Republik Jalan Ketiga, Mencari Alternatif Selain Kapitalisme dan Sosialisme

Selama berabad-abad, kapitalisme dipandang sebagai sistem ekonomi yang paling mungkin. Sistem ini berkembang dari perbudakan, feodalisme, dan terakhir berkembang dalam bentuk imperalisme. Ciri utamanya adalah kekuatan ekonomi dipegang oleh pemilik modal.

Tetapi modal tidak beroperasi sendiri. Maka, pemilik modal harus menemukan mitra operasional. Itulah buruh. Hubungan pemilik modal dan buruh terjalin secara eksploitatif karena dikelola dengan prinsip ekonomi gredy: meraih keuntungan sebanyak mungkin dengan pengorbanan sesedikit mungkin.

Kondisi itulah yang memantik kegelisahan Karl Heinrich Marx, seorang ekonom kelahiran Jerman. Ia kemudian membuat gagasan alternatif menciptkan masyarakat tanpa kelas. Dalam masyarakat seperti itu, diharapkan, ekploitasi antarmanusia tidak terjadi lagi.

Menurut penulis buku Republik Jalan Ketiga, Soesila Toer, ide Marx ini sebenarnya tidak realistis. Utopis.  Dengan sejumlah revisi, ide itu baru tampak realistis ketika Vladimir Ilyich Lenin memimpin revolusi Oktober 1917 di Rusia.

Dia berusaha menerapkan konsep negara sosialis dengan terlebih dahulu membentuk pemerintahan diktator proletariat. Dari sini, Lenin berharap bisa berkembang komunitas negara bersama berbasis komunitas.

Di tangan Lenin, cita-cita tampak on the track. Ia menerapkan prinsip-prinsip pembangunan negara sosialis, antara lain dengan menasionalisasi perusahaan asing dan mengembangkan industri berat.

Tetapi ketika dia meninggal, para penggantinya membuat blunder. Soesilo Toer menyebut, blunder itu dilakukan Mikhael Gorbachev dengan menerapkan pemerintahan terbuka. Kebijakan ini membuat Uni Soviet justru runtuh. Lima belas negara anggotanya satu per satu melepaskan diri.

Mencari Alternatif

Dalam buku ini, Soesilo Toer mengkritik kapitalisme dan sosialisme sekaligus. Kedua sistem ekonomi itu sama-sama memiliki kelemahan mendasar.

Dari kritik itulah ia menawarkan konsep republik jalan ketiga. Republik seperti ini, hematnya, bisa merupakan gabungan antara kapitalisme dan sosialisme pada sisi-sisi tertentu atau membuat sistem yang sama sekali baru.

Namun jalan ketiga ini tidak bisa paksakan dalam setiap situasi. Maka itu, bentuknya harus disesuaikan dengan kondisi, kultur, keyakinan, dan geografis masing-masing negara. Yang tak kalah penting, republik ini harus memiliki pemimpin yang kuat, baik intelektualitas maupun integritasnya.

Pemimpin yang kuat, menurut Soesilo, antara lain ditandai dengan kemampuannya melepas ego pribadi untuk menumpuk kekayaan. Pemimpin seperti ini harus rela “makan sepotong roti sehari” dan hanya mewariskan buku ketika mati nanti.

Pengalaman Penulis

Sebagai orang yang pernah tinggal di Uni Soviet ketika kuliah di Universitas Patrice Lumumba dan Universitas Plekhanov, Soesilo Toer menceritakan pengalaman yang cenderung personal terhadap dinamika Uni Soviet. Ini kondisi yang membuat buku ini agak lain daripada buku kritik kapitalisme lain.

Konon, buku ini memang disarikan dari disertasi yang ditulis Soesilo ketika menyelesaikan program doktor di Plekhanov University. Namun karena tidak bisa mengakses naskah aslinya, ia menuturkan kembali gagasannya sesuai dengan ingatan yang tersisa.

Memang, kalau dibaca saat ini, terasa ada begitu banyak detail yang terlewat. Tetapi, melalui buku ini saya bisa rasakan bahwa penulis adalah pemikir yang hebat. Pada masa itu, ketika Anthony Giddens belum muncul, Soesilo Toer sudah memiliki konsep ekonomi jalan ketiga.

Seandainya dia bernasib baik, tidak ada gonjang-ganjing 1965 dan pergantian kekuasaan di Indonesia, orang seperti Soesilo Toer barangkali akan menjadi ekonom besar. Tetapi rezim baru tak menghendaki orang seperti dia tumbuh. Dia justru “dimatikan” dengan dipenjara tanpa pengadilan.

Soesilo Toer, doktor ekonomi politik dari Institut Plekhanov, justru “terbuang” dari gelanggang. Setelah dipenjara, dia mengelola warung di Jakarta dan Bekasi. Tapi warungnya ke gusur sehingga dia memilih pulang ke Blora. Dia kini mengelola Perpustakaan Pataba sambil berkebun, beternak ayam, juga memulung.

Saya merasakan, buku ini jadi semacam katarsis untuk mengobati kegelisahan penulis. Sebagai warga yang pernah “disia-siakan” negaranya, dia ingin membagikan pengetahuannya. Karena itulah, Soesilo Toer, selain menulis buku ini dalam waktu lima tahun terakhir juga telah menulis belasan buku lain.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *