjadikannya sebagai pijakan berpikir, kita bisa bersikap lebih adil terhadap seseorang dengan melepaskannya dari kerangkeng identitas yang ada dalam pikiran kita.

Ada banyak gagasan menarik lain yang disampaikan Sen dalam buku ini. Sekalipun saya mengenalnya sebagai ekonom (inilah contoh bahwa saya memberikan dia identitas tunggal!) dia memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk menjelaskan realitas sosial tanpa harus memandang objeknya dari persektif ekonomi.  Tidak heran kalau ia berani memukul telak Samuel Huntington tentang benturan antarperadaban. Lebih dari bersemangat, Sen bahkan berapi-api membantah pendapat Huntington.

Namun begitu, saya mendapati nada bicara tinggi pada bab tiga dan empat buku ini. Ketika ia berbicara tentang benturan antarperadaban, misalnya, antara Islam dengan Barat, ada kecnederungan subjektif yang kuat darinya untuk membela Islam. Demikian pula ketika membahas apakah demokrasi adalah produk Barat atau bukan, Sen punya kencederungan untuk membela Timur: China, India, Jepang. “Nada tinggi” semacam ini pernah saya temukan dalam tulisan Edward Said yang berjudul Orientalisme.

Kecenderungan subjektif itu bisa dimaklumi, sekaligus bisa dijadikan referensi berharga bagaimana harus menyikapi buku ini. Beruntung, “nada tinggi” Sen terselamatkan oleh gaya tuturnya yang renyah dan humoris.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.