Realitas Bahasa dan Kepalsuan Cinta

Sebuah survei yang dilakukan Kehneman dan Tversky (dalam Entman, 1993) menunjukkan dengan gamblang bahwa cara orang lain menuturkan sesuatu sangat mempengaruhi cara kita memahami sesuatu itu.

Kreativitas penutur bahasa memungkinkan pendengarnya memahami realitas secara tepat pada satu waktu. Namun pada waktu lain, kreativitas berbahasa juga bisa membuat pemahaman kita terhadap objek tertentu terdistorsi, simplifikatif, hiperbolis, atau bahkan sama sekali berbeda dengan realitas aslinya.

Kedua peneliti itu membuat simulasi dengan pertanyan: jika ada sebuah bencana yang berpotensi menelan 600 korban dalam sebuah kota, opsi penyelamatan mana yang Anda pilih?

Opsi A dapat menyelamatkan 200 orang.
Opsi B mungkin akan menyelematkan semua, namun sekaligus berisiko membuat semua orang tidak terselamatkan.

Dengan frame pertanyaan seperti itu, 72 persen orang memilih opsi A. Hanya 28 persen responden yang memilih opsi B.

Peneliti kemudian menyodorkan pertanyaan yang sama namun dengan bentuk gramatikal berbeda.

Opsi C akan membuat 400 tidak terselamatkan.
Opsi D mungkin 600 orang akan terselematkan namun mungkin pula semua tidak terselamatkan.

Hasilnya: 22 responden memilih opsi C dan 78 orang memilih opsi D.

Jika dicermati, ada inkonsistensi pilihan responden. Sebab, substansinya, opsi C adalah bentuk lain dari opsi A dan opsi D adalah bentuk lain dari opsi B. Format ungkapnya saja yang membuatnya tampak berbeda.

Perbedaan tersebut muncul karena dua strategi, yaitu penonjolan dan penyembunyian. Dengan dua teknik ini, satu hal yang sama bisa dituturkan seolah-olah sebagai sesuatu yang berbeda karena hal yang ditonjolkan (dan disembunyikan) berbeda. Akibatnya, pemahaman seseorang terhadap satu hal yang sama bisa berbeda.

 

Bahasa Gambar Dunia

Kondisi demikian berelevansi dengan picture theory yang pernah digagas Wittgenstein. Dia berhipotesis bahwa bahasa adalah serupa lukisan yang membuat realitas dapat dilukis dalam pikiran manusia. Artinya, realitas yang terlukis dalam pemikiran manusia hanyalah tiruan yang dikonstruksi melalui bahasa. Jenis dan karakteristik lukisan sangat bergantung pada bahan dan cara “pelukis” melukiskannya.

Melalui argumentasi itu, kita bisa ketahui bahwa kemampuan berbahasa seseorang sangat berpengaruh jenis realitas yang dipahami mitra tuturnya. Dengan ketermpilan yang baik, seorang penutur bisa membuat mitra tuturnya memahami realitas dengan sama baik. Atau sebaliknya, penutur bisa membuat mitra tuturnya memahami realitas jadi sesuatu yang lain dan sama sekali berbeda dengan realiast “objektif”-nya.

Sebagai orang yang jarang beraktivitas di laboratorium kimia, saya mungkin akan kesulitan membedakan air mineral dengan alkohol murni. Sebab realitas itu saya pahami sebagai “sama-sama benda cair”.

Dengan penjelasan yang memadai, seorang laboran bisa saja membantu saja sehingga saya bisa memahami keduanya. Tetapi dengan motif lain, bisa saja seorang laboran membuat penjelasan yang membuat saya justru tertukar dan keliru saat memahmi keduanya.

 

Keperluan Marketing

Strategi berbahasa ini lazim digunakan oleh para pedagang, politisi, dan guru.Seorang marketing bank, misalnya, sama-sama menjual produk kredit dengan bunga 12 persen per tahun.

Pekerja marketing cenderung mengatakan bunga pinjaman hanya 1 persen per bulan dan menghindari untuk mengatakan 12 persen per tahun. Angka 1 yang muncul pada kalimat itu membuat bunga kredit tampak ringan. Adapun angka 12 persen terlalu besar. Padahal, kedua angka itu memiliki substansi yang sama.

Di pusat perbelanjaan, stragei ini juga kerap digunakan dengan measang dua label harga. Label harga yang lebih tinggi dicoret dan diganti dengan angka yang lebih rendah. Dengan strategi ini, pengelola ritail berusaha meyakinkan bahwa harga pada sat itu lebih murah dari harga pada hari lainnya. Narasi itu mensugesti pelanggan untuk segera belanja, “mumpung kesempatan masih ada”.

Trik ini terkadang berhasil karena pelanggan tidak selalu membandingkan harga saat itu dengan harga pada waktu lainnya. Toh, bisa jadi, kemarin dan hari ini sebenarnya sama.

Pemanfaatan strategi penonjolan dan pelesapan relatif sederhana jika digunakan untuk membahas hal-hal yang konkret dan mudah dijangkau dengan pancaindera. Mekanisme kebahasan itu akan menjadi rumit jika digunakan untuk membahas hal yang abstrak, seperti pemikiran, perasaan, dan konsep.

Cinta yang Bergelora

Misalnya untuk mengatakan perasaan cinta pemuda kepada gadis pujaan hatinya. Dua pemuda yang sama merasakan cinta yang sama dalamnya kepada gadis yang sama.

Dengan kemampuan berbahasa yang baik, pemuda pertama berhasil menggambarkan kedalaman dan keseriusan cintanya kepada si gadis. Dengan keterampilan berbahasa yang memadai, ia bisa menggambarkan “realitas rasa” yang abstrak di dalam hatinya sehingga si gadis teryakinkan bahwa “cinta” pemuda itu nyata adanya.

Sebaliknya, pemuda yang tidak memiliki kemampuan berbahasa baik cenderung kesulitan mengungkapkan “realitas rasa” dalam dirinya. Ia tidak dapat melukiskan gelora, ketakjuban, rasa kasih yang mendalam yang ada dalam dirinya. Akibatnya, si gadis tidak menganggap gelora dan rasa kasih sayang yang besar dalam diri pemuda kedua ini betul-betul ada.

Inilah kondisi yang sempat membuat saya berhipotesis: kemampuan berbahasa sangat berperan dalam menunjang “karier asmara” seseorang.

Tetapi kondisi demikian juga perlu diwaspadai oleh para gadis. Sebab, bisa jadi, pemuda pertama sebenarnya tidak sungguh-sungguh mencintainya, tetapi hanya membuat “realaitas semu” melalui kata-kata. Dengan kemampuan berbahasa yang canggih, sesuatu yang “tidak ada” bisa hadir seolah-olah ada. Sebaliknya, yang “ada” justru bisa diolah menjadi tampak “tidak ad”a.

Dalam kasus itu, bahasa bisa menjadi sarana lahirnya kepalsuan cinta. Sesuatu yang berbahaya.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Pustaka:
Entman, Robert M. 1993. Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm. Journal of Communication 43(4), Autumn. 0021-9916/93. Hlm. 51-58

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.